Banyak yang tidak kita sadari bahwa seluruh aktivitas manusia memiliki dampak terhadap lingkungan. Salah satu dampak yang paling berasa saat ini adalah kontribusi manusia terhadap emisi gas rumah kaca.

Efek rumah kaca merupakan proses naiknya suhu bumi yang disebabkan oleh perubahan komposisi atsmosfer. Perubahan inilah yang menyebabkan terjadinya pemanasan global.

Besarnya emisi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia ini disebut dengan jejak karbon (carboon footprint). Bepergian dengan kendaraan pribadi, penggunaan listrik, sampai penggunaan kertas adalah contoh kecil dari aktivitas yang berkonsekuensi terhadap munculnya emisi gas.

Menurut Badan Energi Internasional, industri kertas adalah industri terbesar keempat di dunia dalam penggunaan energi industri. Pabrik kertas mengonsumsi sekitar 6% dari total energi industri dunia sehingga menghasilkan emisi gas yang cukup tinggi.

Dilansir dari DocuSign, untuk menghasilkan 1 ton kertas, diperlukan 253 galon bensin dan 24 batang pohon. Bahkan 14% dari panen kayu global di dunia digunakan untuk membuat kertas.

Jika pohon digunakan terus-menerus tanpa adanya tanam ulang, deforestasi akan menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup kita. Padahal sejatinya pohon berperan penting terhadap penyerapan CO2 dari atsmosfer dan menghasilkan oksigen untuk bumi.

Setiap proses pembuatan kertas memerlukan bahan bakar seperti batubara, gas, minyak, maupun energi listrik. Apabila bahan bakar alam digunakan terus menerus, maka sumber daya yang tidak dapat diperbarui akan semakin tergerus.

Berbagai upaya dan penelitian dilakukan untuk menurunkan dampak emisi rumah kaca dari pembuatan kertas, pun menciptakan produk kertas yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Efisiensi energi merupakan salah satu upaya terpenting untuk mengurangi konsumsi energi industri dan pengurangan emisi karbon dioksida. Upaya ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, termasuk mengganti teknologi yang berpotensi terhadap penghematan energi.

Teknologi ramah lingkungan terus dikembangkan dengan tujuan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan energi dan meterial alam. Teknologi kogenerasi merupakan teknologi pembangkit uap dan listrik dengan pemanfaatan teknologi energi efisien. 

Selama lima tahun belakangan ini, teknologi kogenerasi dianggap mampu menurunkan kebutuhan energi pabrik. Di sisi lain, teknologi ini dapat mengurangi emisi karena mengurangi penggunaan bahan bakar dan digantikan ke bahan bakar nabati.

Selain penghematan energi, manajemen hutan untuk produksi kertas juga diperlukan untuk menurunkan dampak dari emisi gas rumah kaca. Salah satu upaya untuk menghindari dampak deforestasi adalah dengan mendirikan hutan yang dikelola secara bertanggung jawab.

Sejauh ini, badan yang menaungi legalitas hutan dengan pengelolaan bertanggung jawab diberikan oleh Forest Stewardship Council (FSC). Sertifikasi FSC pada hutan industri diberikan untuk menghindari degradasi hutan dan deforestasi besar-besaran.

FSC juga memberikan label pada produk kemasan kertas untuk menunjukan bahwa perusahaan turut mendukung perlindungan hutan dan juga memberikan nilai tambah bagi bisnis.

Namun, sejauh ini, hutan di Indonesia belum ada yang memiliki sertifikat FSC. Produk kemasan kertas seperti Tetra Pak pun mengklaim jika kertas yang digunakan berasal dari hutan bersertifikasi FSC di Eropa dan Amerika.

Artinya, menggunakan kemasan Tetra Pak juga masih meninggalkan jejak karbon yang tinggi mengingat produk yang digunakan bukan berasal dari produk setempat dan juga dilihat dari proses daur ulang kemasan yang sangat panjang.

Pemerintah seharusnya mendorong industri Tanah Air untuk mengelola hutan industri yang bertanggung jawab.  

Perusahaan kertas Asian Pulp and Paper (APP) Sinar Mas punya inisiatif untuk menekan besaran emisi gas industri. Salah satunya dengan program Manufaktur Bersih sebagai inovasi untuk upaya penghematan energi dan sumber daya alam.

Selain itu, APP Sinar Mas juga mendirikan program berbasis agroforestri. Program ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat dalam menjaga lingkungan tanpa melakukan praktik tebang bakar yang berisiko terhadap kebakaran hutan. 

Untuk ke depannya, APP Sinar Mas diharapkan juga dapat mengantongi hutan industri yang bersertifikat pengelolaan yang bertanggung jawab.

Membahas tentang jejak karbon kertas memang tidak ada habisnya. Penggunaan limbah kayu untuk produksi kertas, inovasi teknologi untuk efesiensi energi, sampai manajemen hutan dilakukan untuk menekan besaran emisi gas yang dihasilkan.

Yang paling penting dari berbagai upaya yang dilakukan adalah kesadaran individu untuk bijak menggunakan kertas. Bijak memakai kertas sama halnya berkontribusi terhadap keberlangsungan hidup kita (sustainable living). 

Gerakan 5 R, yaitu refuse, reduce, reuse, recycle, dan rot adalah upaya yang saya lakukan untuk bijak menggunakan kertas dalam kehidupan sehari-hari.

Refuse berarti berusaha menolak hal yang berpotensi menghasilkan limbah kertas. Meminta struk belanja dengan email, mengganti tisu dengan sapu tangan, sampai menerapkan sistem e-learning selama mengajar adalah upaya yang saya lakukan untuk menolak penggunaan kertas.

Meski demikian, apabila menggunakan kertas baru masih diperlukan, upaya yang bisa dilakukan adalah reduce artinya mengurangi penggunaannya semaksimal mungkin.

Sisa limbah kertas yang masih ada, reuse atau gunakan kembali jika masih bisa digunakan. Membuat memo dengan kertas bekas dapat dijadikan alternatif untuk kembali menggunakan limbah kertas. 

Recycle merupakan upaya untuk mengelola kembali sisa sampah menjadi industri rumah yang bermanfaat. 

Yang terakhir dari 5R adalah rot; artinya, membuat kompos dengan bahan kertas. Benarkah kertas bisa menjadi bahan kompos? Beberapa jenis kertas seperti koran dan kertas karton bisa digunakan untuk pupuk tanaman karena kaya akan kandungan karbon organik, nitrogen, fosfor, dan kalium.

Mari mengurangi besaran angka jejak karbon dengan bijak menggunakan kertas. Satu langkah nyata adalah satu langkah untuk menyelamatkan bumi kita.