Bila akal telah terasah pemahaman, bila jiwa telah terpatri keyakinan maka lahir motivasi yang menjadi energi luar biasa untuk berbuat, bertindak, berjuang dengan kerelaan diri sampai mati demi misi yang mengendali diri.” 

Begitulah ungkapan Mualimbusu Syam Muhammad dalam bukunya yang berjudul Motivasi Perang Sabil di Nusantara. Ungkapan tersebut juga mampu menggambarkan dahsyatnya semangat umat islam dalam momentum merebut kemerdekaan dari para penguasa kafir yang hendak menjajah ibu pertiwi.

Bukti semangat persatuan umat islam dalam mempertahankan bangsa ini dapat kita lihat dalam berbagai peristiwa-peristiwa yang mewarnai sejarah pergerakan bangsa itu sendiri. 

Umat islam selalu menorehkan prestasi-prestasi mengagumkan yang patut diteladani di setiap perlawanan yang mereka lakukan terhadap pemerintah kolonial. Empat puluh Kesultanan Islam di nusantara pun ikut andil dalam upaya melakukan pengusiran terhadap segala bentuk penjajahan di bumi Indonesia.

Pada tanggal 29 September 1945, Tentara sekutu dan NICA mendarat di Jakarta, Semarang, dan Surabaya serta Sumatera, sedangkan pemerintah RI tidak melakukan perlawanan yang nyata terhadap tindakan NICA dan sekutu.

Maka perhimpunan Nahdlathul Ulama seluruh Jawa dan Madura beserta bala tentara Jepang mengadakan rapat besar-besaran pada tanggal 21-22 Oktober 1945 untuk mengambil sikap yang jelas terhadap keberadaan tentara sekutu yang melakukan penyerangan terhadap sebagian wilayah NKRI.

Dalam rapat tersebut, para ulama mengajukan resolusi jihad pada pemerintah RI. Isi resolusi jihad tersebut mengandung inti bahwa bangsa Indonesia harus melanjutkan perjuangan yang bersifat sabilillah melawan penjajah demi tegaknya Negara Republik Indonesia dan agama Islam.

Konfrontasi umat islam dengan penjajah pun tidak hanya terjadi dalam peristiwa resolusi jihad saja. Nampak dalam setiap peperangan dalam upaya mengusir penjajah di berbagai wilayah tanah air, tokoh-tokoh islam selalu hadir memimpin umat dalam menyuarakan semangat perlawanan yang berlandaskan semangat jihad di jalan Allah (sabilillah).

Mereka tak sedikit pun gentar terhadap serangan-serangan musuh. ’Isy karimaan au mut syahidaan (hidup mulia atau mati syahid) telah menghujam dalam jiwa-jiwa mereka. Sebab dengan menanamkan niat tersebut, kalah ataupun menang adalah dua hal yang sama-sama diharapkan.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan dahsyatnya semangat umat islam dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah, selain faktor sabilillah (semangat jihad di jalan Allah) yang telah diuraikan sebelumnya. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, umat islam sadar betul bahwa membela tanah air adalah bagian dari keimanan seorang muslim, Hubbul wathaani minal iman (cinta tanah air adalah sebagian dari iman). Bagi muslim sejati, kesempurnaan iman salah satunya terletak pada kecintaan mereka terhadap  tanah air. 

Umat islam wajib bertindak terhadap segala hal yang mengancam kedaulatan bangsanya sendiri, menghapus semua bentuk kedzaliman termasuk kolonialisme dari tanah air. Kesadaran inilah yang menyebabkan gelora semangat yang tidak dapat terbantahkan lagi bagaimanapun keadaannya, bahkan bila harus bertaruh nyawa.

Kedua, sikap nasionalisme yang menyeluruh (universal) juga merupakan salah satu faktor tumbuhnya semangat luar biasa dalam diri umat Islam. Nasionalisme yang menempatkan unsur utama, yaitu bangsa dan agama sebagai dua hal yang patut dan setara untuk diperjuangkan sampai titik darah penghabisan.

Mereka tidak rela jika harga diri bangsa terutama agama diinjak-injak oleh para penjajah kafir di Negara Indonesia. Nasionalisme yang dibangun atas kesadaran perintah agama sehingga mampu menyulut api semangat perjuangan. Nasionalisme yang membuat mereka tak gentar sedikit pun dalam memperjuangkan hak-hak bangsa.

Ketiga, faktor yang menyebabkan terbentuknya daya semangat pada diri umat islam dalam sepak terjang melawan penjajah adalah upaya untuk menyelamatkan aqidah ketauhidan masyarakat Indonesia yang perlahan tergerus karena berkuasanya sistem neo kolonialisme di Indonesia.

Sebab para penjajah saat itu  tidak hanya melakukan penjajahan secara fisik semata, namun mereka melakukan penjajahan aqidah terhadap masyarakat muslim Indonesia. Hal ini dapat terlihat dari upaya mereka dalam menyebarkan kristenisasi besar-besaran dan penjajahan agama di negeri ini.

Karena inti dari penjajahan saat itu adalah upaya membangkitkan kembali momentum semangat perang salib sejak runtuhnya kekhalifahan Turki Utsmani pada tahun 1924. Hal ini dapat terlihat dari bagaimana Kerajaan Kristen Protestan Belanda dan Kerajaan Katolik Portugis berambisi mengalahkan Kesultanan Islam di Nusantara.

Berdasarkan beberapa faktor di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa sebagian besar faktor yang menyebabkan tumbuhnya gelora semangat umat Islam di dalam sejarah pergerakan bangsa ini serta patut diteladani. Umat Islam memiliki andil yang besar dalam mengusir para penjajah dari bumi nusantara.

Sebab hal itu tidak terlepas dari adanya dorongan spiritual nasionalisme universal yang dibangun atas kesadaran menegakkan serta mempertahankan aqidah dan ketauhidan umat Islam di Indonesia, membebaskan umat dari sempitnya belenggu penjajahan menuju luasnya kemerdekaan yang didasari rahmat Allah SWT .