Pak Jokowi minta rakyatnya berdamai dengan corona. Kemarin-kemarin ngajaknya perang jadi masih "on fire" nih. Tapi karena yang minta presiden, ya sudahlah diusahakan saja. Memangnya rakyat jelata bisa apa lagi?

Kepenginnya sih terhindar dari nethink alias negative thinking, masa mara-mara terus ke pemerintah? Tapi gimana ya, kebijakan pemerintah dan pernyataan pejabat negara itu terlalu rumit untuk diterima apa adanya, apalagi dijalankan. 

Kadang terpikir, apa pemerintah benar-benar tahu akan melakukan apa untuk rakyatnya ini, terutama yang miskin dan para buruh saat terjadi pandemi? Omnibus Law, Kartu Prakerja, dan sebagainya, sungguh jauh dari keberpihakan.

Kejengkelan serupa ada di esai Arundhati Roy berjudul "The Pandemic Is A Portal". Arundhati Roy, seorang novelis terkenal asal India, menulis penanganan pandemi corona di India yang semrawut. Kata beliau, pandemi itu portal untuk dunia baru. 

Cara Arundhati Roy melihat pandemi senada dengan kearifan lokal Jawa di pedesaan. Masyarakat Jawa menyebut wabah sebagai pageblug, dipercaya sebagai isyarat atau pertanda akan tiba era perubahan.

Ada pembanding lain tentang pandemi menjadi titik awal perubahan, yaitu wabah black death di abad ke-14 (1347–1352), melahirkan konsep nation-station dan memicu revolusi industri. Berlangsung kurang lebih lima tahun dan memakan korban sepertiga populasi. 

Jadi, selain kearifan lokal yang meyakini pageblug sebagai awal hidup yang baru, dalam perjalanan sejarah, bangkit dari pandemi dan memulai cara hidup yang baru itu pernah dilakukan.

Di masyarakat Jawa, adanya pageblug akan diikuti rangkaian ritual ruwatanseperti doa bersama dan "bersih desa" yang disebut juga nyadran atau nyadranan. Biasanya diadakan pertunjukan wayang kulit. Dalang menjadi sosok kompeten yang menyampaikan segala nasihat untuk menghadapi pageblug

Selain terhibur menonton wayang, warga juga menjadi lebih tenang setelah mendapat pengetahuan tentang pageblug. Dalangnya ini, kalau dipikir-pikir, yang cocok Pak Yurianto atau Pak Jokowi, ya? Hmm, yang paling cocok ya Pak Luhut-lah! Eh.

Tapi belakangan ini ada kecenderungan melihat ritual adat dari sudut pandang konflik, pergeseran nilai membuat dogma agama lebih dominan dalam berperilaku. Jadi mungkin milenial pun gak paham ritual yang satu ini kecuali yang sudah dimodifikasi. 

Ritual bersih desa dilakukan dengan cara mengadakan pengajian mengundang kiai, misalnya. Menjadi rutinitas tiap tahun tanpa menunggu ada pageblug.

Pertanyaannya kemudian, apa sudah bisa ditiru optimisme yang ditulis Arundhati Roy? Saya mulai memikirkan bagaimana teknis melangkah ke masa depan sambil melepas masa lalu. Tapi bermacam skenario yang melintas di kepala runtuh dengan cara yang sederhana.

Belanja ke pasar, tanpa sengaja mendengar percakapan dua orang ibu-ibu. Percakapan mereka menarik, berbahasa Jawa yang terasa akrab di telinga.

"Ra betah maskeran ngene iki. Dicepot ae yo, sumuk, ambegan ra lega." (Gak betah maskeran begini, dilepas saja ya, gerah)

"Diluk thok ae lho." (Hanya sebentar saja, lho)

"Jane virus ki apa tho? Mbarai lara yo ben. Nek wayah mati yo mesti mati." (Sebenarnya virus itu apa sih? Biar saja sakit. Kalau memang sudah waktunya mati ya pasti mati)

"Matine ngenes. Ngubure ae ra oleh dilayat." (Matinya menyedihkan. Dikuburnya saja tanpa pelayat)

"Nek cara jawa kira-kira penyakit apa ngono wi?" (Dalam Bahasa Jawa kira-kira apa nama penyakitnya?)

"Sawan." (Sawan: sejenis penyakit aneh; dari demam tinggi, meracau, sampai kejang-kejang)

Bukan hanya si ibu yang bertanya yang kaget corona dibilang menyebabkan sawan, saya juga! Sampai menengok ke arah mereka dan mengangguk karena kalau senyum saja nggak kelihatan karena pakai masker. Bertemu lagi di kios tempe, keduanya masih memakai masker. Rupanya jawaban 'sawan' yang asal-asalan dan terbukti efektif untuk memaksa seseorang tetap memakai masker.

Sebagian orang memang tak punya pilihan. Tak paham dengan penjelasan yang keminggris tentang corona akhirnya memakai pengalaman hidupnya untuk mencerna keadaan. Membuat saya teringat ada kearifan lokal di masyarakat Jawa pedesaan yang sesuai untuk berkomunikasi melakukan sosialisasi atau untuk melakukan tindakan preventif saat terjadi pageblug.

Ramai di media sosial orang-orang menyediakan air dan sabun di depan pagar rumah supaya orang yang lewat bisa cuci tangan. Di Jawa, terakhir terlihat di pedesaan tahun 80-an, namanya padasan

Diletakkan di depan rumah atau pekarangan supaya orang lain yang lewat bisa cuci tangan kaki dan membasuh muka. Berupa gentong dengan tutup dari kayu dan gayung dari bathok kelapa. Padasan juga digunakan untuk berwudlu, bentuknya sedikit berbeda, padasan untuk berwudu berbentuk gentong dengan pancuran yang bisa dibuka tutup.

Saat viral foto mi instan digantung di pagar depan rumah seseorang yang baik hati dan siapa pun yang membutuhkan bisa ambil, saya teringat tradisi jimpitan. Setiap hari menyisihkan beras yang akan dimasak, menaruhnya di kaleng susu kental manis atau gelas akua kemudian digantung di depan rumah dekat pintu, saat malam akan diambil petugas ronda yang berkeliling, dikumpulkan ke RT atau RW (atau kepala dusun). 

Ini ikhtiar masyarakat Jawa di masa lalu untuk saling bantu dan menjaga tetangganya dari kekurangan pangan. Sekarang jimpitan beras diganti dengan uang (koin gopekan), untuk kas RT.

Di setiap daerah pasti ada kearifan lokal yang sesuai untuk masa pandemi. Penanganan dan komunikasi tentang corona keminggris yang identik dengan modernitas membuat rakyat (terutama di daerah) tidak paham bahasa pemerintah. Tapi pemerintah gagap kemudian rakyatnya jadi megap-megap. (Megap-megap artinya kesulitan mengambil napas)

Harus diakui bahwa sejak awal ada kasus terinfeksi, ada inkonsistensi kebijakan dan pernyataan pejabat tentang penanganan corona yang membuat "sense of crisis" tidak terbangun baik.

Birokrasi pemerintah dari pusat hingga daerah memang perlu dibenahi karena ruwet sekaligus lamban dan pejabatnya kebanyakan "gimmick".

Sepertinya Pak Jokowi bukan sedang meminta rakyatnya berdamai dengan corona. Pak Jokowi meminta kita berdamai dengan kenyataan bahwa pemerintah tidak bisa berbuat banyak untuk membantu rakyat menghadapi pandemi meski akses untuk mengubah (dan atau merumuskan) kebijakan yang lebih ramah pada keberpihakan terbuka lebar. Benar begitu bukan ya, Pak?