Sungguh miris melihat kelakuan orang-orang yang  selama ini mengklaim membela Islam. Mereka adalah kelompok yang paling gencar menciptakan dan menebar fitnah, khususnya di media sosial. Mereka tentu tahu ayat Qur'an yang sangat populer yang melarang kaum Muslim agar jangan melakukan fitnah. Alfitnatu asyaddu min al-qatl (fitnah lebih kejam dari pembunuhan), begitu ayat itu berbunyi.

Tapi, mengapa mereka masih terus membuat dan menyebarkan fitnah-fitnah keji? Bukan hanya kepada non-Muslim, mereka melakukan fitnah-fitnahnya kepada sesama Muslim. Pokoknya orang atau kelompok yang mereka tidak suka atau tidak sejalan dengan keyakinan mereka adalah obyek yang umumnya terkena fitnah mereka.

Hari-hari ini, fitnah yang maha-dahsyat mereka buat tentang Ahok. Macam-macam fitnah yang mereka buat, dari mengatakan Ahok menenggak minuman keras bermerek Equil (yang jelas-jelas merek air mineral) hingga menyebarluaskan foto Ahok yang tidak melepas alas kakinya dalam sebuah kunjungan/ziarah ke sebuah makam.

Kasus terakhir itu terkait pengakuan Ahok bahwa dia berziarah ke makam ibu angkatnya dengan melepas alas kaki, sebagai tanda penghormatan. Ada banyak foto dan video yang tersebar tentang kunjungan ziarah ini. Di situ tampak jelas bahwa Ahok dan saudara-saudara angkatnya tidak mengenakan alas kaki.

Jelas, yang disebarkan oleh para tukang fitnah itu adalah foto lain dalam kesempatan lain. Ahok bukan hanya sekali berziarah ke makam dan bukan hanya ke makam orang tua angkatnya. Dia sudah berziarah ke ratusan makam dalam berbagai kesempatan. Ada yang memakai alas kaki ada yang tidak.

Fitnah Sebagai Latihan Membunuh

Lalu, mengapa para "Pembela Islam" itu senang betul membuat dan menyebarkan fitnah? Jawabannya beragam. Mungkin ada yang melakukan itu karena kebencian semata, mungkin juga ada yang karena dibayar oleh seseorang. Ada juga yang melakukan hal itu karena bagian dari "jihad" atau perjuangan melawan musuh.

Lho, kok jihad dengan cara-cara yang tak terpuji? Kok jihad dengan cara-cara keji seperti itu? Bukankah mereka meyakini fitnah lebih kejam dari pembunuhan? Bukankah Allah melarangnya?

Ah, itu kan kaum Muslim yang berakhlak. Itu kan kaum Muslim yang baik. Kaum Muslim yang berakhlak seperti Rasulullah tak mungkin tega menyebar fitnah. Mereka takut mendapatkan dosa yang lebih besar daripada dosa pembunuhan.

Tapi, orang-orang yang biasa memfitnah itu, para "pembela Islam" itu kan menganggap pembunuhan sebagai sesuatu yang biasa. Mereka malah bangga tuh jika ada teroris yang melakukan pemboman. Mereka malah menyebar foto-foto teroris sebagai mujahid. 

Jangan lupa, mereka juga ikut-ikutan teriak "Bunuh Ahok" atau "Gantung Ahok" ketika demo yang berjilid-jilid itu. Kalau pun tidak ikut teriak, mereka diam-diam setuju dengan teriakan-teriakan keji itu. Bagi mereka, melakukan pembunuhan adalah sesuatu yang wajar, apalagi terhadapa orang yang mereka anggap musuh.

Jadi, jangan heran kalau produksi fitnah akan terus membanjiri hari-hari kita, akan membajiri media sosial kita. Para pemfitnah itu tidak merasa berdosa, karena mereka merasa apa yang mereka lakukan adalah bagian dari perjuangan, bagian dari jihad, sama seperti membunuh atau mengebom.

Buat mereka, fitnah bukannya lebih kejam dari pembunuhan. Tapi, fitnah adalah latihan-latihan pendahuluan untuk pembunuhan. Semacam makanan pembuka (appetizer) bagi makanan utama (maincourse). Fitnah adalah jihad kecil untuk menuju jihad yang lebih besar.