Kata "dungu" menjadi populer setelah Rocky Gerung kerap melontarkan kata itu. Meski kerap dikritik karena kata "dungu" dianggap merendahkan, namun Rocky berkilah bahwa yang ia maksud "dungu" adalah cara atau metodologi berpikir, bukan orang atau individunya. 

Dengan definisi itu, Rocky konsisten menggunakan kata "dungu" untuk menyerang lawannya yang ia anggap menggunakan cara berpikir yang tak menggunakan akal sehat.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dungu memiliki arti sangat tumpul otaknya, tidak cerdas, bebal, dan bodoh. Definisi Rocky mengenai dungu bila dikaitkan dengan definisi KBBI mungkin menemukan benang merah, yaitu orang yang cara berpikirnya tidak menggunakan akal sehat sehingga menjadi tumpul otaknya, tidak cerdas, menjadi bebal, dan bodoh.

Baiklah, kolaborasi definisi dungu ala Rocky dan KBBI bukan tentang orang, melainkan tentang cara berpikir. Bila demikian, saya sepertinya telah menemukan format definisi dungu itu pada sekelompok orang yang bereaksi atas kasus Ratna Sarumpaet dan kasus Habib Bahar bin Smith. Dua kasus dari kedua orang itu menghebohkan publik Indonesia. Dan ada sekelompok orang yang melihat dua kasus itu dengan dungu.

Begini, saat informasi Ratna Sarumpaet beredar, terutama di platform media sosial, ramai-ramai orang mengutuk peristiwa itu. Ironisnya, kutukan dan kecaman justru diarahkan ke pemerintah yang mereka sebut rezim diktator, rezim tangan besi. Fadli Zon, Fahri Hamzah, Benny K Harman, bahkan Rocky Gerung sendiri berkomentar miring kepada pemerintah atas peristiwa itu.

Terkait kasus Ratna yang dianiaya, Benny K Harman menyebut Presiden memelihara preman. Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menyatakan penganiayaan terhadap Ratna Sarumpaet sebagai tindakan biadab. Sebab, ia menyebut Ratna merupakan seorang perempuan dan telah lanjut usia. Kecaman senada diucapkan tandem Fahri, yaitu Fadli Zon, yang menyebut peristiwa itu sebagai sesuatu yang biadab.

Prabowo Subianto bahkan menggelar konferensi pers atas peristiwa itu. Prabowo mengutuk penganiayaan Ratna Sarumpaet. Dan sang perumus definisi dungu, Rocky Gerung pun menyebut penganiayaan itu sebagai hal yang dungu. Rocky membuat tweet: "Tak cukup memfitnah? Tak puas memaki? Akhirnya kalian memakai tinju. Sungguh dangkal. Dan tetap dungu," tulis Rocky.

Semua ungkapan itu keluar dari orang-orang yang ditulis di atas dan jemaahnya meski belum jelas siapa penganiaya Ratna. Benarkah Ratna dianiaya? Adakah bukti petunjuk seperti video yang dapat menguatkan bahwa Ratna dianiaya? Adakah hasil visum? Sudahkah Ratna membuat laporan atas penganiayaan itu? Namun, meski belum jelas, mereka kompak mengutuk itu. Bukankah ini yang dinamakan dungu?

Kemudian pada kasus Habib Bahar Smith. Polisi menetapkan Bahar Smith sebagai tersangka lalu menahannya. Bahar Smith diduga menganiaya dua anak di bawah umur hingga babak belur. Polisi mengantongi bukti kuat. Ada rekaman video saat orang yang diduga Bahar Smith menganiaya bocah. Ada laporan dari orangtua korban, serta ada bukti-bukti lainnya.

Mengingat kapasitas Bahar Smith yang memiliki cukup banyak penyanjung, maka naif dan konyol bila polisi berani menetapkan Bahar Smith sebagai tersangka dan menahannya tanpa bukti yang kuat. Meski kita harus tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah, namun dari bukti petunjuk yang ada, Bahar Smith layak dijebloskan ke penjara.

Namun, cara dungu kembali digunakan oleh orang-orang yang menjadi bagian oposisi pemerintah serta para pengikutnya. Meski sudah jelas dengan beragam bukti, namun orang-orang seperti Fadli Zon justru melihatnya berbeda. 

Bila saat kasus Ratna meski belum jelas, Fadli bisa menyebut penganiayaan yang ternyata hoaks itu biadab. Dalam kasus Bahar Smith, malah sebaliknya. Fadli menyebut penetapan Bahar Smith sebagai tersangka dan ditahan sebagai kezaliman yang sempurna.

Begitu pula para pengikut Bahar Smith. Mereka ramai-ramai menyebutnya sebagai kriminalisasi ulama. Bukankah ini kedunguan yang nyata dan terang benderang? Menyebut tindak pidana sebagai kriminalisasi meski bukti-bukti yang ada begitu kuat. Inilah cara berpikir yang dungu, yakni yang tidak menggunakan akal sehat sehingga otak menjadi tumpul, tidak cerdas, bodoh, dan bebal.

Jadi, dungu itu menganggap peristiwa pemukulan Ratna Sarumpaet meski minim bukti tapi langsung percaya. Sedangkan pemukulan anak di bawah umur oleh Bahar Smith meski dengan bukti video dan saksi tapi menganggapnya dusta. Pada akhirnya, definisi dungu terimplementasikan oleh mereka-mereka itu.

Dan ketika fakta terungkap, cara dungu ternyata tetap digunakan. Dalam kasus Ratna, saat diketahui peristiwa itu hoaks, mereka ramai-ramai menghujat Ratna, mengecamnya. 

Dalam kasus Bahar, mereka menyebut apa yang dilakukan Bahar hal yang dapat diterima. Kata mereka, apa yang dilakukan Bahar bukan penganiayaan melainkan memberi pelajaran pada anak yang mengaku-ngaku sebagai habib. Beginilah kedunguan yang sudah mencapai level sempurna dan istiqomah.