Topik di atas dapat melahirkan banyak pertanyaan. Satu pertanyaaan penting dan menggugah kita misalnya, apakah Allah begitu “lemah” dan tidak berdaya dihadapan fenomena ekstrimisme agama? Bukankah Dia Mahakuasa? Dengan demikian Allah dapat mengatasi kekacauan itu.

Melihat aksi-aksi kekerasan atas nama agama baik di Timur Tengah maupun di negera kita, bisa dibayangkan jumlah orang yang harus meninggal. Misalnya, kelompok  ISIS setidaknya telah membuat jutaaan orang menderita dan harus meninggalkan tanah kelahirannya demi mencari tempat yang aman.

Saya sebenarnya akan membatasi refleksi ini pada logika kaum ekstrimis agama. Diskusi mengenai Kemahakuasaan Allah di hadapan kejahatan sebenarnya mesti dibahas secara khusus. Namun setidaknya beberapa pertanyaan di atas dapat menggugah keimanan kita dan sedikit ada kaitan dalam menelaah logika kaum ekstrimis agama. Masalah-masalah kejahatan yang disandingkan dengan Kemahakuasaan Allah, dalam istilah teologi disebut teodicea.

Singkatnya, mengapa kejahatan itu mesti ada jika Allah itu Maha Kuasa. Mengapa Dia tidak saja menghilangkan kejahatan itu? Bagi umat beriman, kita yakin bahwa kejahatan di dunia pasti tidak berasal dari Allah. Saya tidak akan masuk lebih dalam lagi perihal ini. Kita dapat mencari penjelasan tentang teodicea baik di Internet maupun di beberapa buku.

Refleksi ini secara khusus menelaah logika dibalik aksi para ekstrimis agama. Sebelum lebih lanjut meneelah logika kaum ekstrimis, ada baiknya lebih awal kita mesti bersepakat bahwa tindakan kaum ekstrimis agama yang menghalalkan darah orang “kafir” maupun orang yang tidak sejalan dengan kelompoknya misalnya ISIS tidak dapat dibenarkan.

Tentu kelompok ekstrimis agama justru akan mengklaim bahwa tindakan mereka dibenarkan Allah karena mendasarkan diri pada perintah Allah dalam  Kitab Suci. Karena saya bukan seorang alhi tafsir Al-Quran maupun Alkitab, saya tidak akan menyinggung lebih jauh karena itu merupakan persoalan interpretasi/penafsiran yang bidangnya cukup kompleks dan rumit.

Mari kita coba menelaah beberapa cara berpikir kaum ekstrimis agama. Pertama, membunuh orang kafir karena mereka tidak sejalan dengan “Perintah Allah”. Konsekuensinya darah orang  kafir atau siapapun yang tidak sejalan dengan kelompoknya,  darahnya dihalalkan.

Bukankah lebih baik mereka (kaum ekstrimis) mesti mengajarkan ideologi mereka dengan cara yang wajar sehingga orang ‘kafir’ pun dapat mualaf? Kalau mereka mengakui semua manusia ciptaaan Allah bukankah mereka telah mengambil hak Allah untuk mengakhiri nyawa seseorang. Mereka seolah-oleh bertindak seperti Allah. Dan bukankah dosa terbesar dalam agama khususnya dalam agama abrahamik (Yahudi, Kristen, Islam) yaitu tindakan manusia yang menyamakan diri dengan Allah.

Kedua, membunuh orang ‘kafir’ demi pahala masuk surga. Anggapan dalam setiap agama pada umumnya bahwa orang yang tidak mengikuti perintah Allah maka dia akan masuk neraka. Singkatnya, hukuman akan dia terima setelah kematian. Namun  cara berpikir kaum ekstrimis agama mengharuskan orang kafir atau yang tidak ‘sejalan’ dengan perintah Allah, setidaknya menurut paham mereka, harus dilenyapkan dari muka bumi.

Bukankah orang yang dianggap ‘kafir’ itu telah dihukum lebih awal? Dengan demikian berarti dia tidak lagi dihukum setelah kematian? Kalau anggapan kaum ekstrimis ini benar, bukankah Allah yang diimani itu begitu kejam? Apalagi itu terjadi pada manusia sebagai ciptaan-Nya paling luhur. Bukankah Allah Yang Mahakuasa itu justru memiliki cara-cara sendiri untuk menyelamatkan manusia juga orang yang kita anggap kafir.

Di sisi lain, Allah justru melarang kita untuk membunuh satu sama lain. Kalau memang Allah ingin menyelatakan orang kafir bukankah cara terbaik melalui dakwah damai? Lantas kalau kaum ekstrimis  membunuh orang ‘kafir’ atau orang yang tidak sejalan dengan kelompoknya atas nama Allah, bukankah Allah justru mengajarkan kekerasan pada umat-Nya.

Ketiga, menganggap agama atau kelompoknya paling benar. Paham kebenaran tunggal ini cenderung menjadi sangat problematis dan justru menimbulkan berbagai konflik. Anggapan ini pada umumnya diakui setiap agama dan juga diakui kelompok ekstrimis misalnya ISIS maupun kelompok ekstrimis lainnya di tanah air.

Kalau mau lebih realistis, konflik yang sering terjadi biasanya antara tiga agama abrahamik yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam. Sementara jika kita melihat sisi historis dan jejak biblis ketiga agama ini bersumber dari sejarah dan jejak biblis yang sama. Ketiga-tiganya mengakui hampir seluruh nabi dalam Taurat. Itu artinya, Allah yang diimani sama dan satu. Maka anggapan diri yang paling sempurna dan benar kiranya tidak relevan lagi apalagi harus membunuh yang berbeda.

Akan sulit diterima kiranya, meneriakan Allah yang satu dan sama untuk membantai satu sama lain. Maka  sebenarnya, secara teologis, cara berpikir kaum ekstrimis agama dengan sendirinya sesat dan kontradiktif. Allah yang kita imani penuh kasih dan penyayang  namun di sisi lain Dia membenarkan pembunuhan atas nama-Nya. Sesuatu yang tragis dan bukankah dengan alasan itu kita lebih tidak beriman pada Allah?

Karena beriman justru membawa banyak malapetaka dan penderitaan bagi manusia. Untuk beberapa alasan sederhana di atas, saya dapat memberanikan diri bahwa cara berpikir kaum ekstrimis tidak dapat diterima apalagi dibenarkan.

Sebuah Permenungan Teologis

Melihat ketiga cara berpikir kaum ekstrimis agama di atas, harapan yang mendalam adalah agar kita tidak terjerumus dalam cara berpikir mereka. Hidup beragama merupakan perihal yang berkaitan dengan hal-hal transenden. Artinya, melampui indrawi dan bahkan melampui akal-akal manusia. Kita tidak boleh bersikap arogan dalam hidup beragama karena sikap itu bertentangan dengan esensi dari agama itu sendiri.

Agama tidak dapat diperlakukan begitu saja seperti ilmu-ilmu lain di mana  akal sebagian besar berperan. Tentu tidak bermaksud bahwa dalam beragama kita tidak menggunakan akal lagi. Justru beriman tanpa akal juga akan menjadi buta seperti kaum ekstrimis. Tapi hal yang mau ditekankan di sini adalah sikap dalam beragama. Ketika menganggap diri paling benar, kita seolah-olah memahami seluruh isi Kitab Suci yang mendasarkan pada Wahyu.

Sementara Kitab Suci secara keseluruhan merupakan hal-hal kompleks dan tentu tidak berarti tidak bisa dipahami. Justru kompleksitas Kitab Suci (Wahyu) setidaknya membuat kita “berhati-hati” untuk menganggap diri paling tahu sehingga dengan mudah mengklaim diri paling benar dan paling tahu.

Selain itu, sosok Allah yang misteri dan mahakuasa itu , paling tidak menyadarkan kita untuk bersikap penuh kerendahan untuk memahami Allah. Kalau kita merasa diri bahwa kita  seolah-olah sudah mengetahui seluruh maksud Allah maka Dia tidak misteri lagi. Untuk itu, kita tidak bisa mengatakan secara pasti dan penuh keyakinan bahwa Allah menginginkan orang kafir mesti lenyap dari muka bumi.

Kita juga tidak dapat memahami secara pasti mengenai adanya pluralitas agama-agama itu. “Mungkin” saja Allah dalam kemisterian-Nya punya maksud yang sulit kita pahami. Jalan terbaik adalah kita mencoba menemukan benih-benih kebenaran dari setiap agama daripada mengklaim diri paling benar apalagi membunuh satu sama lain. Dan setidaknya itu lebih manusiawi dan sejalan dengan esensi dari agama yang mengajarkan kedamaian.