"Cerita ini adalah politik kecil-kecilan yang berada di sebuah pedesaan Sumatera Selatan"

"Perilaku mencerminkan seseorang untuk melakukan sesuatu tindakan dan perbuatan berdasarkan buah pemikirannya"

"Budaya adalah suatu warisan yang diambil dari sisi baiknya, karena secara bertahap budaya daerah akan menghilang"

Hanya kebetulan saya melakukan pengamatan melalui media sosial, yang bertepatan juga tempat tinggal atau tanah kelahiran 35 tahun lalu. Saya berpikir, sepertinya seru juga dibuatkan tulisan tentang politik.

Ketika kita mendengar politik, pasti luar biasa dan menjadi adab tertinggi di Negeri ini. Baik di Ibu kota, Provinsi, Kabupaten, Kecamatan, dan di Desa. Hal ini menjadi pemikiran ingin menjadi orang nomor satu.

Mengapa politik menjadi adab tertinggi, seperti kita tahu bahwa biasanya yang akan menjadi pimpinan tentu mengikuti arus politik. Hal ini bisa dilihat keterlibatan dalam partai, dan kegiatan politiknya.

Nah, kalau itu kan politik benaran. Bukan berarti politik yang di daerah politik bohongan, kebetulan politik ini untuk kepentingan pemilihan kepala desa (Pilkades). Yang politiknya tidak perlu menggunakan partai.

Belajar demokratis dari daerah untuk menjadi pemimpin desa atau orang nomor satu di desa tersebut. Walaupun tanpa partai butuh kegiatan politik kecil atau kegiatan politik tersembunyi, yang menarik simpatisan masyarakat desa.

***
Kadang-kadang lucu juga sih, tidak perlu mencari muka, mencari suara, atau menunjukkan jati diri sesungguhnya. Karena masyarakat sudah kenal dengan sosok yang akan calon menjadi kepala desa tersebut.

Selain itu juga, masyarakat desa kebanyakan keluarga besar, kerabat dekat, intinya masih saudara satu sama lain. Baik itu hubungan dari nenek moyang yang memang masih satu keturunan dan lain sebagainya.

***
Secara garis besar hubungan saudara dan keluarga ini seperti nenek dan kakek masih saudara, adek dan kakak sebagai ipar dan mantu masih saudara juga, ininya begitulah namanya juga dikampung atau di desa ya saudara semua.

***
Dengan demikian walaupun tidak saudara atau keluarga, masih saling mengenal, sebagai tetangga, teman atau sahabat bermain, dan lain sebagainya. Ini juga menjadi bahan analisa untuk mendapat suara dari rakyat.

Retorika politik lokal sebetulnya akan dilaksanakan tahun 2022 mendatang. Namun kandidat sudah mempersiapkan diri untuk memperkenal diri bahwa akan mencalonkan sebagai kepala desa di daerah tersebut. 

Analisa Budaya Lokal :

Lebih mengedepankan keluarga dan saudara untuk ikut serta mencari suara dan mengajak saudara lainnya untuk memilih saat sudah mendekati pencalonan dan tentunya akan dilakukan pencoblosan.

Siapapun yang mengikuti calon kepala desa, tentunya mempunyai keluarga dan saudaranya banyak, besar harapan akan terpilih atau memenangkan calon kepala desa tersebut. Namun hal ini harus mempersiapkan dana atau uang juga.

Tidak bisa dipungkiri juga, zaman sekarang mana ada calon politik tidak menggunakan uang. Artinya mulai dari persiapan sampai dengan selesai pemilihan pasti menggunakan biaya.

Analisa Perilaku Lokal :

Berhubung calon pemilihan kepala desa (Pilkades) bisa saudara sendiri, tetangga, sahabat, dan lain sebagainya. Hal ini masih bersikap professional untuk tetap mengikuti alur politik lokal, namun dibalik itu semua pasti berharap menang.

Berpura-pura baik, bersikap sewajarnya, dan mengatur cara hidup di tengah masyarakat tentunya menjadi sorotan. Karena sedikit riskan kalau kita berbuat baik pasti dinilai ada maunya, dan sebaliknya bila diam juga seperti tidak butuh dengan orang lain.

Fleksibel saja. Baik dari calon kepala desa, keluarga dan saudaranya lainnya. Berprasangka tidak baik kepada orang lain hal yang manusiawi, namun harus tetap lapang dada. Kalah dan menang itu bagian perjuangan dalam pelaksanaan politik lokal.

Analisa Media Sosial :

Minggu lalu sekitar akhir bulan mei, saya melihat postingan di media sosial melalui Facebook. Begitu banyak yang akan mencalonkan diri sebagai calon kepala desa. Ini bagian persaingan yang sehat untuk menampilkan diri kepada orang lain.

Sehingga, baik dengan sengaja maupun tidak sengaja, masyarakat desa mengikuti apa yang di posting oleh calon kepala desa. Hal ini dikuti juga oleh masyarakat yang akan mencalonkan diri sebagai kepala desa tersebut. Walaupun sembari bercanda, artinya masyarakat memantau dari pergerakan media sosial.

***
Hiruk pikuk masyarakat seakan-akan mengejek dan berbangga diri dengan melihat calon kepala desa. Komentar dari beberapa masyarakat sangat positif dan mendukung, siapapun yang mencalonkan diri sebagai kepala desa tersebut.

Keceriaan masyarakat desa dari pandangan media sosial mendorong ambisi yang tinggi untuk merebut orang nomor satu di desa tersebut. Oleh karena itu, harus dipersiapkan dengan matang tidak hanya semangat saja.

***
Semestinya para calon kepala desa harus membekali wawasan juga. Bukan hanya semata-mata mencari harta kekayaan setelah terpilih menjadi kepala desa. 

Strategi modern yang dilakukan oleh calon kepala desa, merupakan kecerdasan untuk memenangkan agar terpilih menjadi kepala desa. Hal apa yang diperbuat seperti spanduk dengan tulisan yang mempengaruhi masyarakat.

***
Strategi yang lain membuat kata slogan dari masing-masing yang akan calon, visi dan misi ada didalamnya juga. Sehingga lebih serius dan terlihat mempunyai ide dan gagasan dalam membangun desa tercinta.

Analisa dan Fenomena Politik Lokal :

Hal Ini tidak kalah dengan politik benaran yang ada di Kabupaten, Provinsi, dan Ibu kota. Bisa menghabiskan uang ratusan juta juga bahkan miliaran rupiah, tidak tau juga penggunaan untuk apa? Anggap saja saya pura-pura tidak mengetahuinya.

***
Tidak bisa dihindari juga memang membutuhkan biaya seperti konsumsi masyarakat berkunjung kerumah, mobilitas dengan tujuan politik, dan biaya yang tidak terduga lainnya. Ini yang menjadi mahal untuk kegiatan politik lokal.

***
Ironisnya untuk calon kepala desa sanggup melakukan apa saja yang penting bisa terpilih. Hal apa saja yang akan dilakukan seperti jual rumah, jual tanah, jual kendaraan, jual kebun dan isinya, pinjam uang bank, uang saudara dan lain sebagainya.

Ekspektasi terlalu tinggi akan mengalami kekecewaan, namun dengan jiwa pengabadian maka kegiatan membangun desa akan terwujud jadi nyata. Dengan dengan demikian, jika ingin menjadi kepala desa atau orang nomor satu di desa persiapkan mental, pikiran, dan hati nurani. 

Pada titik akhirnya kemungkinan besar yang terpilih menjadi kepala desa adalah mempunyai biaya untuk melakukan serangan masyarakat yang sedang tidur, keluarga besar banyak yang dukung, kepribadian calon yang baik dan bijaksana, latar belakang calon di nilai masyarakat positif dan lain sebagainya.