Sudah terhitung tujuh tahun semenjak 2011 pada saat Arab Spring muncul pertama kali di negara Tunisia. Dipicu dengan peristiwa seorang pemuda bernama Mohammed Bouazizi yang membakar dirinya sendiri di tengah lapangan kantor pemerintahan setempat setelah dilecehkan (dipukuli, diludahi, dan dihina) oleh beberapa polisi karena tidak diperbolehkan menjajakan dagangannya.

Setelah tersebarnya berita mengenai Bouazizi, rakyat Tunisia berbondong-bondong melakukan aksi demo untuk menuntut keadilan Bouazizi serta mengkritik pemerintah. Kemudian massa menuntut untuk menurunkan Presiden Tunisia, yaitu Zine El Abidine Ben Ali yang sudah menjabat kurang lebih 23 tahun. Pada 14 Januari 2011, Ben Ali mengundurkan diri dan menetap di Arab Saudi.

Berita mengenai Bouazizi dan tumbangnya rezim Ben Ali menjadi pacuan bagi negara-negara di sekitar Tunisia untuk mencoba hal serupa. Revolusi pun meletus, seperti di negara Mesir, Suriah, Maroko, Libya, Bahrain, Yordania, dan Yaman.

Proses beberapa negara dalam menumbangkan pemimpin otoriter pada era rezimnya dibilang cukup berhasil, seperti Muammar Khadafi seorang pemimpin Libya yang dikudeta dan diseret ke jalan untuk dihakimi oleh rakyatnya sendiri. Mesir juga berhasil menurunkan Husni Mubarak dari jabatannya sebagai Presiden.

Namun sayangnya, keberuntungan yang dialami Tunisia dan Mesir tidak terjadi seperti negara Suriah yang sampai saat ini dihantui oleh konflik berkepanjangan serta rezim Bashar al-Assad yang tidak bisa digulingkan. Perang saudara pun juga masih berlangsung hingga sekarang di Libya dan juga konflik di beberapa negara lainnya yang terjadi semenjak terjadinya Arab Spring pada 2011 silam.

Caryle Murphy menyinggung penyebab terjadinya Arab Spring atau dengan nama lain yaitu Kebangkitan Arab. Selama berpuluh-puluh tahun di negara Arab sudah langgeng terjadi hal seperti pengekangan atas kebebasan berbicara, penyalahgunaan atas hak-hak manusia, ekonomi yang buruk, serta tidak dipandangnya keadilan dan harga diri sebagai manusia.

Melihat dari sisi demografis, negara-negara Arab pada tahun 2011-2012 memiliki 300 juta penduduk yang mana terdapat 2/3 populasi manusia di bawah umur 29 tahun. 25 persennya adalah pengangguran, tidak dapat mewujudkan mimpi-mimpi mereka karena buruknya negara, terdorong akan adanya kebebasan individu, dan merupakan generasi yang paham mengenai media sosial.

Media sosial kemudian yang menjadi alat revolusi dalam menggerakkan roda perubahan secara cepat dan efektif di banyak negara pada saat Arab Spring terjadi. Seperti pada revolusi di Tunisia, disebut juga Revolusi Melati yang mengawali Arab Spring. Kematian Bouazizi disebarkan lewat media sosial seperti Twitter, Facebook, dan YouTube yang pada akhirnya menyulut kemarahan dan revolusi di negara tersebut.

Data IMF tentang rata-rata pertumbuhan PDB dari Arab countries in transition (ACTs), menurut Hafez Ganem, bahwa terdapat kenaikan yang bisa diperhitungkan dari mulai tahun 1991-2010. Kenaikan 4-6 persen oleh Mesir dan 6-7 persen oleh Yordania. Kemudian disusul oleh negara Yaman, Moroko, dan Tunisia sebesar 4,5 persen pertahun.

Apabila ekonomi negara Arab naik perlahan, kemudian apa yang menyebabkan terjadinya revolusi? Data World Values Survey membuktikan bahwa banyak masyarakat negara Arab merasakan tidak bahagia dan tidak juga puas akan kehidupan mereka. Sebagai contoh, Mesir yang masyarakatnya merasa tidak puas dengan hidup mereka, yaitu sekitar 30,5 persen.

Sedangkan negara di lain, wilayah seperti Indonesia hanya mendapatkan 9,5 persen dan Malaysia yang mendapatkan 7,8 persen mengenai ketidakpuasan masyarakat terhadap hidupnya. Hal ini menjadi alasan mengapa revolusi di negara-negara Arab yang dimulai tahun 2011 giat terjadi.

Berbagai macam aksi seperti demonstrasi sepanjang waktu, kerusuhan antara aparat dan warga, penurunan pemimpin negara secara paksa, dan banyak hal lainnya. Arab Spring menghasilkan perubahan yang berbeda-beda kepada tiap negara.

Sampai dengan tahun ini, terdapat beberapa negara yang bisa dikatakan berhasil dalam melewati arus deras dari Arab Spring, namun beberapa lainnya gagal. Mari kita tengok mana saja negara yang berhasil dan gagal.

Tunisia adalah negara pertama saat meletusnya Arab Spring. Semenjak jatuhnya Ben Ali, Tunisia mengalami kenaikan dan penurunan dalam pemerintahannya. Pemerintahan Tunisia akhirnya dikukuhkan oleh partai Ennahda bersama dengan partai Nidaa Tounes pada tahun 2013.

Memang benar bahwa Tunisia bisa dikatakan sebagai negara yang aman dari kekacauan yang disebabkan oleh Arab Spring. Namun sampai tahun 2018, telah ada 9 kabinet yang dinilai tidak berhasil untuk memecahkan permasalahan ekonomi seperti inflasi yang tinggi dan pengangguran. Menurut National Institute of Statistics, terdapat pengangguran sampai 15,3 persen pada akhir tahun 2017.

Negara yang berhasil melewati Arab Spring selanjutnya yaitu Mesir. Sesaat Husni Mubarak mengundurkan diri, kompak masyarakat berkumpul di Tahrir Square menari, bernyanyi, dan mengibarkan bendera Mesir sebagai tanda keberhasilan revolusi.

Digantikan oleh Presiden Abdel Fattah el-Sisi, Mesir pada tahun ini terlihat lemah akan demokrasi dan hak-hak kemanusiaan. Dilansir dari Al-Jazeera bahwa sudah ada puluhan ribu orang yang ditahan oleh el-Sisi tanpa tuduhan yang jelas serta melarang adanya protes publik lebih dari 10 orang dengan tanpa adanya persetujuan dari pemerintah.

Tidak lupa juga disebut mengenai lawan politik el-Sisi, yaitu Sami Anan yang ditahan oleh kepolisian karena menempa dokumen dan tidak mencari persetujuan kepada pemerintah sebelum mengumumkan kampanye dirinya untuk maju menjadi presiden. Maka dengan begitu, el-Sisi menjadi kandidat presiden satu-satunya di Mesir.

Lanjut kepada negara Suriah yang mengalami konflik sampai dengan saat ini. Suriah menjadi negara yang terdampak Arab Spring ditandai dengan demonstrasi massa pada bulan Maret tahun 2011 yang disebabkan karena ditahannya seorang anak sekolah karena menggambar graffiti anti-pemerintah. Kerusuhan terjadi dan tindak kekerasan dilakukan oleh pasukan pemerintah kepada massa.

Rezim Bashar al-Assad sampai saat ini tidak bisa ditumbangkan menumbuhkan perang saudara di negara tersebut. Belum lagi melihat kepada permasalahan teroris di Suriah Utara serta konflik dengan Israel. Campur tangan pihak eksternal, yaitu Amerika Serikat, Inggris, sampai dengan Perancis dan beberapa negara lainnya turut merunyamkan masalah yang terjadi di Suriah.

Selanjutnya mari membahas negara Libya yang berhasil menumbangkan Muammar Khadafi, seorang pemimpin yang telah berkuasa selama 42 tahun lamanya. Pada tahun awal Arab Spring terjadi, intervensi sudah kerap terjadi dalam negara tersebut untuk menurunkan Khadafi. Setelah tumbangnya Khadafi, ternyata masih banyak permasalahan yang akan menerjang Libya untuk tahun-tahun ke depannya.

Atlantic Council menyatakan bahwa intervensi asing yang terjadi di Libya membuat banyak pihak asing tersebut mulai membela kelompok-kelompok yang berbeda dan menjadikan Libya sebagai lahan untuk perang proksi. Tak hanya itu, terdapat desakan dan tekanan dari beberapa kelompok jihadis serta ISIS yang turut berkembang dan memperkeruh keadaan di Libya.

Arab Spring tentu saja meninggalkan banyak luka kepada banyak negara apalagi kepada negara yang belum pulih menjadi pemerintahan yang diakui legitimasinya oleh rakyat. Ketidakstabilan negara-negara Arab yang terkena gelombang Arab Spring juga terlihat pada tahun ini dan sepertinya semakin memburuk.

Dilihat dari terorisme yang menjalar kepada hampir semua negara Arab, hak asasi manusia yang banyak diabaikan, demokrasi yang cacat, dan perang saudara yang terus terjadi serta tidak lupa dengan intervensi pihak asing kepada beberapa negara Arab. Lalu muncul banyak asumsi mengenai: apakah Arab Spring gelombang kedua bisa saja terjadi?

Sumber: