Tak berlebihan jika dikatakan setiap kita memiliki kegelisahan jiwa yang sama, yaitu sama-sama gelisah pada semakin menjauhnya keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat kita. Hampir saja (untuk tidak mengatakan tidak) kita kehilangan kenyamanan, mulai dari ruang nyata sampai ruang maya.

Pelanggaran hak-hak privat, intimidasi terhadap keyakinan yang lain, intoleransi, korupsi, degradasi moral, pemerkosaan, berita hoax dan semacamnya adalah sebagian dari sebab kegelisahan itu. Matinya kearifan dan kebijaksanaan dalam kehidupan kita di ‘zaman now’ telah mengubah kehidupan itu sendiri sebagai momok yang menakutkan.

Setiap orang sibuk dengan dirinya sendiri, mencari kenyamanannya masing-masing tanpa peduli dengan kenyamanan orang lain. Hal ini terakumulasi menjadi ancaman serius terhadap martabat kemanusiaan. Mengetahui bukan lagi dengan tendensi untuk saling melayani (harmonisasi), tetapi justru dengan tendensi untuk saling menguasai (eksploitasi).

Tak heran jika yang berpengetahuan yang paling ingin menguasai segalanya. Keserakahan yang tak terkendalikan memaksa manusia satu untuk saling memangsa manusia yang lainnya. Telah lumrah terjadi, dari para penyelenggara negara sampai para tukang becak, dari para profesor sampai masyarakat awam, mengeksploitasi sesama untuk kenyamanan diri sendiri.

Terlalu lama kita fokus pada diri, lupa pada orang lain, dan juga terlalu lama kita fokus pada akibat, lupa pada sebab. Kita kehilangan kepekaan antar sesama adalah akibat dari ‘lupa pada yang lain’. Fenomena-fenomena yang tampak di permukaan juga adalah akibat-akibat masalah. Kita tak cukup hanya berhadap-hadapan dengan akibat masalah, kita butuh lebih dari itu, menemukan sebabnya dan mencabutnya dari akar-akarnya.

Fokus menyelesaikan akibat-akibat, selain kurang efektif, juga tak mampu bertahan lama. Seperti seorang yang berusaha untuk menyembuhkan penyakit yang dideritanya dengan meminum obat saja tanpa berusaha untuk mencari tahu sebab penyakitnya. Penyakit yang sama akan sering kali dialaminya setelah obat yang diminumnya kehilangan pengaruhnya.

Bukan saja penyakit tersebut sulit disembuhkan, tetapi juga berpotensi menimbulkan penyakit yang lain akibat kelebihan meminum obat, misalnya. Kurang lebih begitulah keadaan kehidupan sosial kita hari ini, fokus menyembuhkan akibat, lupa mengatasi sebabnya. Kita kelebihan stok solusi, sehingga menambah daftar masalah baru, yaitu kumpulan solusi-solusi yang tidak solutif.

Masalah sosial tak lain adalah akumulasi dari masalah individu-individu. Keawaman masyarakat kita menjadi sebab utama dan akar dari masalah-masalah kehidupan sosial yang lain. Bukan karena pendidikan, keawaman tak punya relasi kausal dengan pendidikan. Terlampau sering kita mendapati orang yang berpendidikan, tetapi justru berpandangan awam, begitu pun sebaliknya.

Mengharapkan masyarakat kita untuk menjadi masyarakat ilmiah lebih dekat dengan utopis. Kita kehilangan harmoni kehidupan bukan karena masyarakat kita tak ilmiah, tetapi lebih kepada kurangnya kesadaran personal masyarakat kita untuk berpikir masuk akal.

Transformasi sosial hanya akan terjadi jika pengetahuan manusia telah sampai pada keyakinan personal. Ini diperoleh dari hasil berpikir masuk akal, yang pada gilirannya dapat menuntunnya untuk bergerak sendiri, tanpa menunggu stimulus dari yang lainnya. Oleh itu, dalam sebuah transformasi, baik transformasi kecil maupun transformasi yang besar, peran cara berpikir tak bisa dinafikan.

Saling melayani (harmonisasi) tak akan terjadi jika kita tak memahami manusia secara masuk akal. Sementara itu, tindakan saling mengusai (eksploitatif) terjadi karena memahami manusia secara salah. Persis pada titik ini, kita menyadari pentingnya berpikir masuk akal karena dapat melahirkan tindakan-tindakan yang benar, pun juga sebaliknya bahayanya berpikir secara tak masuk akal karena dapat melahirkan tindakan-tindakan yang salah.