Suatu hari saya terpesona memandangi novel-novel baru yang terpajang di rak buku milik toko buku "Gramedia" Palu. Di jejeran itu terdapat beberapa novel yang pernah saya lihat sekilas di aplikasi Wattpad.

Adalah "Haifa" judul novel yang menarik perhatian saya itu. Covernya memuat senja mengantar sekawanan merpati putih pulang ke sarang mereka.

Pemandangannya sengaja dibuat agak kartun, dan memang lebih bagus seperti itu. Tampilan gunung biru berkabut menjulang tinggi, serasi dengan pancaran bayangannya di permukaan air laut.

Senja di cover yang elok dipandang mata itu lebih sempurna jika dibarengi dengan menjejali kisah Haifa Saqeenarava bersama Akbar Arvinio Rajendra. Kisah yang indah di balik syiar Islam, disisipi dengan petikan-petikan ayat Alquran dan Hadis Nabi.

Kata "Senja" mengingatkan saya akan beberapa buku kumpulan puisi yang bertemakan "senja". Ada juga sebuah acara di komunitas menulis yang kegiatannya diberi judul "Membukukan Senja". 

Delapan tahun yang lalu, seorang sahabat karib hampir saja menulis sebuah novel yang bakal diberi judul "Senja di Kaki Bukit". Tak tahu mengapa lantas urung, dan akhirnya menulis sebuah novel yang lain, lalu diberi judul yang lain pula.

Mengapa Senja?

Ya, karena senja itu memberi inspirasi. Paling tidak, awal yang mudah untuk menuliskan sebuah cerita, mulailah dengan senja. Di saat itu, ada rasa kegembiraan kolektif bahwa terik mulai ramah, ia tak lagi memanasi kulit. Di sana tiupan angin membelai rambut dengan lembut.

Warna jingga di langit, perlambangan semangat untuk menjalani hidup. Kita lihat orang-orang pada berjalan atau berlari atau bersepeda di alun-alun, dan di pinggir pantai. Tak ada kekhususan, senja memancarkan kegembiraan lintas batas.

Berangkat dari pengalaman saya pribadi. Suatu senja saya di \ajak sepupu menikmati pisang epe di cafe-cafe pinggir pantai, di Kota Palopo Sulawesi Selatan. Suatu kali, saya menyaksikan senja dari ketinggian melalui jendela pesawat, beberapa saat sebelum mendarat di bandara Soekarno-Hatta.

Kali lain, saya menikmati senja di "Bukit Inspirasi" yang ada di Kota Luwuk-Banggai. Ketika itu mentari membelakangi gunung, jingga langit siap meninggalkan kota yang mirip "Hongkong di Waktu Malam" itu. Tak kalah indahnya, senja menarik sejumlah pasangan muda-mudi untuk naik ke "Bukit Teletubies", di samping Kantor POLDA Sulteng yang baru.

Senja mengantarkan tawa riang anak-anak berlarian usai les mengaji. Di sudut yang lain, klub sepak bola lokal mengarak piala bergilir sepanjang jalan di atas bak Dump Truk, usai memenangkan babak final.

Senja membikin ratusan mahasiswa di Kota Palu bersujud syukur di persimpangan jalan Samratulangi, pada aksi peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia, 9 Desember 2010 silam. Saat itu, 47 orang massa aksi yang merupakan kawan mereka dibebaskan dari penangkapan, lima jam setelah pecahnya aksi menjadi chaos.

Namun, senja tak selamanya memikat. Bencana alam berupa gempa tektonik 7.4 Skala Richter—disertai tsunami, dan likuifaksi—yang melanda dataran Palu, Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong (PADAGIMO) pada Jumat, 28 september 2018 silam, yang menakutkan itu, terjadi di ujung senja.  

Baca Juga: Pejalan Senja

Di kampung, orang tua melarang anak-anaknya bermain di waktu senja (magrib), harus segera pulang ke rumah. Kalau tidak, akan menjadi incaran setan. Sebab setan dari bangsa jin, iblis (bahkan mungkin manusia), mulai berkeliaran dari senja hingga malam hari. 

Memang ada sebuah hadis yang menerangkan demikian:

“Ketika malam turun, dekatkanlah anak-anak kalian kepadamu, karena waktu itu syaithan berkeliaran, sejam kemudian kalian dapat melepaskan mereka. Dan tutuplah pintu-pintu rumahmu dan sebutlah nama Allah. Padamkanlah lampu dan sebutlah nama Allah. Tutuplah minumanmu dan sebutlah nama Allah. Tutuplah juga bejanamu dan sebutlah nama Allah. Sekalipun hanya dengan meletakkan sesuatu di atasnya.” (HR. Bukhari).

Maka tak heran jika ada seruan, semisal, "Cepat pulang, sudah magrib, nanti ada genderuwo!"

Di perkotaan, mitos setan, jin, iblis, genderuwo dan semacamanya tidak laku di kalangan masyarakat. Yang ada, senja mengajak kita menyaksikan betapa ramainya jalanan dipadati oleh orang-orang yang pulang kerja. Bunyi klakson dan bising auman kendaraan turut meramaikan kota.

Itulah senja, di dalamnya ramai pernak-pernik peristiwa. Suasana yang pas untuk meraup lebih banyak ide untuk menuliskan sebuah karya sastra. Senja menghadirkan beragam perasaan senang, sedih, duka, bahagia, penat, bersemangat, dan lain-lain. Olehnya, memang tak heran kalau kesadaran kita, secara strukturalis, langsung mengarah ke senja saat ingin menuliskan inspirasi.

Dalam agama Islam, senja atau yang sering disebut dengan magrib—yang berarti mentari di ambang terbenam di belahan bumi bagian barat—menjadi salah satu waktu yang wajib untuk membawa diri menghadap ilahi—salat magrib.

Bagi umat beragama, khususnya Islam, senja menandakan kekuasaan Tuhan, yang memperedarkan mentari dari terbit hingga terbenam. Keindahan senja yang memancarkan cahaya jingga mesti disambut dengan suatu ritual penghormatan. Ketakjuban kita semestinya diabdikan kepada Tuhan yang menggerakkan alam ini.

Entahlah, apakah senja menjadi berarti bagi setiap orang? Pasalnya, di sudut-sudut jalan, di bawah lampu lalu lintas, di emperan toko-toko, di trotoar-trotoar, masih banyak ibu-ibu menimang anaknya yang masih kecil, tak beranjak meski senja hendak pergi. Dari senja kini hingga ke senja-senja berikutnya, mereka tetap saja di sana.

Mereka itu, jangankan memikirkan ibadah di waktu senja, memikirkan bagaimana cara mendapatkan makanan dari senja ke senja saja sulit.