Seperti menahun saya tidak menjalani hidup sebagaimana orang-orang yang nampak bahagia. Tetapi percayalah, saya bahagia. Pulang-pergi Starbucks tanpa menyecap makanan baik; pada sebuah meja dengan dua kursi dan satu terminal listrik, café itu telah menjelma rumah kedua bagi saya. Kopi telah menjadi teman baik.

Bicara tentang teman, selain kopi, sebuah laptop dan dua smartphone adalah sahabat paling mengasyikkan bagi saya. Yang lain hanya selingan.

Laptop itu untuk saya menulis juga mengasuh anak kami, IslamLib. Satu tablet untuk membaca buku digital. Satu Android untuk berkomunikasi dengan para selingan. Biar bagaimanapun, selingan hidup tetap dibutuhkan tho?

Saya tidak pernah merasa terasing dengan kehadiran tiga benda menakjubkan hasil revolusi kognitif manusia itu. Ketika menyendiri di sebuah cafe: menggumuli tulisan demi tulisan dan bercengkrama dengan Frank Sinatra yang selalu mengusap-lembut telinga saya, tak ada kebahagiaan yang lebih sejati dari momen semacam ini.

Saya selalu dipenuhi nuansa magis sekaligus romantis karenanya. Apalagi belakangan ini gerimis mulai berkunjung malu-malu di beberapa wilayah Jakarta.

Dan saya, tidak pernah merasa terganggu seperti saat ini. Pada momen ini: ketika jenuh dan nelangsa tetiba menyergap entah dari mana. Menyusul kemudian pertanyaan: “Mengapa saya berada di sini sendirian? Mengapa segala aktivitas yang semula saya nikmati kini kurang begitu menantang?”

Saya yakin jawabannya bukan karena butuh seorang teman. Sebab, seperti telah saya kemukakan berulang-ulang, penyatuan manusia dengan manusia lainnya seringkali melahirkan keterasingan yang paling mencekam. Kebutuhan akan saling pengertian yang lebih sering mengandung arti: “lihat dan pahami aku.”

Maka saya merasa lebih nyaman menjalin hubungan jarak jauh dengan kawan-kawan tercinta. Melalui berbagai fasilitas di sosial media, komunikasi bisa terbangun lebih interaktif dan sarat dengan empati yang tulus. Juga lebih efisien.

Saya juga percaya, dunia yang saya gumuli selama ini adalah percampuran antara gairah dan inti kehidupan: mimpi, cita-cita. Jadi ini pasti bukan berasal dari apa yang mereka sebut “kesesatan orang liberal”.  Malah saya bersukur karena berada dalam dunia yang berupaya menjauhi pelekatan stigma sesat nan durjana itu.

Lalu apa masalahnya? Saya menggali jawaban dari tiga orang teman yang pernah dekat dengan saya beberapa tahun lalu.

Ketika saya bertanya kepada kawan yang “alim” (ia teman di pesantren dahulu), jawabannya mudah ditebak: “Karena kamu kehilangan pegangan (ajaran agama).” Lantas saya dibujuknya untuk kembali mendekat pada tradisi kami di pesantren: ritual-ritual.

Saya menghomati pandangannya sembari dengan halus mengusulkan: “Bagaimana jika ritual itu saya ganti dengan menulis saja?”

Kawan saya menutup telepon dengan cepat, seperti ingin menghindari pandangan-pandangan saya yang besar kemungkinan membuatnya jengah. Saya pikir, itu langkah yang bijak. Sebab, tanpa melanjutkan diskusi yang hanya akan mengarah pada debat kusir, mungkin persahabatan kami bisa bertahan lebih lama lagi.

Lalu ketika saya menanyakan ini pada teman yang gemar membaca buku (ia teman di forum kajian mahasiswa), saya disodorinya banyak bacaan.

Agak ironis sebetulnya. Sebab jika benar pecandu buku, sudah sepatutnya dia tahu bahwa membaca dalam kondisi  linglung hanya sia-sia saja. Membaca harus dilakukan dalam kondisi sadar, segar-bugar. Dengan begitu kita tidak semata menghabiskan waktu memelototi kata demi kata yang hampa.

Terakhir, saya bertanya pada kawan lama yang tidak peduli agama juga tak suka membaca. Dulu, kawan ini berada di deretan teman-teman cantik saya yang menjalani hidup sangat simpel: bekerja, working-out, bersenang-senang.

Ia tak pernah dilanda kecemasan teramat hebat. Cita-citanya sangat sederhana: menikah dan bisa sedikit kaya. Dan kebanyakan dari teman-teman cantik saya ini, telah berhasil meraih cita-citanya. Tapi saya tidak tahu apakah mereka bahagia atau tidak.

Selama bertahun-tahun saya merasa nyaman bergaul dengan kawan yang satu ini. Sebab, pekerjaannya melatih ia agar mau berteman dengan siapa saja. Ia tidak pilih-pilih teman menurut latar belakang agama ataupun pendidikan. Prinsip berteman yang dianutnya hanya satu: selama orang tersebut tidak ‘norak’ kalau sewaktu-waktu diajak main bilyar atau menikmati hentakan musik yang jauh dari genre pop atau jazz.

Jawaban kawan yang satu ini membuat saya termenung lama. Ia berkata: “Lo butuh alternatif hobi, bro!” (Bro kependekan dari brother. Entah mengapa kami memilih cara tersebut untuk saling menyapa, mengingat kami sama-sama perempuan).

“Alternatif hobi. Well, jawaban yang cukup masuk akal,” gumam saya.

Lantas saya teringat seorang teman yang tak putus-putusnya mengagumi Haruki Murakami. Semua orang tahu, penulis asal Jepang dengan riwayat hidup yang menginspirasi banyak orang untuk menjadi penulis tersebut, juga seorang pelari. Ia bahkan menulis risalah tentang berlari. Teman saya yang mengaguminya—besar kemungkinan karena merasa sama-sama pelari dan penulis— mengilhami saya untuk menjadikan lari sebagai hobi alternatif.

Para pelari mungkin banyak yang tersinggung jika saya menjadikan lari sebagai hobi alternatif. Tetapi apa boleh buat, saya adalah orang baru, newbie, dalam jenis olahraga yang satu ini. Jadi bagi saya, ini masih bersifat trial and error.

Menurut teman saya, tantangan terbesar dari menggauli olahraga lari adalah mood. Lho, sama dengan menulis dong?

Tetapi, pikir saya, mungkin karena karakternya sama, maka dua hal ini bisa saling melengkapi. Saya berseloroh: “Jadi, sewaktu-waktu Haruki Murakami bosan menulis, ia akan berlari?”

Anehnya, tidak demikian. Murakami justru, dalam pandangan saya, lebih disiplin dalam berlari daripada menulis. Meskipun, hasil renungannya yang tak lebih disiplin dari program larinya itu kemudian melahirkan novel-novel yang luar biasa.

Singkat cerita, saya mulai aktif berlari. Setiap pukul lima pagi saya bergegas menuju stasiun, mengambil KRL jurusan Depok untuk kemudian berlari di kawasan lingkar dalam Universitas Indonesia. Saya senang berlari di sini. Sebab, lingkungannya yang sangat hijau juga dipenuhi mahasiswa yang membuat saya bernostalgia pada masa-masa kuliah dulu.

Satu minggu sudah saya menekuni hobi ini. Tetapi, apakah rasa jenuh saya hilang?

Nyatanya, sedikit saja ia terobati. Saya tetap tak bisa melarikan diri dari gelisah. Tulisan-tulisan yang saya siapkan tak beranjak dari kondisinya sebagai draft kasar. Apa pula ini! Berulangkali saya memarahi diri sendiri. Tetapi semakin saya meledak, semakin ia jauh dari kesadaran. Bawaannya hanya mau tidur dan makan. Hobi alternatif telah dikeluarkan dari jadwal keseharian. Hari ini saya urung berlari di UI.

Saya sepertinya melupakan satu hal: semakin bersikap keras terhadap diri sendiri, atau siapapun, maka kita akan semakin jauh dari tujuan semula yang mulia. Semakin kita memaksa, maka semakin sulit tujuan mulia tersebut menemukan maknanya.

Penemuan saya saat ini: rupanya mendekati dan merayu diri sendiri yang dilanda kejenuhan sama sulitnya dengan menaklukkan hati yang telah tertutup. Perlu usaha dan kesabaran ekstra.

Beruntung saya menemukan sebuah artikel menarik dari seorang editor untuk Newsweek, Temma Ehrnfeld. Rupanya ia pernah mengalami masa-masa menjenuhkan yang kurang lebih sama dengan yang saya alami. Artikelnya dibuka dengan pernyataan yang sangat menghentak buat saya: “I hate it when people say, “I never get bored.” The other phrase I hate is “If you’re bored, you’re boring,” katanya.

Dalam artikel tersebut ia ingin menunjukkan bahwa kejenuhan adalah fenomena yang sangat mungkin menyerang siapa saja. Bahkan, menurutnya, rasa jenuh telah tertanam dalam diri setiap manusia. Ia berpijak pada riset yang dilakukan Dr. Irving Biederman, seorang neuroscientist dari Universitas Kalifornia Selatan, Los Angeles.

Temuan Biederman, selain bahwa kejenuhan adalah fenomena umum manusia, juga mengerucut pada satu kesimpulan. Bahwa untuk menghindari kejenuhan, alangkah baiknya jika kita senantiasa mencoba hal-hal baru. Atau, bisa juga dengan menekuni dunia (pekerjaan, hobi) yang telah kita hidupi sekian lama, secara lebih intens dan sungguh-sungguh.

Biederman mengatakan, “Cara paling ampuh mengatasi kebosanan adalah dengan mengerjakan sesuatu yang benar-benar Anda sukai, sesuatu yang benar-benar Anda kuasai; something you are good at.”

Kesimpulan Biedermen di atas sebenarnya sudah sering kita jumpai. Tetapi, terkadang sebuah gagasan bisa begitu masuk dalam pikiran ketika ia bersinggungan langsung dengan kondisi yang tengah kita hadapi.

Maka saya bersukur menemukan artikel tersebut, bukan karena berjumpa dengan gagasan yang telah lama saya kenal. Tetapi karena sebuah penemuan: bahwa di tengah kondisi paling memuakkan yang terjadi pada diri seorang manusia, selama ia bisa dengan sabar menungguinya selesai merajuk, maka selalu ada jalan keluar.

Bagi sebagian orang jalan keluar itu bisa saja berupa doktrin agama. Tetapi bagi saya, apa yang  keluar dari sebuah tuntutan tidak akan menghasilkan kesadaran yang maksimal. Mungkin hanya berupa kesadaran sementara, yang besar kemungkinan akan mengantarkan kita pada kejenuhan-kejenuhan serupa. Kunci dari segala persoalan diri, karenanya bagi saya, adalah diri kita sendiri. Bukan berasal dari orang lain ataupun sesuatu berupa agama, misalnya.