Jika Anda bepergian jauh dengan kendaraan pribadi Anda dan Anda mengharapkan adanya kebocoran, Anda setidaknya dapat memeriksa kesiapan roda cadangan dan perangkat tambahan seperti kunci ban dan dongkrak. Dengan berimajinasi, kita dapat lebih mempersiapkan diri untuk menghadapi situasi.

Seandainya kita mengantisipasi sebuah bad outcome yang tidak ada solusinya, kita masih bisa memikirkan, "Apa seburuk buruknya akibatnya jika hal ini terjadi? Benarkah ini sebuah bencana, atau kalau dipikir-pikir sebenarnya gak se-bencana itu? Apakah ada orang lain yang pernah mengalaminya juga dan pada akhirnya tidak seburuk yang dibayangkan?", atau "What's the worst that could happen?"

Misalnya, seorang laki-laki single sedang bersiap-siap untuk menyatakan cinta pada seorang gadis yang beruntung (atau tidak). Bayangkan laki-laki ini melakukan premeditatio malorum.

Yang pertama, menyadari bahwa respon si gadis sepenuhnya di luar kendali sang laki-laki. Kemudian, apa situasi terburuk yang mungkin terjadi dan hampir tidak ada solusinya? Ditolak mentah-mentah kah? Maka, sang laki-laki dapat memikirkan apakah ditolak sang gadis adalah bencana absolut, akhir dari dunia dan seluruh isinya, atau tidak.

Jika dia rasional, maka seharusnya penolakan sang pujaan hati dapat dilihat sebagai bukan bencana dunia. Yang kedua, sang laki-laki dapat melihat penolakan ini sebagai kejelasan (lebih baik dari friendzone), sehingga dia bisa terbebas dan dapat membuka hati kepada yang lain.

Di sebagian besar situasi yang bisa kita bayangkan, hampir semua kemungkinan terburuknya sebenarnya tidak "sebegitunya", dan apabila dipikirkan dengan baik-baik, bukanlah akhir segala-galanya dalam hidup.

Selain itu, pikirkan apakah skenario terburuk ini pernah menimpa jutaan orang lain di berbagai masa? Hampir seluruh kejadian buruk yang dapat kita bayangkan sudah pernah menimpa orang lain dan kita dapat melihat apakah orang-orang lain yang akhirnya mengalami hal yang kita khawatirkan benar-benar hancur atau mereka bisa melaluinya. Life goes on. Termasuk ditolak pujaan hati.

Lagi pula, kecuali semua hal buruk yang bisa dibayangkan terjadi, kita akan lebih bahagia menghabiskan hari itu. Ironisnya, pikiran negatif bisa membuat seseorang lebih bahagia.

Premeditatio malorum dapat diteruskan sampai pada musibah-musibah "besar", misalnya membayangkan kita tertimpa musibah bencana alam, kecelakaan sampai cedera besar, bahkan sampai cacat, dilanda peperangan, dan lain-lain. Prinsipnya sama dengan di atas, kita melatih diri membayangkan jika kita berada di situasi-situasi tersebut sehingga bisa mengantisipasinya dan tidak bisa benar-benar "kaget" jika akhirnya memang terjadi.

Apakah premeditatio malorum sebuah kontradiksi dengan pendapat Seneca yang mengatakan kita sering menyiksa diri dengan pikiran-pikiran negatif yang tidak perlu? Tidak sama sekali. Ada perbedaan antara pikiran-pikiran negatif yang dibahas oleh Seneca dengan premeditatio malorum.

Yang pertama, premeditatio malorum diawali dengan kesadaran dikotomi kendali. Kita diajarkan bahwa hal-hal eksternal yang tidak di bawah kendali kita adalah indifferent, tidak berpengaruh pada baik tidaknya hidup kita. Ini berbeda dengan pikiran negatif yang menyiksa karena kita memberikan penilaian/value judgment terhadap hal-hal eksternal.

Sebaliknya, kita seharusnya lebih khawatir terhadap hal-hal di bawah kendali kita: pikiran kita, sikap kita, perkataan kita, dan tindakan kita-karena inilah yang menentukan "baik buruknya hidup kita. Seperti situasi yang dialami Admiral Stockdale.

Bagi seorang prajurit, tertangkap musuh adalah hal eksternal, tidak di bawah kendali kita, dan bersifat indifferent. Yang harus dia khawatirkan adalah menjaga semangat, moril, dan perkataannya saat dia benar-benar tertangkap dan ditawan musuh.

Perbedaan kedua dari premeditatio malorum dengan kekhawatiran yang tidak perlu adalah premeditatio malorum berada sepenuhnya dalam kendali kita.

Kita sendiri yang memutuskan untuk mensimulasi berbagai hal negatif, di waktu yang kita tentukan, misalnya pagi hari sebelum memulai aktivitas. Kitalah yang menginisiasinya dengan tujuan menyiapkan solusi atau mengurangi emosi negatif jika ternyata kejadian buruk benar-benar terjadi.

Premeditatio Malorum diawali dengan dikotomi kendali, dan diakhiri dengan kesimpulan "apa yang bisa saya lakukan untuk mengurangi dampak kejadian negatif ini jika memang terjadi?

Jika tidak ada solusinya, apakah saya benar-benar tersakiti?" (apalagi mengingat prinsip bahwa semua yang di luar kendali kita adalah indifferent, tidak berpengaruh pada kebahagiaan kita).

Sementara itu, kecemasan yang tidak perlu tidak berujung apa-apa, muncul sendiri tanpa kendali, dan hanya menyiksa kita tanpa ada solusi. Perbedaan lain yang paling mendasar juga adalah kecemasan bersifat emosional, sementara premeditatio malorum datang dari nalar dan kepala dingin.

Banyak sekali cara untuk mengantisipasi atau meredakan rasa cemas yang mungkin berlebihan. Premeditation malorum hanya satu dari sekian banyak cara untuk mengatasi kecemasan. Tetapi cara ini bisa menjadi alternatif bagi orang yang memiliki kecemasan berlebihan. Berusaha untuk bersikap tenang saat kecemasan datang adalah kunci utama, dan berusaha berpikir positif adalah jalan utama.