Saya termasuk orang yang prihatin dengan merebaknya isu kebangkitan PKI dan ajarannya. Seolah-olah komunisme itu sebuah ajaran yang menakutkan, ajaran yang bertentangan dengan Pancasila. Apakah karena PKI pernah menggorok leher para jenderal sehingga ajarannya dianggap terlarang? 

Karena begitu takutnya dengan ajaran komunis, diskusi dan bedah buku pun dilarang. Padahal forum ilmiah perlu dilakukan bukan hanya di kampus-kampus. Ilmu bukan milik anak kampus beserta penghuninya saja. 

Di negeri-negeri di mana Islam pernah berkuasa, mereka dengan leluasa belajar Islam. Tanpa larangan, meskipun fakta sejarah mereka pernah memiliki hubungan buruk dengan Islam. Bagi mereka, mempelajari semua ajaran bukan berarti mengikuti ajaran tersebut.

Ilmuwan Islam dahulu juga rajin membaca buku-buku Yunani. Mereka berinteraksi dengan semua ajaran maupun isme yang sudah ada. Mereka terbuka dengan perbedaan sudut pandang.

Sementara Indonesia hari ini ketakutan berlebihan pada komunisme. Ajaran komunis memang dianggap musuh negara sejak Orde Baru . Kebencian terhadap komunis dijadikan warisan, bahkan dilarang mempelajarinya. 

Bagaimana kita ingin menjadi bangsa yang maju, peradaban tinggi, apabila alergi dengan komunisme? Harusnya kajian komunisme menjadi agenda BPIP. Pola doktrinisasi melalui pencerahan hendaknya dimulai dengan mengenalkan ideologi yang dianggap berlawanan.

Sulitnya membedakan antara PKI dan komunisme merupakan bukti bangsa ini kurang literasinya. Bagaimana meningkatkan kemampuan literasi jika diskusi dan bedah buku dianggap kegiatan terlarang? Lama-lama bangsa ini menjadi negara otoriter, dan buruklah citra Pancasila.

Pelarangan atas nama beda pemahaman harusnya tak perlu terjadi. Jangan-jangan kita masih Orde Baru; kalaupun tidak secara fisik, namun secara pemikiran masih. Bukankah orde baru tidak membuka ruang dialektika, terjadi dominasi pemahaman, di luar pemahaman pemerintah berarti salah?

Negeri dengan peradaban tinggi selalu terbuka dengan keragaman, termasuk keragaman isme. Ruang dialog dan kajian ilmiah ditradisikan bukan malah dilarang-larang. Komunisme tidak pernah bersalah pada negeri ini, ia pemahaman yang asyik didiskusikan.

Kesalahan PKI dalam memahami situasi politik nasional berakibat sial pada nasib mereka. Kesalahan mereka (PKI) bukanlah kesalahan komunisme. Lalu mengapa komunisme yang dihukum? Toh kesalahan PKI masih boleh didebatkan.

Karenanya, tidak ada alasan kuat dan logis melarang penulisan buku beraroma komunisme. Buku-buku sejarah yang mendukung PKI sebaiknya diperbanyak. Dengan demikian, perbandingan dapat dilakukan.

Sekarang bayangkan bila salah satu parpol berideologi Pancasila melakukan usaha kudeta. Apakah Pancasila bakal disalahkan, lalu diharamkan mempelajari Pancasila? Apabila suatu hari nanti ada partai berbasis Islam yang menggorok leher para jenderal, apakah ajaran Islam akan diharamkan?

Komunisme dan Pancasila pernah bersama. Setidaknya terekam dari sejarah PKI yang menjadi kontestan pemilu (1955) dengan meraih 16% suara parlemen. Babak sejarah selanjutnya kita tahu, konstelasi politik terjadi, PKI dinyatakan sebagai partai terlarang.

Tidak hanya PKI, komunisme kemudian dilarang. Selama Orde Baru, isme ini digambarkan sebagai isme yang mengerikan. Orde berganti, sayang wataknya tak jauh beda. Kebebasan berilmiah masih belum didapati warganya.

Harusnya pemerintah menjadi sponsor utama mempelajari sejarah bangsa. Hal-hal yang sifatnya subjektif dilakukan penelitian. Kebebasan berdiskusi dengan tema apa pun difasilitasi negara. Tak terkecuali diskusi komunisme.

Barangkali negara tidak mampu memberi argumen mengapa komunisme bertentangan dengan Pancasila. Melarang kegiatan intelektual merupakan buktinya. Pelarangan dianggap solusi kekurangan argumen pertanyaan, mengapa komunisme bertentangan dengan Pancasila.

Padahal, salah satu tokoh pemikir konsep Pancasila, Soekarno, tidak melarang komunisme. Jika hari ini ada yang menyatakan dirinya Pancasilais namun menolak komunis, apakah berarti ia lebih paham Pancasila ketimbang Soekarno?

Selain tragedi 1965, komunisme disebut-sebut sebagai ideologi yang cenderung meniadakan Tuhan (ateis). Sebab itulah kemudian ajaran ini dianggap berseberangan dengan Pancasila. Alasan teologis ini sukses tertanam di dalam pikiran kebanyakan kita, terutama bagi fanatis agama. 

Komunisme sendiri merupakan paham sosial-politik dan ekonomi. Ideologi yang bersandar pada manifesto politik yang dikembangkan oleh Karl Marx dan Friedrich Engles itu ialah bentuk koreksi dari sistem kapitalisme yang berekspansi masif di dunia sekitar abad 19.

Sebagai koreksi atas kapitalisme, komunisme seharusnya berhak hidup bersama kapitalisme di bawah Pancasila. Toh pada dasarnya komunis bukan koreksi atas agama apalagi Tuhan. Lagian mereka yang ateis bukan berarti komunis; mereka yang beriman pada kapitalisme juga banyak yang ateis.

Gesekan ideologi pada dasarnya dilatar belakangi dialektika ekonomi dan sosial. Bukan soal Tuhan ada atau tidak, bukan pula menyoal Tuhan pernah ada kemudian mati. Itulah mengapa penting forum-forum ilmiah diadakan. 

Melalui kegiatan itu, salah paham soal komunisme dapat dijernihkan. Dan kemudian gagasan komunisme tidak bisa diterapkan di Indonesia, itu lain cerita. Setidaknya dialektika antargagasan terjadi, dan biasanya akan melahirkan pengetahuan bahkan menemukan kebenaran.

Tidak ada rumus yang menyatakan peradaban lahir dari sebuah pelarangan dialog. Melarang mempelajari sesuatu karena bertentangan dengan segelintir elite negara. Negara yang begini tidak pantas disebut sebagai negara demokratis. 

Ibarat makanan di atas meja, meski ada komunisme, kapitalisme, khilafah, atau apa pun yang lain, pada akhirnya rakyat Indonesia akan memilih Pancasila. Tapi mereka boleh dong mencicipi 'makanan' yang ada di atas meja itu. Kenapa Pancasila tidak percaya diri? Apakah karena elitenya banyak yang korupsi sehingga tidak mampu menjelaskan Pancasila?

Saya kira, tidak ada alasan logis maupun teologis yang kuat untuk melarang komunisme di Indonesia, apalagi jika hanya seminar maupun diskusi akademis. Belajar komunisme bukan berarti penganut komunis, seperti Christian Snouck Hurgronje yang belajar Islam ke Makkah. Belajar komunisme justru mengetahui kelemahan paham itu.

Jadi kenapa komunisme dilarang?