Karakteristik Kepemimpinan Rasulullah

Sebagai seorang Nabi dan Rasul, Rasulullah telah memainkan peran yang sangat mengagumkan dalam misi mendakwahkan Islam di Jazirah Arabia. Dalam melaksanakan tugasnya sebagai pembawa risalah kenabian, Rasulullah mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari kaum kafir Quraisy pada saat itu. Meskipun demikian, Rasulullah tetap mendakwahkan Islam dengan cara yang damai dan santun tanpa menaruh dendam terhadap musuh-musuhnya.

Sifat tersebut adalah bukti bahwa Rasulullah memang seorang yang mempunyai kepribadian yang luhur. Adalah al-Quran sendiri yang menegaskan, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah (Muhammad saw.) teladan yang baik bagi siapa saja yang mengharap (anugerah) Allah dan (ganjaran di) Hari Kemudian, serta banyak menyebut nama Allah (QS. al-Ahzab [33]: 21).”

Rasulullah membawa begitu banyak prinsip dan ajaran luhur bagi umat manusia. Tak ada satu pun dari prinsip atau ajaran tersebut yang berlawanan dengan kehidupan. Rasulullah menyampaikan risalah yang beliau emban dengan penuh percaya diri dan keyakinan tanpa keraguan sedikit pun.

Sebagai seorang pemimpin, menurut Choudhury (1993) dan Watt (1961), Nabi Muhammad bukan hanya seorang pemimpin spiritual yang berjaya, sebaliknya merupakan ketua negara (stateman) dan pentadbir (administrator) yang berjaya.

Manakala dalam konteks pembawa perubahan (reformer) baginda telah berjaya menghasilkan revolusi yang signifikan dalam cara hidup dan pemikiran masyarakat Arab. Watt (1961) telah memaparkan tiga (3) kualitas kehebatan diri Nabi Muhammad (SAW) yang menyebabkan tersebarnya pengaruh Islam ke seluruh dunia, yaitu:

  1. Mampu melihat jauh ke masa depan (visioner)
  2. Kebijaksanaan sebagai ketua negara (stateman); dan
  3. Kemahiran sebagai pemimpin dalam memilih seseorang untuk di tempatkan pada jabatan tertentu.[3]

Dalam perannya sebagai seorang pemimpin, Rasulullah memiliki karakteristik yang sangat baik dalam memimpin umat, agama dan negara. Semuanya itu dijalaninya dengan total penuh kejujuran, integritas, kedisiplinan, cinta, dan kasih sayang. Salah satu contoh ketika menyikapi orang yang melakukan kesalahan.

Pada saat ada seorang badui yang buang air kecil di dalam masjid, Rasulullah membiarkan seorang badui tersebut. Padahal sahabat-sahabatnya pada saat itu sangat marah dan ingin rasanya memberikan ‘pelajaran’ kepada orang tersebut.

Tetapi kemudian Rasulullah bersabda, “Biarkanlah ia, dan siramlah bekas kencingnya sampai bersih. Sesungguhnya aku diutus untuk mempermudah sesuatu bagi manusia, bukan untuk mempersulit dan menjadikannya berat.” (HR. Bukhari).

Karakter seorang pemimpin yang baik memang telah dimiliki Rasul sejak muda. Rasulullah terkenal berbudi pekerti baik, tidak ada suatu kejelekan yang dituduhkan kepadanya, tidak suka minum minuman khamr, tidak suka mendatangi tempat-tempat perjudian dan permainan yang membuat lalai yang pada umumnya digemari masyarakat Arab pada saat itu. Beliau juga terkenal sebagai orang yang berbudi luhur, berkepribadian yang kuat dan dapat dipercaya (al-Amin).

Sebagai seorang pemimpin, Rasul juga sangat dekat dengan umatnya. Sampai-sampai Rasulullah mengenal umatnya lebih banyak ketimbang mereka mengenal diri mereka sendiri. Rasulullah juga suka bercengkrama dengan orang-orang fakir-miskin.

Para sahabat Nabi ketika diminta persaksian, sepakat bahwa sebagai seorang pemimpin Rasulullah adalah Panutan Agung yang benar-benar sosok yang teladan. Pribadi paling mulia; tidak bengis, tidak kaku, tidak kasar, tidak suka mengumpat dan mencaci, tidak menegur dengan menyakitkan hati, tidak membalas keburukan dengan keburukan, tapi memilih memaafkan.

Beliau sendiri menyatakan, seperti ditirukan oleh sahabat Jabir r.a, “Innallaaha ta’aala lam yab’atsnii muta’annitan...”, sesungguhnya, Allah tidak mengutusku sebagai utusan yang keras dan kaku, tapi sebagai utusan yang memberi pelajaran dan memudahkan.

Tidak hanya itu, dalam kepemimpinanya, Rasulullah juga memiliki sikap keberanian dan ketegasan, terutama pada saat berada di medan perang melawan musuh. Rasulullah terkenal juga sebagai pemimpin yang pandai mengendalikan diri, sabar dan mempunyai daya tahan, adil dan egaliter.

Para Rasul memiliki kedudukan yang sangat strategis, baik dalam bidang keagamaan maupun dalam bidang interaksi sosial kaumnya. Dengan demikian, para Rasul memiliki tugas ganda, yakni menjaga kebenaran ajaran agama (hirasat ad-din) dan menjaga kedamaian publik (hirasat ad-dunya).

Hal ini dapat dilihat dari praktek Nabi saw. yang memiliki peran ganda dalam kehidupannya. Selain sebagai penyampai risalah, Nabi juga menjabat sebagai hakim yang memberikan keputusan hukum bagi anggota masyarakat yang sedang berselisih. Pada waktu yang bersamaan, Nabi juga berstatus sebagai kepala negara yang memiliki hak layaknya seorang pemimpin negara pada umumnya.

Berbicara tentang kepemimpinan, terdapat banyak pendapat mengenai tipe-tipe dan ciri-ciri ideal seorang pemimpin, dapat dikemukakan disini adanya tiga tipe kepemimpinan, yaitu:

1. tipe kepemimpinan yang bersifat transaksiona (transactional leadership);

2. tipe kepemimpinan yang bersifat transformatif (transformational leadership);

3. tipe kepemimpinan moral yang memimpin dengan dirinya, dengan karakter dan kepribadiannya sendiri (moral leadership).

Dari ketiga tipe kepemimpinan di atas, Rasulullah termasuk kedalam nomor 2 dan 3. Sebagaimana yang telah di jelaskan pada pembahasan sebelumnya. Rasulullah mampu menggabungkan antara dua tipe kepemimpinan sekaligus, kepemimpinan transformatif dan kepemimpinan berdasarkan moral. Kemahiran seperti ini yang kemudian menjadikan Rasulullah di cintai umatnya.

Dalam gaya kepemimpinannya, Rasulullah mengedepankan sikap (a) ‘sidiq’, jujur, benar dan selalu menjaga diri dari perbuatan dosa dan kesalahan. Kemudian sikap (b) ‘fathonah’, kecerdasan, memiliki pengetahuan dan pengalaman yang luas, intelektual dan profesional, (c) sifat ‘amanah’, kredibilitas dan dedikasinya diakui, terpercaya dan legal, (d) sifat ‘tabligh’, yaitu komunikator yang komunikatifyang didasari nilai-nilai kebenaran Islam.

  Fase-Fase Kepemimpinan Rasulullah

Berbicara tentang fase kepemimpinan Rasul, maka kami disini akan memetakan menjadi dua fase; fase kepemimpinan Rasul di Makkah dan fase kepemimpinan Rasulullah di Madinah.

   A. Fase Makkah

Sebagai seorang Rasul yang lahir dan pertama kali diutus oleh Allah di kota Makkah, Nabi Muhammad saw. mempunyai peran sebagai pemimpin agama di kota tersebut. Karena mulai dari sanalah Rasulullah mendakwahkan Islam kepada masyarakat Makkah. Dalam dakwahnya, Rasulullah mengedepankan cara-cara yang baik sebagaimana telah di bahas pada bab sebelumnya.

Sebagai pemimpin agama, fokus ajaran yang disebarkan oleh Nabi Muhammad tidak berbeda sama sekali dengan ajaran-ajaran nabi-nabi sebelumnya, yang isinya antara lain mengajarkan tentang tauhid. Hanya ada satu Tuhan Yang Maha Esa, pencipta alam semesta, berbahagia orang-orang yang ada di surga jika tetap tawakkal mengerjakan perintah-perintah Tuhan dan memperoleh siksa di neraka jika ingkar kepada suruhan Tuhan.

Setelah wahyu yang pertama turun, Jibril tidak muncul lagi untuk beberapa lama, sementara itu Nabi Muhammad saw. menantikannya dan beliau selalu datang ke Gua Hira. Dalam kedaan menanti itulah turun wahyu QS. al-Muddatsir [74]: 1-7, yang menegaskan kepada beliau untuk berdakwah secara sembunyi-sembunyi.

Pertama kalinya beliau berdakwah secara sembunyi-sembunyi di lingkunganya sendiri dan dikalangan rekan-rekannya. Karena itulah, orang yang pertama kali masuk Islam adalah Khadijah, istri Rasulullah dan sepupu Rasulullah yang masih berumur 10 tahun, Ali bin Abi Thalib.

Rasulullah melakukan dakwah secara diam-diam selama tiga tahun, setelah itu turunlah perintah allah agar rasulullah berdakwah secara terang-terangan. Perintah tersebut terdapat pada QS. al-Hijr [15] : 94, ‘Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik’. Dakwah model seperti ini yang kemudian dipertahankan oleh Rasulullah sampai akhir hayat beliau.

Secara fakta historis tentang usaha-usaha Nabi dalam membentuk masyarakat islami di Mekkah, Rasulullah menggunakan proses evolusi sosio kultural. Nabi tidak langsung mengubah Mekkah secara cepat, tetapi secara bertaha-tahap yang membutuhkan waktu yang lama yaitu 13 tahun pada periode Mekkah.

Dalam ayat-ayat al-Quran pada masa awal kenabian memiliki sifat yang ringkas, padat, dan tegas, tapi mengindikasikan gugatan terhadap orde sosial yang hampir membeku. Kalimat-kalimat yang menggelegar seperti ledakan gunung berapi adalah bukti pentingnya pembenahan sosial yang sangat dramatis.

Aktualisasi nilai agama dalam kehidupan sosial yang selama ini berlaku di Makkah dan seluruh jazirah Arabaia mengandung implikasi perombakan menyeluruh terhadap berbagai penyimpangan yang pada saat iru berkembang.

Ajaran Islam secara keseluruhan merupakan respon Tuhan atas kenyataan alam berikut fenomenannya. Islam membawa rahmat dan kasih sayang bagi seluruh umat manusia. Ajarannya mengandung azas perlindungan kemerdekaan sekaligus mengatur dalam batas-batas penggunaannya bagi setiap individu.

Ini secara tidak langsung berimplikasi pada pelestarian persaudaraan dan persamaan dalam menjalankan hak kehidupan. Sedangkan kenyataan sosial berbanding terbalik dengan konsep Islam.

Dengan kata lain, misi utama Nabi sebagai seorang pemimpin keagamaan di Makkah adalah untuk mendekontruksi kebiasaan-kebiasaan masyarakat Arab yang bertentangan sama sekali dengan Islam (perjudian, meminum khamr, perzinahan, politeis). Serta melakukan koreksi/merekontruksi terhadap kebiasaan masyarakat Arab yang masih bisa di tolerir (pembatasan empat istri). Dan melestarikan budaya masyarakat yang sejalan dengan nilai-nilai Islam (jual beli, pernikahan).

   B. Fase Madinah

Lain Mekkah, lain pula Madinah. Setelah selama 13 tahun Rasulullah melakukan revolusi di Makkah, Rasulullah melakukan hijrah ke Madinah. Hal tersebut di karenakan kondisi masyarakat Arab yang pada saat itu yang di komandoi oleh kaum kafir Quraish melakukan penolakan secara keras dakwah Nabi dan juga para pengikutnya.

Nabi Muhammad saw. hijrah ke Madinah pada dua Rabi’ul Awal, 1 H/20 September 622 M, dengan diantar oleh sahabatnya, Abu bakar. Guna menghindari pengejaran, perjalanan hijrah tidak langsung  ke arah Utara, melainkan menempuh jalan arah Selatan Mekkah dan berhenti sejenak di Gunung Tsur.

Walaupun telah menempuh cara yang demikian pada akhirnya diketahui juga tempat persembunyianya. Pada saat kritis ini, Nabi Muhammad saw. mengingatkan Abu bakar yang di dera rasa takut dan khawatir dengan wahyu Allah swt, dalam Surat QS. at-Taubah [9] :40.

Setelah berhijrah ke Madinah, selama 10 tahun, Nabi melakukan pembinaan kekuatan begitu efektif mengubah segalanya. Semua potensi kekuatan penduduk madinah oleh Nabi di persatukan dalam satu kesepakatan yang sering disebut Piagam Madinah. Dari sekedar pemimpin agama ketika masih di Mekkah, setelah di kota Madinah Nabi sekaligus tampil menjadi pemimpin Negara. Konsolidasi membuahkan sukses besar.

Dilihat dari struktur sosial dan budaya, penduduk Madinah cenderung lebih heterogen di bandingkan Mekkah. Mereka terdiri atas berbagai macam etnis dan kepercayaan serta memiliki adat istiadat dari masing-masing suku. Mungkin hal ini akibat corak ekonomi pertanian yang banyakmendorong mereka untuk hidup secara mandiri dan tertutup, bahkan menciptakan persaingan.

Berbeda dengan kehidupan pedagang di tengah-tengah padang pasir, seperti halnya suku-suku di Mekkah, yang relatif saling bergantung satu sama lain. Ketika Islam masuk ke Madinah, komposisi budaya dan masyarakatnya kian beragam.

Melalui sensus yang telah dilakukan, Rasulullah mendapat keterangan bahwa  ada 10.000 penduduk yang mendiami kota madinah yang terdiri dari; 1500 Muslim, 4000 Yahudi 4500 orang musyrik Arab.

Nabi Muhammad saw. juga menentukan langkah strategis dengan membatasi secara fisik dari sudut-sudut kota Madinah bertujuan batasan-batasan wilayah tersebut merupakan batasan dalam negara kota. Selanjutnya dijadikan wilayah yang dilindungi oleh seluruh masyarakat Madinah.

Komunitas penduduk Madinah pada saat permulaan Nabi Muhammad saw. dan para sahabatnya menetap di kota ini terdiri atas, pertama, kaum Arab Madinah yang telah masuk Islam dan disebut Anshar. Kedua, orang-orang Arab Mekkah yang hijrah ke wilayah tersebut disebut Muhajirin.

Ketiga, masyarakat Madinah penyembah berhala. Keempat, kaum Yahudi Madinah  (Bani ‘Auf, Bani an-Najjar, Bani Sa’idah, Bani al-Harits, Bani Jusyam, Bani al-Aus, Bani Syutaibah, Bani Tsalabah, Bani Jafnah). Kelima, penganut agama Nasrani. Dan, keenam, kaum munafik.

Penting untuk melihat tatanan sosial politik yang dibangun Rasulullah di Madinah pada saat awal Islam menjadi penentu peradabannya. Pembentukan masyarakat Madinah pada saat itu dalam terminologi politik saat ini, menurut para ahli politik, dapat dikategorikan sebagai negara.

Robert N Bellah dalam karyanya yang berjudul Beyond Belief menyatakan, Muhammad saw. tidak memulai dakwahnya dalam sebuah kerajaan dunia yang besar dan terorganisasikan dengan baik, melainkan hanya dalam sebuah masyarakat kesukuan yang belum mencapai struktur politik yang dapat disebut sebagai negara.

Lebih lanjut lagi Bellah menegaskan, tidak diragukan lagi bahwa di bawah kepemimpinan Muhammad, masyarakat Arab telah membuat suatu langkah maju yang mencolok dalam hal kompleksitas sosial dan kapasitas politiknya. Kapasitas politik umatnya pada saat itu termasuk yang paling modern pada masanya.

Sementara  itu, Philip K Hitti dalam bahasa yang berbeda mengatakan, dari komunitas keagamaan di Madiah inilah kemudian lahir sebuah negara Islam yang lebih besar. Masyarakat baru yang terdiri atas orang-orang Muhajirin dan Anshar itu di bangun atas dasar agama, bukan hubungan darah. Allah menjadi perwujudan supremasi negara. Nabinya, ketika masih hidup, adalah wakil-Nya dan penguasa tertinggi di dunia.

Dengan demikian, Rasulullah di samping menjalankan fungsi keagamaan, juga memegang otoritas duniawi seperti yang dimiliki oleh kepala negara dewasa ini. Semua yang hidup dalam komunitas itu, tanpa melihat afiliasi kesukuan dan loyalitas lama, kini menjadi saudara.

Harun Nasuttion mengatakan, di Madinah Nabi Muhammad bukan laigi hanya mempunyai sifat Rasulullah, melainkan juga memiliki sifat kepala negara. Dalam istilah lain, Nabi Muhammad adalah pemegang kekuasaan spiritual sekaligus kekuasaan temporal. Hampir seluruh wilayah di Jazirah Arab berhasil masuk kedalam pangkuan Islam pada waktu Nabi Muhammad masih hidup dan memimpin kaum muslimin yang berbasis di Madinah.

Gerakan-gerakan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya dalam membangun masyarakat mengundang kekaguman banyak orang, terutama para penulis sejarah, baik dari Timur maupun Barat.

Bahkan, seorang penulis Barat bernama Michael Hart pernah mencengangkan dunia setelah menerbitkan bukunya yang berjudul 100 tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah di New York, Amerika Serikat. Di buku tersebut Nabi Muhammad menjadi tokoh di peringkat pertama.

Marshall GS Hodgson dalam karyanya, The Venture of Islam, juga menyatakan, “Muhammad telah menciptakan pemerintahan lokal yang baru yang didirikan atas pandangan kenabiannya.

Namun, setelah itu, pemerintahan tersebut mencapai dimensi internasional yang bejangkauan jauh. Dengan cepat ia telah menjadi kekuatan yang bersaing di Arab bukan hanya dengan kaum Quraisy, melainkan juga dengan Kekaisaran Byzantium dan Kekaisaran Sassaniah. Peperangan-peperangan telah menciptakan Kekaisaran Arab. Ini merupakan prestasi-prestasi yang hebat sekali”.