Dalam beberapa kesempatan saya selalu bilang bahwa Basuki Tjahaja Purnama—lebih akrab disapa Ahok—adalah ayat empiris yang diturunkan oleh Tuhan untuk kita baca; bahwa manusia baik bisa datang dari mana saja—apapun agamanya, etnisnya, sukunya.

Bagaimana mungkin orang yang banyak melakukan perubahan positif di Jakarta dituduh sebagai Penista agama (?) Oleh karena itu sampai detik ini, saya amat sangat yakin bahwa Ahok bukanlah Penista agama dan tidak melakukan atau menistakan agama.

Bagi saya penista agama sesungguhnya adalah mereka yang telah melakukan pengusiran dan pembakaran rumah-rumah kaum Syiah di sampang Madura,  pembakaran rumah ibadah kaum Ahmadiyah di berbagai tempat, penurunan patung Budha di Vihara Tri Ratna. Inilah penistaan yang sesungguhnya.

Kekerasan demi kekerasan itu bukan saja dapat mengganggu kebebasan umat beragama dalam menunaikan ajaran agamanya, tetapi juga dapat mencederai dan menodai sendi-sendi ajaran agama itu sendiri. Keadaan ini pada gilirannya akan menghancurkan hak-hak heteroginitas (keragaman) dan memporak-porandakan kesatuan bangsa.

Kembali kepada soal penistaan agama. Tuduhan penistaan agama yang ditujukan kepada Ahok, secara sengaja dihembuskan ke permukaan karena memang sejatinya isu inilah yang bisa memengaruhi dan menggiring kesadaran umat atas dasar sentimen agama (baca: SARA). Dan, anehnya dalam suasana seperti ini muncul tokoh-tokoh yang menjadi artikulator kekecewaan umat.

Bagi saya, aksi Bela Islam 411 dan 212 yang konon sampai jutaan umat mengindikasikan bahwa ada masalah serius di sana, yakni ketidakdewasaan umat dalam berpolitik. Saya melihatnya sebagai aksi politik murni dari sekelompok kecil umat yang anti NKRI. Oleh karena itu, jika ada yang bilang bahwa aksi berjilid itu sebagai petanda bangkitnya pasukan Islam di Asia, saya kira itu hanya sekadar angan-angan kosong—jika tak boleh dibilang mimpi di siang bolong.

Bagaimana bisa dikatakan kebangkitan umat jika para pemeluk agama hanya bisa lari mondar-mandir ke sana dan ke mari seraya mengibarkan bendera, teriak-teriak di jalanan, mengumbar kekerasan, berbantahan dan bermusuhan mengenai yang ideal, menghakimi, menghujat, menghina, mencela—bahkan membunuh—demi yang ideal. Sebuah perilaku yang kontras sama sekali dengan misi luhur agama.

Sebenarnya tak susah menjawab pertanyaan: Mengapa banyak orang gemar menghujat, mengkafirkan, memekik takbir untuk sesuatu yang belum jelas, dengan dalih agama [?] Jawabannya sederhana: Karena mereka terlena dan tenggelam dalam "pelukan" dan "rayuan" teks.

Sulit membayangkan umat Islam mampu mengulang sejarah keemasannya. Sekali lagi sulit, jika mereka sibuk menghakimi orang lain serta mengkafirkan siapa saja yang dianggap tidak sejalan dengan ideologinya.

Bagaimana Seharusnya?

Tantangan umat Islam dulu dan sekarang jelas berbeda. Dulu umat Islam berjuang melawan penjajah dan mengusirnya dari bumi Nusantara—non-Muslim pun banyak yang jadi pejuang, misalnya Pattimura, Wolter Monginsidi, Yos Sudarso, Cristina Martha Tiahahu, Gusti Ngurah Rai, Agustinus Adisutjipto, dan lain-lain.

Nah, umat saat ini bukan hanya berhadapan dengan arus teknologi modern, tetapi juga berhadapan dengan realitas yang majemuk dengan segala kompleksitas masalahnya.

Mestinya ada kesadaran tentang perubahan, kesadaran tentang fakta sosial, kesadaran tentang budaya, dan kemajemukan, yang semua itu, tentunya, tidak boleh berhenti pada kesadaran individual, tetapi pada kesadaran kolektif hingga pada kesadaran sejarah seiring dengan perkembangan isu isu tentang clean government, rule of law, demokrasi, dan HAM.

Sayang sebagian umat Islam secara konservatif menjadi pendukung personal rule, dan otoritarianisme (moral). Ini terjadi karena gambarannya tentang politik baru sampai pada kesadaran individual. Belum lagi, misalnya, ekspresi umat yang garang yang melihat segala soal secara legalistik, dan ego-sentris. Umat Islam lebih cenderung melihat kesadaran hatinya daripada kesadaran akalnya. Di sinilah saya kira umat membutuhkan menajemen yang rasional.

Bukankah agama mengajarkan kita untuk menerapkan achievement orientation—orientasi berdasarkan prestasi, dan bukan orientasi prestise. Soal keturunan, daerah, agama, warna kulit dan segala sesuatu yang bersifat ascribitive atau kenisbatan tidak boleh dijadikan alat untuk mengukur tinggi rendahnya seseorang.

Agama juga mengajarkan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, mengaktifkan nalar sehat untuk mengejar gagasan gagasan baik dari berbagai sumber, seraya mencegah timbulnya pemikiran sempit; merasa paling benar, paling suci, paling unggul, dan sebagainya. merupakan sebuah keniscayaan.

Umat semestinya berkiblat kepada nalar sehat. Bukankah nalar selalu cenderung untuk mencari sebuah jawaban dari setiap persoalan kehidupan untuk memeroleh kebenaran, dan menghampirinya lewat uji falsifikasi secara terus menerus.

Inilah sesungguhnya yang tidak ditemukan dalam agama. Agama punya kecenderungan merampas pikiran kritis dan kebenaran yang dianggap menyimpang dari doktrin agama. Jika ilmu memeriksa kebenaran melalui uji verifikasi dan falsifikasi, maka agama memeriksa kesungguhan iman dengan agresif dan agitatif—terkadang ansietas dan delirium.

Dengan mengaktifkan nalar sehat, saya kira pemeluk agama yang taat tidak mudah 'dipermainkan', 'dijungkirbalikkan', 'dininabobokan' oleh ideal-ideal agama yang cenderung menyeret umat ke dalam kepalsuan semu.