Seorang peserta Indonesian Idol yang bersuara buruk diberitahu juri bahwa ia tidak lolos ke babak berikut. Wajahnya terlihat marah. Jelas ia tak bisa terima kenyataan dan menganggap bahwa juri melakukan kesalahan. Kejadian seperti itu kerap berulang. Kita bisa menemukannya dengan mudah dalam babak penyisihan  X-Factor serta American Idol.  

Adapun mereka yang bersuara emas banyak yang  terkaget-kaget ketika diberitahu bahwa mereka lolos ke tahap berikutnya. Tak sedikit yang sedemikian bahagianya sampai menangis termasuk laki-laki, mahkluk yang biasanya berpendapat bahwa air mata identik dengan hati yang lemah.

Kenapa bisa begitu? Untuk menjawabnya, marilah kita berjalan sejenak ke tahun 1995.

Seorang pria dengan tinggi 167 cm dan  badan seberat 122 kg di siang bolong membobol 2 bank. Polisi di Pittsburg, tempat perampokan itu berlangsung, dengan mudah menangkap pelakunya yaitu McArthur Wheeler. Postur tubuh Wheeler cukup besar dan  ia tidak mengenakan topeng. Wajahnya terlihat di kamera sekuriti atau CCTV. Dia juga terekam dengan jelas ketika sedang  mengarahkan senapan kepada teller.

Ketika ditangkap, Wheeler tampak kaget,”Eh, saya tuh pakai juice, loh,”katanya. Sebelum beraksi ternyata ia mengoleskan juice jeruk ke wajahnya karena juice jeruk secara saintifik terbukti bisa berfungsi sebagai tinta yang tidak kelihatan (invisible ink). Jadi, Wheeler percaya bahwa setelah diolesi juice itu, wajahnya pasti tak tertangkap CCTV.

Wheeler akhirnya masuk penjara dan ia menyandang status tak resmi sebagai penjahat  paling bodoh yang pernah lahir di dunia. Hal ini menarik perhatian professor psikologi di Cornell University, Daniel Dunning, yang lalu mengajak Krueger untuk melakukan riset bersama.  

***

Lihatlah gambar yang ada. A baru saja belajar fotografi. Ia merasa  memiliki pengetahuan tentang fotografi sebanyak 90%. Ia pikir pengetahuan tentang fotografi yang ada di dunia jumlahnya sedikit. Jadi,menurutnya  ia defisit ilmu sebanyak 10%. Ini berbeda dari B. Fotografer senior ini merasa memiliki 70% pengetahuan tentang fotografi. Dengan demikian, ia mengalami defisit ilmu sebanyak 30%.

Masalah terbesar orang bodoh yang menganggap dirinya cerdas adalah mereka tak tahu betapa banyaknya hal yang mereka tak tahu.

Dalam eksperimen Dunning-Krueger, mahasiswa diminta untuk menyelesaikan tes untuk menilai kemampuan mereka di bidang logika, tata bahasa, dan humor. Setelah mengerjakan tes itu, mereka diminta untuk menilai tingkat kompetensi mereka sendiri di area yang diuji.  Hasilnya, seperempat mahasiswa dengan kinerja terburuk mengira bahwa pencapaian mereka ada di angka yang tinggi  

Dunning-Krueger menunjukkan bahwa ada jurang antara level pengetahuan yang dimiliki orang bodoh dan level pengetahuan yang perlu mereka miliki agar mereka bisa paham bahwa mereka bodoh. Nah,  jurang  itu terlalu lebar sehingga mereka sulit mengetahui apa yang sebaiknya mereka ketahui. Jadi,  mereka  kesulitan mengenali serta menilai kemampuan mereka dan jadi overestimate.

Hal menarik lain dari riset ini adalah bahwa mereka yang cerdas justru sebaliknya:Mereka menilai kemampuan mereka lebih rendah dari yang sebenarnya. Hal ini terjadi karena mereka merasa tesnya gampang dan yakin bahwa yang lain pun bisa dengan mudah mengerjakannya. Jadi, mereka bukan orang istimewa. Padahal, peringkat mereka 5% teratas di tes itu.

Efek dari riset Dunning-Krueger ini tidak main-main. Urusan underestimate dan overestimate ini punya implikasi serius. Contohnya, di Indonesia orang yang tak paham politik banyak yang mendaftar jadi calon anggota legislatif atau ikut pemilihan kepala daerah.

Di Perancis, pemerintahnya pernah menggunakan U$S15 miliar untuk membeli armada kereta api dan setelah itu barulah mereka tahu bahwa kereta itu terlalu lebar sehingga tak bisa melewati rel yang melintas di depan 150 stasiun.

Dalam studinya yang lain, Dunning menunjukkan bahwa perempuan yang menilai kemampuan saintifiknya lebih rendah daripada laki-laki, padahal sesungguuhnya level mereka mirip sekali, bersikeras tak mau ikut kompetisi sains.

Lalu, cara menghindari diri dari jebakan overestimate dan underestimate ini bagaimana?  Dunning mengatakan bahwa caranya adalah dengan terus belajar, menghindari dogma, belajar tentang metakognisi (berpikir tentang berpikir), dan rajin melakukan atau membaca riset. 

Adapun salah satu cara terbaik adalah mengusahakan agar  ada orang yang paham bidang terkait memberi feedback atau umpan-balik yang berkualitas. 

Misalnya, ada orang yang merasa cukup punya ilmu tentang daur-ulang sampah padahal sebenarnya pengetahuannya di bidang itu termasuk minim. Jika sok tahunya dibiarkan, hasilnya bisa buruk karena bisa saja ia lantas melakukan daur ulang  sembarangan yang akhirnya malah membuat sampah jadi semakin banyak. Mesti ada ahli yang mengajak dia ngobrol lalu memberi masukan.

 Nah, jika tak ada feedback, bagimana?

Ya logikanya pasti  jadi hancur-hancuran, begitu bukan?