Catcalling sudah menjadi kata yang tidak asing di telinga kita. Berbagai pergerakan feminisme begitu aktif membuat perempuan-perempuan percaya bahwa catcalling merupakan pelecehan seksual di jalanan (street harassment) yang dapat disamakan dengan sentuhan pada tubuh tanpa izin dan bahkan pemerkosaan. Namun benarkah demikian?

Catcalling didefinisikan sebagai teriakan, sahutan atau siulan yang dilakukan kepada orang tak dikenal dengan kata-kata yang mengandung unsur seksual atau ketertarikan agar si pelaku mendapatkan perhatian. Chhun (2011) mengidentifikasikan catcalling sebagai:

“Penggunaan kata kasar, ekspresi verbal dan ekspresi non-verbal yang mengambil tempat di area publik seperti di jalan, trotoar, dan perhentian bus. Ekspresi verbal dalam catcalling cenderung melibatkan siulan atau komentar mengenai penampilan seorang wanita. Ekpresi non-verbal termasuk lirikan atau gestur fisik yang bertindak untuk menilai penampilan seorang wanita.” 

Banyak perempuan mengamini catcalling sebagai bentuk pelecehan seksual, tetapi bahasan ilmiah mengenai perilaku catcalling itu sendiri dan reaksi para perempuan sangatlah minim dan hanya berbatas pada berbagai eksperimen sosial, survei serta penelitian kuantitatif lainnya. Sampai hari ini tidak ada tolok ukur tetap tentang perilaku seperti apa yang dapat diterima sebagai catcalling, apakah mengerlingkan matamu pada orang asing yang kamu anggap menarik juga bisa dikategorikan catcalling atau tidak.

Menyadari bahwa menemukan tolok ukur catcalling sangatlah penting dan diperlukan penelitian kualitatif. Pada tahun 2016, seorang mahasiswa asal Illinois State University bernama Coleen O’Leary menulis tesis dengan judul Catcalling as a "Double Edged Sword": Midwestern Women, Their Experiences, and the Implications of Men's Catcalling Behaviors

Dalam tesisnya, O’Leary berargumen bahwa ia setuju jika catcalling dapat membuat perempuan merasa resah dan diobjektifikasi, namun ada hal yang membedakan catcalling dengan street harassment pada umumnya. Jika pelecehan seksual jalanan pada umumnya mengganggu privasi individu dengan cara membatasi gerak si korban, atau menyentuh tubuh korban tanpa izin, maka catcalling jarang sekali melibatkan hal yang dapat membahayakan fisik. 

Catcall dapat dilakukan dari dalam mobil, dari lantai dua sebuah bangunan, atau dari balik pagar (2016:33). Dengan demikian, sangat mustahil bagi negara seperti Amerika Serikat untuk membuat peraturan mengenai catcalling ini karena menyangkut Amandemen Pertama dan hak atas kebebasan berpendapat.

Selain itu, O’Leary juga menulis tentang betapa beragam reaksi perempuan ketika di-catcall. Faktor kontekstual seperti penampilan dan level ancaman memengaruhi persepsi wanita terhadap pelecehan oleh orang asing. Mengutip Fairchild (2010), ia menemukan bahwa pelaku dengan penampilan yang menarik akan dipandang tidak begitu mengancam jika dibandingkan dengan pelaku dengan penampilan yang tidak menarik (2016:43).

Ada pula perempuan yang memang benar-benar menikmati catcalling. Salah satu artikel mengenai perempuan yang menikmati catcall pernah ditulis oleh Paris Lees melalui Vice. 

Pada artikel dengan judul I Love Wolf Whistles and Catcalls; Am I a Bad Feminist?, Paris menulis, “Saya seorang feminis karena saya tidak suka pria memberitahu saya apa yang harus saya lakukan, dan saya juga tidak suka jika wanita melakukan hal yang sama.” 

Paris juga menulis bahwa ia menikmati catcall dan suka dianggap sebagai objek seksual. Ia berpendapat bahwa menikmati catcall tidak menjadikanmu seseorang yang buruk.

Dalam perspektif liberal yang menjunjung tinggi kebebasan berpendapat, tentu sangat susah jika catcall yang tidak memiliki tolok ukur yang jelas dikategorikan pelecehan seksual, apalagi liberalisme sangat menjunjung tinggi kebebasan individu. Catcall tidak mengganggu ruang privasi seseorang.

Pemerintah juga seharusnya tidak berhak membatasi penggunaan mulut seseorang, termasuk mengomentari bentuk tubuh atau wajah seseorang yang sering disebut bodyshaming. Beda hal jika seseorang menghadangmu di jalan dan menyentuhmu tanpa izin, maka negara haruslah hadir sebagai otoritas yang melindungi hak-hak individu ini. 

Pergerakan feminis sendiri juga sering mengadvokasikan gagasan tentang liberalisme dan kebebasan individu ini lewat slogan seperti “tubuhku otoritasku!” dan menginginkan perempuan untuk berekspresi sebebasnya, berpakaian sebagaimana yang ia mau, namun sering kali tidak mengakui otoritas orang lain, dalam hal ini terutama pria yang cenderung dijadikan musuh dan objek kebencian.

Jika ingin mendukung gagasan otoritas tubuh, seharusnya jangan setengah-setengah. Sangat tidak adil rasanya jika para pria diharuskan mengakui otoritas tubuh perempuan yang ingin merdeka, namun otoritas pria itu sendiri dibatasi. Ia tidak boleh mengomentari tubuhmu, tidak boleh mengerlingkan matanya padamu, dan tidak boleh menyapamu.

Kesimpulannya, catcalling itu sangat subjektif dan tidak ada konsensus yang menjadikan aktivitas catcalling sungguh ada. Karena itulah O’Leary menyimpulkan catcalling bagai pedang bermata dua, sebab ada perempuan yang membencinya namun ada juga yang menikmatinya dan meskipun lebih banyak yang membenci.

Aktivitas catcall itu sendiri cenderung tidak mengganggu otonomi orang lain. Sama seperti ujaran kebencian, penistaan agama, dan bentuk-bentuk offensive speech lainnya. Manusia pada dasarnya tidak punya hak untuk merasa tersinggung karena tersinggung itu subjektif. Karena itulah rasa tersinggung tidak patut dihukum, dan kalaupun ada hukum yang menjadikan ujaran yang menyinggung sebagai tidak kriminal maka hal tersebut tidak boleh lepas dari kritikan.

Saya sendiri dalam kehidupan pribadi tidak mengenal istilah catcalling ataupun bodyshaming. Jika disapa orang asing, saya cenderung mengacuhkan. Bagi saya, manusia adalah makhluk rasional yang jika ada ujaran kebencian ia memiliki pilihan untuk mengikuti ujaran itu atau tidak, dan jika ia melakukan hal yang melanggar hak orang lain maka itu bukanlah salah sang pengujar, namun sang pelaku itu sendiri. 

Hak manusia juga tidak absolut karena dibatasi properti pribadi orang lain yang membuat peraturan-peraturan tertentu dan dapat membatasi perilaku kita, misalnya tempat kerja, sekolah swasta bahkan mobil ataupun rumah di mana sang pemilik memiliki otoritas penuh terhadap properti yang ia miliki. Tulisan ini tentu tidak mewakili perasaan semua perempuan yang ada di dunia, namun begitu pula dengan feminisme.