Sejak bayi, anakku tinggal dengan orang tuaku hingga usia tujuh tahun. Berkali-kali aku minta agar bisa tinggal denganku, tetapi seribu satu alasan ibuku selalu saja ada. “Nantilah kalau kamu sudah punya rumah sendiri,” ujar ibuku kala itu.

Meski belum cukup uang terkumpul, aku beranikan diri untuk membeli apartemen sederhana. Ini juga tak sengaja. Seorang kawan yang sudah lebih dulu beli, tiba-tiba memutuskan untuk menjualnya. Uang muka yang sudah dia setorkan bisa aku cicil. Tetapi bertahun-tahun sudah rumah ini aku miliki, tetap juga tak meluluhkan hati ibu.

“Nanti saja kalau kamu sudah ada yang menemani,” ujarnya di saat yang lain. Nah, kalau ini yang jadi permintaan, tentu tak bisa aku targetkan. 

Makin lama pula aku bisa hidup serumah dengan anakku. Aku tahu pasti perasaan ibuku. Dia yang merawat anakku sejak bayi setiap harinya, tentu lebih punya ikatan batin yang sangat kuat. Perasaan tak bisa lepas inilah sebetulnya yang memberatkan ibuku. Bukan soal rumah atau pendamping hidup.

Ibuku memang lebih menjadi ibu yang utama buat anakku. Dan aku tak perlu cemburu. Tetapi aku tahu, yang terbaik buat anak pasti di tangan ibu kandungnya sendiri. Pasti ada saat terbaiknya nanti. Aku percaya, semesta selalu punya cara, bahkan yang tak masuk akal sekalipun.

Usia sekolah dasar sudah dimulai. Anakku dengan sekolah terbaik versi kami. Tetapi sayang, setiap anak yang baru masuk sudah harus bisa baca-tulis. Ini sesuatu yang belum ia dikuasai. 

Berbagai les sudah diupayakan Uti, panggilan untuk ibuku. Tetapi memegang pensil pun ia masih kaku. 

Aku tidak khawatir dengan kemampuan yang jauh dari teman-teman sebayanya. Aku justru melihat dari sisi baiknya. Mungkin ini saatnya aku mengajukan proposal agar ia bisa bersama aku hidup di Jakarta.

“Siapa tahu, kalau aku ajari sendiri membaca dan menulis, jadi lebih cepat bisa,” ujarku. 

Ibu tak bisa menahan lagi. Jadilah kami persiapkan perjalanan ini. Pertengahan tahun ajaran yang nanggung. Beberapa bulan anakku home schooling. Dan trada......., guru yang datang ke rumah mengajari dengan hatinya. Ia lalu bisa membaca selancar mobil penuh dengan bensin di tangki. Percaya dirinya muncul, hanya dengan belajar beberapa minggu saja.

Meski bahagia bisa tinggal serumah dan melihat anakku tumbuh setiap harinya, bukan berarti tak ada masalah. Banyak sekali kebiasaan yang berbeda di Yogya dan Jakarta. 

Di Jakarta, tidak ada TV, harus mencuci piring makan sendiri, jam sekian harus sudah mandi, dan banyak peraturan lain yang tak pernah ia temui di Yogya. Di sana, ia jadi raja. Makan disuapi, mandi dimandiin, baju dipakaikan. Proses adaptasi yang tak mudah.

“Aku laporin Uti nih kalau bunda ndak kasih izin,” teriaknya, kalau satu dan lain hal membuatnya kecewa. Berulang terus setiap harinya. 

Sehari 2-3 kali ancaman itu datang. Dalam seminggu tak terhitung berapa banyak. Ini  terjadi di bulan-bulan awal kami tinggal bersama. Terlebih telepon dari Uti atau anakku berlangsung setiap saat. Sehari 3-4 kali. 

Di ujung sana, Uti mendengarkan sambil menahan tangis. Lalu di kesempatan lain, menegurku untuk tidak terlalu keras mendidik anak. 

Anakku pun tak kalah drama. Sedikit ketidaknyaman selalu dilaporkan pada Uti di Yogya. Makin menyayat-nyayat hati Uti yang belum bisa move on.

Anakku selalu membandingkan, Eyangnya memberlakukan dia dengan menyenangkan. Sedangkan ibunya tidak. Semua keinginannya dulu selalu dipenuhi Utinya, dan sekarang ibunya tidak melakukan itu.

Aku berpikir, ini harus diakhiri. Tidak boleh setiap saat mengadu seperti ini. Tidak boleh ada perbandingan dulu dan sekarang. Dengan sangat aku mohon telepon dari Yogya ke Jakarta hanya seminggu sekali, di saat weekend saja. Supaya aku tahu apa saja yang mereka perbincangkan. 

Ini berat banget buat ibu. Seolah aku menghukumnya. Hampir setiap hari ibu nangis sendiri di kamarnya. Pun anakku, sesenggukan tidak jelas. Keduanya sakauw. Aku di antara tega dan tidak. Tetapi kebiasaan baru ini harus berjalan. Masing-masing harus menahan diri.

Dan tak hanya itu, sering kali anakku ingin kembali saja ke Yogya, tempat dia bisa makan mi instan sesukanya dan nonton tTV 24 jam yang selalu nyala. 

“Kamu tinggal di sini, karena bunda ada di sini. Kita ke Yogya kalau sudah libur nanti,” ujarku menentramkan. Meski sering kali permintaan ini jadi rengekan tanpa henti.

“Tapi kasian Uti tidak ada temannya,” ujarnya mencoba mengambil hati.

Dari bulan ke bulan, aduan makin berkurang. Tetapi tak mengurangi ikatan emosi mereka. Ia sangat peka, terlebih kalau Eyangnya merindukannya. Dan kini tradisi telepon seminggu sekali tetap jadi ritualnya.

Jadi senyum saja kalau hidupmu sedang tak nyaman. Kalau mau ngadu, jangan ke Uti, tetapi ke Gusti.