Jika kita melihat orang lain memiliki baju baru, tas baru, rumah yang mewah dan harta yang berlimpah tentu kita juga mendambakannya. Apapun yang orang lain miliki terkadang terbesit di dalam hati berharap suatu saat nanti kita pun bisa memilikinya. Perasaan seperti ini menjadi fitrah  sekaligus menjadi fitnah bagi manusia.

Perasaan tersebut menjadi fitnah apabila berubah menjadi rasa iri dan dengki. Terus menerus menginginkan apa yang orang lain miliki atau capai. Sehingga timbul rasa benci bila melihat orang lain memiliki suatu hal yang baru maupun mencapai pencapaian yang baru pula yang lebih dari diri nya. Maka diperlukan keimanan yang baik untuk membatasinya.

Keimanan yang baik tidak saja menjadikan manusia hanya memimpikan hal dunia akan tetapi juga mendambakan kebaikan kelak di akhirat. Seseorang yang melihat orang lain memiliki kelebihan dalam hal agama, misalnya telah mampu menghafal Al-Qur’an di usia muda, mampu melantunkan tilawah dengan baik, rajin beribadah, dan banyak berkontribusi dalam dakwah ia pun ikut mendambakannya.

Kecenderungan ini terjadi karena di dalam hati seseorang itu terdapat suatu proses yang mampu meningkatkan keimanannya dalam memahami agamanya. Inilah yang di sebut dengan ghithbah yakni menginginkan kenikmatan orang lain tanpa membenci dan mengharapkan hilangnya nikmat dari orang tersebut.

Adapun menurut Ustadz Abdullah Aziz Abdur Rauf dalam buku yang beliau tulis, beliau mengatakan bahwa ada beberapa perasaan yang harus menjadi pertanyaan dan perhatian yang perlu kita renungkan dalam diri antara lain:

Pertama, adakah perasaan iri dalam diri kita (ghithbah) ketika kita melihat saudara kita memiliki kemampuan berinteraksi dengan Al-Qur’an yang lebih baik? Ataukah diri kita ini hanya iri dan mendambakan sesuatu yang terkait dengan harta yang dimiliki saudari kita saja dan malah mengabaikan interaksi kita dengan Al-Qur’an. Jika demikian maka terbukti telah hilang  asy-syu’ur al-qur’ani dalam diri kita.

Apabila hati telah di kuasai oleh asy-syu’ur ad-dunyawi maka apapun akan dilakukan demi mendapatkannya. Manusia memang mempunyai karakter berkompetensi akan tetapi karakter yang tidak terarah malah akan menjadi hal buruk bagi orang yang melakukannya.

Kedua, sudahkah kita menjadi sahabat akrabnya Al-Qur’an? Benarkah kelak di akhirat kita berharap akan mendapat syafa’at dari Al-Qur’an? Dan alangkah malangnya hidup di akhirat tanpa mendapat syafa’at, karena pada hari itu yang mana tidak ada seorang pun yang mampu menolong saudaranya kecuali dengan seizin Allah swt.

Ketiga¸ kualitas iman kita diukur dengan sejauh mana kualitas dan kuantitas interaksi kita dengan Al-Qur’an. Apakah kita masih bersikap masa bodoh sehingga tidak merasa sedih apabila sehari tanpa mengaji? Jika tidak bersedih hati, maka sangat dikhawatirkan kita akan menjadi manusia yang mengabaikan Al-Qur’an.

Keempat, pernahkah kita menghitung berapa banyak informasi tentang hal-hal yang bersifat duniawi misal lebih banyak mencari-cari informasi tentang sekolah-sekolah favorit supaya tidak ketinggalan jaman dibandingkan dengan informasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan Al-Qur’an?

 Jika demikian maka segeralah bertaubat kepada Allah swt. dan lakukanlah upaya untuk kembali kepada Al-Qur’an agar kita tidak dikecam oleh Allah swt. sebagaimana yang sudah dicontohkan oleh salafus salih mereka selalu menjadikan Al-Qur’an sebagai materi pertama dan yang paling pertama dipelajari daripada ilmu-ilmu yang lainnya.

Kelima, Rasulullah saw. menjelaskan bahwa orang tua yang berhasil mendidik anaknya dekat dengan Al-Qur’an akan mendapat penghargaan yang sangat tinggi di sisi Allah swt. dan tidakkah hadis ini menggugah diri kita, sebagai orang tua, untuk memberi perhatian yang lebih pada anak-anak kita dalam pendidikan Al-Qur’an.

Sebuah fenomena yang sangat disayangkan apabila orang tua merasa sedih jika anaknya tidak pandai berbahasa inggris atau tidak dapat mengoperasikan komputer, atau nilai matematikanya berwarna merah, atau tidak memiliki bakat khusus sebagaimana teman-temannya sedangkan kenyataannya mengaji Al-Qur’an nya terbengkalai setiap harinya. Padahal, sesungguhnya, kemampuan dan kesungguhan kita dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an merupakan jaminan kehidupan di akhirat nanti, bahkan di dunia.

Buktinya telah banyak para penghafal Al-Qur’an menjadi juara-juara tiap kali diadakan musabaqah karena Allah swt. sendiri telah menjamin kesuksesan hidupnya. Contoh lain, bagaimana mungkin seorang anak dapat mencintai Allah swt. kalau tidak dapat menikmati shalatnya?  Dan bagaimana mungkin bisa shalat dengan baik apabila sangat lemah kemampuan membacanya khususnya hafalan surah-surah pendek karena kurang berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Isi Al-Qur’an sesungguhnya menjelaskan bagaimana semua urusan dunia itu bisa mengantarkan manusia kepada suksesnya urusan akhirat. Dengan adanya asy-syu’ur al-qur’ani juga akan menjaga kita dari sikap menjauhi atau pun mengabaikan Al-Qur’an dan malah akan menambah semangat kita untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an lebih lama.

Sebelum semuanya terlambat, perlunya kesadaran akan pentingnya pendidikan Al-Qur’an ini. Apapun yang menjadikan alasan dalam diri perlu kita koreksi kembali karena Al-Qur’an ini merupakan kunci sukses dimana pun kita berada.

Para ulama terdahulu telah banyak membuktikan pentingnya memiliki kecenderungan terhadap asy-syu’ur al-qur’ani ini daripada hanya mendambakan asy-syu'ur al-dunyawi. Semoga kita sampai keturunan kita nanti termasuk dalam golongan orang-orang yang senantiasa menjaga dan mendambakan keberkahan Al-Qur’an di dunia maupun di akhirat nanti, dimana keberkahan tersebut ialah keindahan hakiki yang dinanti-nanti oleh tiap umat manusia.