Meski negara dinilai oleh banyak pihak gegabah dan belum siap, normal baru atau new normal sudah diberlakukan kini. Niat hati ingin menumbuhkan perekonomian mikro, justru yang tumbuh cepat angka kasus Covid-19 secara makro.

Efek dari penerapan new normal  ini salah satunya adalah banyaknya penyelenggaraan pesta pernikahan atau hajatan. Semenjak awal juli saja saya sudah mendapat 3 undangan pernikahan. Di akhir bulan lebih banyak lagi. Total kondangan sekitar 8 tempat untuk bulan ini. Juli belum berakhir, datang lagi 2 undangan untuk Agustus.

Sungguh menguras dompet tipis dan membuatnya menjadi habis, ditambah lagi saya masih menganggur. Sedikit lowongan kerja dibuka di masa-masa seperti ini adalah penyebabnya. Mengandalkan bisnis online jualan tanaman hias, tak mampu mempertebal isi dompet.

Tapi demi menjaga silaturahmi maka saya tetap hadir. Meskipun sesekali hanya amplopnya alias nitip. Hal tersebut saya lakukan karena masih agak ngeri bakalan tertular jika datang langsung ke tempat.

Apalagi pernah saya datang langsung dan melihat penerapan protokol kesehatan kurang disiplin. Beberapa tamu undangan yang lain masih ada yang tidak menggunakan masker, salah satunya. Selain itu kursi tamu tidak diberi jarak dan makanan ringan yang disediakan tidak dikemas satu-satu. Oleh sebab itu risiko penularan lewat sentuhan cukup mengerikan.

Kemudian saya yang cukup waswas dengan menghindari bersalaman dengan calon mempelai atau tamu yang lain, membuat saya merasa rikuh sendiri. Bagaimana tidak? Sering kali tamu yang lain mengajak salaman masa harus saya tolak terus? Kan tidak enak. Dan katanya tidak enakan akan kill you slowly~

Yang paling membuat kagok dari datang langsung kondangan adalah budaya salam tempel. Di beberapa hajatan di tempat saya, Purbalingga, jarang disediakan kotak untuk menyumbang atau memasukkan amplop. Sehingga mau tak mau harus melakukan salam tempel. Yaitu bersalaman dengan calon pengantin sekaligus menempelkan dan memberikan amplop kita.

Salam tempel menjadi kekagokan terbesar karena harus bersalaman di saat harus menghindari kontak langsung untuk meminimalisasi penularan virus. Meskipun disediakan hand sanitizer, tentu saja masih ada rasa khawatir.

Oleh karena itu lebih baik untuk nitip amlop saja kepada teman. Selain dapat terhindar dari salaman, kita juga dapat terhindar dari kegiatan berkumpul.

Walaupun demikian kita tetap harus memaklumi mengapa mereka menyelenggarakan pesta pernikahan di saat pandemi belum tuntas. Banyak alasan yang melatarbelakangi hal tersebut.

Alasan yang pertama adalah mereka sudah merencanakan pernikahan sebelum pandemi ini dimulai. Tetapi nasib berkata lain. Penundaan harus dilakukan. Daripada menunda momen bahagia terlalu lama akibat ketidakjelasan kapan pandemi berakhir, lebih baik di saat-saat normal baru ini diberlakukan. Pesta dan hubungan menjadi sah.

Alasan tersebut menjadi penting, karena siapa sih yang mau menunda kebahagiaan lama-lama? Ditambah lagi yang menunda kebahagiaan tersebut adalah sesuatu yang di luar kehendak kedua belah pihak. Wong, masih pacaran saja minta segera dinikahi, apalagi yang sudah menentukan jadwal. Ya harus secepatnya, dong.

Alasan yang kedua ini agak menarik, nih. Pasalnya secara kebetulan normal baru berlaku mendekati hari raya Iduladha. Di mana dalam kalender Jawa, bulan besar, bulan di mana jatuhnya hari raya Iduladha adalah waktu terbaik untuk melangsungkan pernikahan. Konon pasangan yang menikah di bulan ini akan dikaruniai rezeki dan keselamatan yang melimpah. Semoga benar. Amin.

Alasan ketiga yaitu mereka sudah menerapkan protokol kesehatan yang dianjurkan. Dalam undangan pun ditegaskan bahwa tamu yang datang wajib mengenakan masker. Selain itu disediakan pula hand sanitizer dan tempat cuci tangan. Kursi-kursi tamu juga diberi jarak satu sama lain. Mereka secara maksimal sudah berupaya menerapkan hal itu.

Tetapi mengapa masih ada rasa khawatir? Ya jelas karena tamu-tamu lain yang tidak disiplin itu. Beberapa ada yang belum menggunakan masker. Baru datang tidak mencuci tangan dahulu. Menyebalkanlah pokoknya.

Mungkin orang-orang ini terkena pengaruh Jerinx dan Anji, yang argumennya aneh-aneh mengenai virus Covid-19. Teori konspirasilah, ribet sekolah online-lah, menolak rapid test-lah, dan tentu saja dengan segala upaya pembenarannya.

Lalu tibalah di alasan yang terakhir, alasan yang nyeleneh tapi bisa saja benar. Mereka menggelar acara pernikahan di waktu-waktu mendekati hari kemerdekaan ini, Juli-Agustus, sebagai bentuk perlawanan kepada negara. Mereka kecewa kepada langkah-langkah pemerintah dalam menangani pandemi. Ditambah lagi DPR RI yang curi-curi kesempatan membahas Omnibus Law, RUU yang hanya pro pada kepentingan elite penguasa dan pengusaha.

Bentuk kekecewaan itu mereka salurkan dengan mengganti bendera merah putih yang biasa terpasang di pinggir jalan dengan janur kuning. Mengganti gapura dengan tenda biru. Dan mengganti bendera plastik yang digantung dengan hiasan daun kelapa muda. 

Alasan yang lebih baik bukan hanya untuk sekadar kita maklum, tetapi ikut mendukung. Inilah bentuk melawan dengan gembira yang sesungguhnya.

Semoga alasan-alasan itu bisa membuat kita maklum terhadap mereka yang ingin hajatan di waktu yang kurang tepat. Dan kita dapat ikut berbahagia atas pernikahannya, meskipun kita pun tahu jika mau menyusul mereka masih butuh waktu yang lama.