Ketika membuka kelas weekend online dengan topik "Coding untuk Anak" dengan jumlah peserta sekitar 50 anak rentang umur 8 sampai 12 tahun saya mulai dengan melontarkan pertanyaan "Anak-anak, siapa yang setiap hari main game online?" mayoritas anak mengatakan “Saya Kak”. Kemudian saya susul dengan pertanyaan kedua “Siapa yang setiap hari bisa total menghabiskan waktu minimum 4-5 jam untuk bermain game online?” tak disangka mayoritas anak juga mengatakan “Saya Kak”.

Game online disini maksudnya adalah game elektronik yang terhubung lewat internet dimana anak-anak biasa memainkannya lewat device seperti laptop atau gadget.

Tahun 2020 lalu saya membaca berita tentang Presiden Jokowi yang mengatakan bahwa untuk 15 tahun ke depan Indonesia membutuhkan 9 juta talenta digital. Sebuah kebutuhan yang teramat besar. Siapa lagi yang akan mengisi kebutuhan ini selain generasi penerus bangsa ini.

Dari sini di kepala saya timbul pertanyaan apakah anak-anak yang gemar bermain game online ini, dimana di tahun 2035 mereka sudah memasuki usia produktif, bisa menjadi talenta digital yang dibutuhkan bangsa? Apa yang dibutuhkan anak-anak ini agar menjadi talenta digital yang mumpuni?

***

Talenta digital saya artikan sebagai sumber daya manusia yang berkemampuan menguasai teknologi digital. Sedangkan teknologi digital maksudnya adalah mekanisme yang tidak lagi menggunakan tenaga manusia secara manual, tetapi lebih pada sistem pengoperasian otomatis dengan sistem komputerisasi.

Gemar bermain game online bisa jadi adalah salah satu modal bagus seorang anak calon talenta digital. Anak-anak peserta kelas online waktu saya tanya game online apa saja yang mereka biasa mainkan, jawabannya rata-rata suka game kategori building, action, adventure, role-playing, sport, strategy sampai simulation.

Dari game online, anak-anak belajar cara berpikir logis dan runtut sekaligus mengasah keterampilan problem solving, misalnya dalam game online kategori building mau membangun sebuah bangunan perlu mendapatkan dahulu material yang dibutuhkan contohnya blok.

Jika bentuk kontur tanah bergelombang maka sebelum membangun perlu diratakan dahulu. Setelah material cukup dan tanahnya rata, pertama perlu membangun pondasi, baru dinding kemudian atap. Selain itu game online merangsang anak untuk kreatif misal membentuk bangunan yang beragam, membuat desain interior dan eksterior yang unik dan menarik.

Sisi lainnya adalah belajar menerima perbedaan, fitur play in group bisa menyatukan player dari berbagai daerah atau negara berbeda untuk bermain bersama, saling komunikasi lewat chat, bekerja sama untuk membangun, berbagi teknik yang berbeda untuk mencapai tujuan game atau berlomba mendapatkan skor tertinggi.

Cara berpikir yang logis dan runtut, kreatif/banyak ide, keterampilan problem-solving, bisa menerima perbedaan ini adalah modal dasar menjadi talenta digital.

Jika nanti berhadapan dengan bagaimana menyelesaikan masalah dalam pekerjaan, prosesnya diawali dengan menemukan akar masalah dahulu, tidak boleh langsung lompat ke pencarian solusi. Setelah ketemu akar masalah dan mencari solusinya pun bisa dengan banyak cara berdasarkan kreatifitas si problem solver.

Kemudian ada masalah yang memerlukan hasil kerja tim karena terlalu besar kalau diselesaikan secara individu, nah dalam tim ini akan berisi orang-orang dari suku, agama dan ras yang berbeda. Dengan dilatih menerima perbedaan dari dini, mereka akan menjadi team player yang solid.

Dengan modal dasar tersebut kemudian langkah apa yang berikutnya perlu dilakukan. Orang tua memiliki peran yang sangat penting. Game online seperti halnya pisau punya 2 sisi berbeda. Tanpa kontrol aktif orang tua misal menyaring game online apa saja yang sesuai, mengontrol lama waktu bermain, mengatur keseimbangan dengan pelajaran sekolah maka game online bisa menjadi perusak mental dan fisik anak.

Kecanduan game online punya dampak negatif untuk anak, misalnya malas melakukan aktifitas lain, kurang bersosialisasi dengan masyarakat, melupakan orang terdekat disekitarnya hingga keluar kata kasar. Secara fisik bisa mengakibatkan gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, insomnia, bahkan gangguan perkembangan otak.

Selain kontrol aktif, perlu ditindaklanjuti dengan dukungan pengajaran dan pelatihan berkelanjutan. Misal dalam kelas online, saya mengajak anak-anak dari yang awalnya bisa bermain game saja menjadi belajar bagaimana membuat game. Menurut saya penting melatih anak-anak mengubah perilaku dari konsumen menjadi produsen.

Sekolah, lembaga pendidikan informal dan non formal saat ini sudah banyak yang memasukkan pelajaran coding baik sebagai mata pelajaran utama maupun ekstrakurikuler.

Jadi anak-anak tersebut membutuhkan orang tua yang menyadari akibat positif dari kegemaran bermain game online dan tahu cara mengendalikan dampak negatifnya. Kemudian berusaha keras mencari cara bagaimana mengembangkan modal dasar menjadi keterampilan dan membimbing mereka sampai berhasil jika talenta digital menjadi pilihan karir anak mereka di masa depan.

***

"Kak, game yang aku buat sendiri sudah bisa jalan". Itulah ekspresi gembira anak-anak di kelas online ketika mengetahui pekerjaannya telah berhasil.

Orang tua bisa memilih antara membiarkan anak-anaknya menjadi kecanduan game online sehingga merusak anak-anaknya atau bisa menggunakan game online sebagai sarana untuk mengenal modal dasar talenta digital dan kemudian mengembangkan keterampilannya.

Merekalah nanti yang berperan memajukan Indonesia lewat hasil karya digital. Jangan sampai tahun 2035 negara kita akan banyak mengimpor talenta digital dari luar negeri. Jadikanlah kita bangsa Indonesia tuan rumah di negeri kita sendiri.