Pendidikan merupakan alat yang pada umumnya masyarakat masih dipercaya sebagai dunia pencerdasan, pencerahan, dan pembentukan karakter manusia dalam proses memanusiakan manusia. Pendidikan adalah kemanusiaan manusia. Sangat jelas kenapa pendidikan, menurut Sutan Rajasa dalam buku Kamus Ilmiah Populer, dikategorikan dan dikelompokkan menjadi kebutuhan pokok manusia selain kebutuhan akan pangan, sandang, dan papan.

Pendidikan secara umum menurut jenisnya dapat dibedakan menjadi tiga jenis yakni pendidikan formal, pendidikan non-formal, dan pendidikan in-formal. Namun umumnya yang lebih dikenal dalam dunia pendidikan adalah pendidikan formal dan non-formal.

Salah satu yang ingin penulis tuliskan adalah mengenai pendidikan formal, yang mana menekan pada bagaimana melati atau mendidik budaya berpikir kritis sejak usia sekolah dasar atau pada anak sekolah dasar. Berpikir kritis merupakan salah satu jenis berpikir yang dipandang lebih banyak memiliki nilai positif, baik untuk manusia itu sendiri (pemikir) maupun dalam menyelesaikan problematika (mengambil kebijakan).

Salah satu yang ditawarkan dari berpikir kritis adalah menemukan yang menjadi titik persoalan yang sedang dihadapi secara benar dan terhindar dari kesalahan dalam melihat maupun menilai sesuatu. Selain itu, dengan berpikir kritis seseorang diharapkan dapat lebih jeli dalam mengambil sebuah kebijakan, baik berkaitan dengan dirinya maupun orang banyak.

Dalam pendekatan sekolah dasar biasanya cenderung anak-anak dididik untuk menjadi pengikut, penurut, dan selalu disalahkan dari setiap apapun yang dilakukan peserta didik dalam umur sekian. Sehingga sampai dewasa budaya seperti itu tidak pernah terselesaikan sampai anak itu memasuki dunia pendidikan tinggi.

Coba bayangkan seorang sudah mahasiswa atau belajar dipergunakan tinggi tapi tidak pernah dididik untuk berpikir kritis. Sampai-sampai mahasiswa yang dipandang sebagai kaum intelektual tapi terlihat dalam pencarian solusi untuk problematika yang tak kunjung menemukan solusi, bahkan berapa banyak mahasiswa yang bunuh diri karena problem hidup yang tidak menemukan solusi selain bunuh diri. Sadar atau tidak, ini sangat berkaitan dengan berpikir kritis (berpikir secara kritis).

Perlu kita sadari bahwa belajar di waktu muda lebih gampang daripada belajar di waktu tua. Ini berkaitan dengan daya tangkap dan daya ingat seseorang. Belajar di waktu muda bagaikan melukis di atas batu, sedangkan belajar di waktu tua bagaikan melukis di atas pasir. Sangat mudah dihapuskan oleh ombak.

Paling produktif dalam menerima pendidikan adalah saat masih umur kanak-kanak yang kemudian dalam pendidikan formal dikenal dengan pendidikan sekolah dasar. Di sinilah berbagai anak dari berbagai latar belakang keluarga berkumpul dan menjadi pendidikan pertama setelah pendidikan dalam keluarga.

Pendidikan dalam keluarga anak belum begitu menghadapi berbagai problem. Namun ketika sudah menjadi satu dengan anak-anak seusia dari keluarga lain, maka pasti akan menghadapi problematika yang berbeda.

Selain persoalan tersebut pasti dibutuhkan juga untuk menyelesaikannya. Kesadaran untuk menyelesaikannya persoalan antar sekawan anak-anak tidak semuanya bisa, akan tetap dalam beberapa persoalan yang lain ternyata anak setingkat sekolah dasar bisa menyelesaikannya. Seperti mendamaikan temannya yang lagi bertengkar atau menghibur temannya yang diejek oleh temannya yang lain.

Memberikan anak-anak seumuran untuk menyelesaikannya problem antar teman sendiri memang belum masa/saatnya, apalagi masih umuran sekolah dasar. Namun perlu diketahui bahwa seorang guru mempunyai tanggungjawab untuk mendidik dan membudayakan anak untuk berpikir kritis sejak dalam usia sekian.

Oleh karena ini, kalau kamu termasuk pendidik atau orang tua yang menginginkan anak-anaknya untuk berpikir kritis lakukan beberapa metode berikut ini agar anak anda selalu membudayakan untuk berpikir kritis sejak dini. Pertama, setiap apa pun yang dilakukan anak anda jangan mudah langsung dimarahi atau diberi peringatan maupun nasihat, tapi budayakan ia dengan bertanya tentang alasan-alasannya melakukan hal tersebut dan apa tujuannya.

Kedua, cobalah anda memberikan kesempatan untuk anak anda agar memberikan solusi dan pandangan terhadap suatu persoalan, seperti saat anda nonton TV dengan anak berilah ia kesempatan untuk menceritakan kembali dan anda yang menjadi pendengar yang selalu memberikan pertanyaan setiap cerita yang membingungkan anda.

Ketiga, ajaklah anak-anak anda untuk bermain di kalayak ramai. Sekarang mudah ditemukan seperti pariwisata dan berikan/biasakan anak anda untuk berkomunikasi dengan orang lain sehingga anak anda tidak menjadi anak yang tertutup terhadap setiap kejadian atau peristiwa yang ada disekitar lingkungannya.

Sekian adalah tiga metode yang dapat anda coba lakukan dalam pendidikan anak baik di keluarga maupun sekolah dasar. 

Meningkatkan budaya berpikir memang banyak cara dan metodenya yang dapat disesuaikan dengan tingkat umur tertentu. Namun ada hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam menerapkan setiap metode di antaranya:

  1. Melihat umurnya agar mudah untuk memilih metode yang sesuai dengan anak tersebut, maka hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengenali dunia anak tersebut.
  2. Gunakan metode yang berbeda-beda, hal ini untuk menghindari kejenuhan anak. Karena biasanya untuk anak-anak sangat cepat jenuh dan bosan.
  3. Paling efektif dalam sebuah metode adalah melalui permainan, karena anak-anak usia tingkat sekolah dasar sangat suka dengan hal-hal yang berbauh permainan. Maka manfaatkan hal tersebut untuk menghasilkan pendidikan anak dengan menggunakan metode permainan.

Sekian dan selamat mencoba, semoga berhasil.