Siapa yang tidak mengenal kertas? Mulai dari anak balita hingga tua renta pasti mengenalnya, tentu bukan hanya kenal dan tahu, tetapi mereka termasuk orang-orang yang pernah memakainya, mulai dari di rumah, sekolah, pasar hingga di toilet, kertas salalu menemani keberlangsungan hidup manusia.

Kita patut bersukur atas temuan Ts’ai lun, (Cai Lun (Hanzi: 蔡倫, simplify 蔡伦 , pinyin: Cài Lún, Wade-Giles: Ts’ai Lun ) berkat kecerdikanya memanfaatkan bubuk kayu Murbei dan bahan lainya hingga menjadi Kertas, kita mampu menikmati kertas yang tipis dan mudah dibawah kemana-mana, coba bayangkan jika Papirus, pelepah kurma dan serat pohon kasar itu masih eksis hingga sekarang, tentu hal itu menyulitkan kita.

Memang sudah menjadi hukum alam jika Evolusi dan Revolusi haruslah terjadi, baik itu benda mati sekalipun. Apalagi hal yang menyangkut kehidupan Manusia, seperti ketas, dulu sebelum manusia mengenal kertas, manusia menulis dengan media batu, mereka memahat dan Menggambar di batu.

Kemudian, mereka berfikir bahwa Batu tidak efisien, akhirnya mereka menulis di kulit pohon, pelepah Kurma, Kulit binatang dan juga Tulangnya, hal ini dilakukan agar memudahkan hidup manusia. Barulah setelah Orang-Orang tepi sungai Nil Mengunakan Papirus, akhirnya mereka beralih ke Papyrus (Cyperus papyrus), yang juga menjadi bapak dari Kertas.

Setelah Papyrus dianggap kurang efisien, Tsai Lung dari daratan Cina menemukan Formula keras yang lebih tipis dan efisien, yakni dari bubur serbuk kayu. Ia meniru hasil karya lebah yang membuat sarang mengunakan bubur kertas. Hingga akhirnya saat ini, Kertas sudah memiliki varian dan macam, baik yang berasal dari Kayu, Jerami, hingga Kertas itu sendiri.

Fenomena menyebarnya kertas juga berbanding Lurus dengan Fenomena menyebarnya Keilmuan Baca dan Tulis, semakin banyak manusia yang bisa membaca dan menulis, semakin banyak pula kertas dibutuhkan, sebagaimana perkembangan dunia beberapa abad terakhir.

Al-Quran pun, sebuah kitab suci yang awal mulanya tersebar melalui hafalan, sedikit demi sedikit akhirnya membutuhkan pembukuan, memang awalnya bukan dengan kertas, namun akhirnya kertas juga dipakai, Karena lebih efisien.

 Meskipun dalam sejarah, Kerajaan Turki Utsmani Pernah menolak cetakan pertama Al-Quran, dengan alasan Cetakan itu dicetak oleh orang eropa, banyak kesalahanya dan beberapa alasan Teologis lainya.namun, karena kebutuhan akan percetakan al-Quran juga dibutuhkan, mengingat penyebaran Islam pada waktu itu sudah tersebar rata di luar Arab, akhirnya al-Quran pun mengunakan kertas.

Ya, Memang kertas selalu menemukan caranya sendiri, namun di Era Digital seperti masa ini, akankah kertas masih mampu menunjukan eksistensinya?. Iniah yang ingin saya ungkapkan di sini.Di era Digital dimana Informasi mudah didapat, tentu kepercayaan publik akan semakin Pudar. Dengan banyaknya info yang beredar, baik melalui jaringan Sosial media, Media online hingga Grub-grub Sosial.

 tentunya, membuat Manusia semakin mewanti-wanti dirinya utuk tidak mudah percaya atas berita-berita yang dengan mudahnya tersebar, hal ini yang menjadi efek negatif media yang berbasis Online.

Sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Dahlan Iskan, CEO Jawa Pos, ketika ia ditanya mengenai masa depan Media Cetak, ia mengungkapkan bahwa dengan mudahnya informasi dan banyaknya hoax yang tersebar, ia semakin yakin jika Media Online sudah menunjukan akhir masanya, sehingga Media Cetak secara otomatis memiliki peluang untuk membangun kepercayaan yang lebih.

Ini menunjukan bahwa kepercayaan publik akan informasi yang serba instan kini mulai pudar, dan tentunya ini merupakan masa depan Media Cetak yang berbasis pada penggunaan kertas.

Ya, peranan kertas akan selalu meliputi kita, meskipun  kita terbiasanya serba online, tentu peluang kertas masih besar mempengaruhi kepercayaan kita, contoh simplenya saja adalah ketika kita membeli barang melalui internet dengan metode pembayaran lewat jalur Transfer ATM.

 tentu hal yang menjadikan kita yakin akan pembayaran itu berhasil adalah dengan mengirimkan foto bukti Transfer yang berupa kertas, dan juga ketika kita menerima barang yang kita beli, Umumnya juga mengunakan kertas sebagai Packingnya. Jadi, Kertas masih memiliki Masa depan yang cerah.

Begitu juga bagi pengemar buku, mereka lebih suka membaca melalui buku cetak dibanding di e-book, sebab banyak kekurangan e-book yang jadi pertimbangan, seperti mata cendrung mudah lelah karena menatap layar dan juga harus mempertimbangkan Daya yang dimiliki ketika akan membaca buku, apalagi buku yang memiliki jumlah halaman yang banyak.

mereka lebih percaya terhadap buku yang tercetak dari pada buku yang beropa e-book, PDF dan sejenisnya. Karena mereka menganggap jika hal-hal yang berbau digital sangat rentang untuk dimanipulasi.

oleh sebab itu, di sebagian Pesantren Modern, meskipun mereka mengunakan e-Book, Kitab PDF dan Maktabah Syamila (aplikasi berisi kitab-kitab), pastinya mereka akan mengkomparasikan dengan kitab-kitab yang tercetak, sebagai pembanding.

Membangun kepercayaan inilah yang menjadi sisi negatif dari Digitalisasi kertas, sebab Kepercayaan adalah hal yang terpenting bagi manusia dan tentunya ini merupakan peluang bagi masa depan Kertas. Bukan hanya itu, di era ini pengunaan kertas juga tidak serta-merta hanya berkutat mengenai baca dan tulis.

Kini, di desa-desa sudah mengenal kertas sebagai alat penganti air. Tisu sudah menjadi hal yang lumrah jika ada Hajatan dan acara lainya, sebab ia lebih efisien dari pada air.

Dan juga, hal hal sepele yang juga diperkirakan akan berkembang dan menjadi masa depan kertas adalah kertas sebagai Pembungkus makanan, memang Masyarakat kita belum sadar akan pengunaan kertas sebagai pembungkus makanan yang lebih sehat dibanding plastik, namun ketika mereka sepenuhnya sadar, tentu mereka akan beralih kepada kertas dan meninggalkan Plastik yang di anggap tidak sehat.

Satu lagi yang penting, yakni upaya untuk membuang image jika kertas adalah sumber dari Penggundulan Hutan, sebab sebagaimana info yang beredar, bahwa dalam satu Rim kertas dibutuhkan satu pohon berusia 5 tahun, sehingga banyak dari kita “mengkambing hitamkan” kertas hanya karena malas untuk membaca.