Dunia ini menyuguhkan banyak sekali pilihan, salah satunya adalah pilihan akan sebuah bentuk hubungan.

Mencintai merupakan sifat alamiah manusia. Kita dikenalkan dengan bentuk cinta semenjak kecil. Familiar dengan dongeng tentang putri raja yang akhirnya menikah dengan pangeran impiannya? Tentu sudah tidak asing lagi.

Semakin bertambahnya umur, bentuk cinta pun berubah menjadi sebuah perasaan. Dari mengagumi artis, hingga menyukai kakak kelas. Seiring berjalannya waktu, kita pun sadar bahwa cinta bukanlah sebuah ilusi, melainkan perasaan yang nyata. 

Semakin beranjak dewasa, perasaan tersebut terus berkembang dari menyukai, mencintai, hingga rasa ingin memiliki. Hal tersebutlah yang menjadi landasan terbentuknya sebuah hubungan.

Dalam membentuk sebuah hubungan pun, masing-masing orang memiliki cara yang berbeda. Ada yang tergantung oleh kepribadian, kecocokan, hingga bagaimana mereka dibesarkan. Oleh karena itu, seringkali kita jumpai pasangan yang memiliki aturan ketat dalam hubungannya, pun ada yang menjalaninya dengan santai.

Walaupun begitu, kebanyakan masyarakat di Indonesia memiliki satu pandangan yang sama terhadap idealnya sebuah hubungan, yaitu satu orang yang mencintai satu orang seumur hidupnya. Kita mendefinisikan cinta sebagai sebuah kodrat yang telah memiliki aturan tetap, yang dimana pemikiran tersebut bukanlah sesuatu yang salah.

Sebaliknya, di budaya barat ternyata banyak yang memiliki pandangan berbeda mengenai cinta dan bentuk hubungan. Banyak dari mereka yang memiliki pasangan lebih dari satu, dan hal tersebut sudah termasuk lazim di negara mereka.

Kebebasan untuk berpikir dan berperilaku di negara barat terkadang membuat kita terheran-heran, bagaimana bisa mereka melakukan hal semacam itu? Namun justru itulah, semakin beragamnya budaya yang ada di dunia, semakin besar kesempatan kita untuk mempelajari sebuah fenomena. Dalam konteks ini tentulah cinta dan bentuk hubungan.

Berikut adalah kosa kata yang harus diketahui agar memudahkan penulisan dan pembaca:

  1. Bentuk hubungan dimana seseorang hanya memiliki satu pasangan disebut dengan monogamous relationship atau monogami
  2. Sebaliknya, bentuk hubungan dimana seseorang memiliki lebih dari satu pasangan disebut dengan polyamorous (atau polygamous) relationship, yang di Indonesia lebih dikenal dengan poligami dan poliandri


Berbeda dengan di Indonesia, mereka yang menerapkan polyamorous relationship di budaya barat tidak hanya menerapkannya ketika mereka sudah menikah, namun saat masih berpacaran sekalipun.

Polyamorous relationship tentunya memiliki consent atau persetujuan dari kedua belah pihak untuk memiliki pasangan lain. Namun berbeda dengan poligami atau poliandri di Indonesia, para polyamorist menyetujui kedua belah pihak untuk sama-sama memiliki pasangan lain di luar hubungan mereka.

Para "polyamorist" kebanyakan memiliki bentuk hubungan yang mirip, yaitu mempunyai satu orang pasangan utama, dan pasangan lainnya dianggap sebagai pasangan sekunder.

Untuk mempermudah gambaran akan perbedaan dari monogamous dan polyamorous relationship, yuk tonton video di bawah yang berisi tentang perspektif dari kedua sisi:

Can You Be In Love With Multiple People?

Lalu dengan adanya berbagai pandangan tentang bentuk hubungan, apakah mencintai masih selaras dengan kesetiaan? Apabila iya, mengapa bisa muncul fenomena polyamorous relationship?

Mari kita telusuri lebih lanjut. Apakah para polyamorist tetap merasakan cinta dalam hati mereka? Seperti yang ada pada video di atas, jawabannya adalah iya. Jadi, pada dasarnya kedua "format hubungan" baik monogamy dan polyamory melibatkan cinta dalam hubungan mereka. Dan yang membedakan tentulah bagaimana kedua belah pihak memilih bentuk hubungan mereka.

Bisa ditarik kesimpulan, bahwa dengan adanya cinta dalam polyamorous relationship, mungkin bisa jadi, bahwa mencintai tidaklah selaras dengan sebuah kesetiaan. Maka dari itu, mereka yang tidak mengutamakan nilai kesetiaan dalam hubungan memilih untuk menjalani polyamory.

Lalu dengan asumsi seperti itu, apakah untuk mencegah perselingkuhan kita semua harus menerapkan polyamory dalam hubungan kita?

Tentunya tidak.

Jika disuruh untuk jujur, banyak sekali orang di dunia yang ingin meraih lebih dari apa yang mereka miliki. Namun jika disuruh memilih, juga tidak sedikit yang memutuskan untuk mempertahankan apa yang telah mereka punya.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan dengan hawa nafsu. Seringkali sebuah pencapaian kita remehkan semakin bertambahnya waktu, karena kata 'puas' sudah pudar dalam hati dan pikiran kita. Sama halnya dengan berhubungan.

"Mempertahankan tidak semudah mendapatkan", begitu kata orang-orang. Tentu bukan hal yang mudah untuk mempertahankan apa yang kita miliki, namun tidak mudah bukan berarti tidak bisa.

Mencintai mungkin tidak selaras dengan kesetiaan. Namun cinta adalah bagian dari kesetiaan itu sendiri.

Semakin kesini, benar dan salah hanya dipisahkan oleh garis tipis yang nyaris tidak terlihat. Oleh karena itu, kita harus bisa menentukan apa yang kita butuhkan dan apa yang sebenarnya kita inginkan.

Dunia ini menyuguhkan begitu banyak pilihan, salah satunya adalah pilihan akan sebuah bentuk hubungan.

Jika dirimu adalah seseorang yang hanya ingin mencintai dan hidup bersama satu orang selamanya, maka jadilah seperti itu seterusnya. Nanti pada akhirnya kalian akan menemukan seseorang itu atau bahkan kalian yang ditemukan.

Sebaliknya, jika kalian bukanlah seseorang yang ingin mencintai dan hidup bersama satu orang selama sisa umur kalian, maka jadilah seperti itu seterusnya. Namun janganlah sekali-kali mencari orang yang mengutamakan kesetiaan dalam hubungan mereka.

Dengan mengetahui bahwa mencintai belum tentu selaras dengan kesetiaan, jangan jadikan asumsi tersebut sebuah patokan. Justru dengan mengetahui hal tersebut, kita harus mempertimbangkan, apakah orang yang kita cintai memiliki pandangan yang sama akan kesetiaan? Jika tidak, mungkin bukan dia orang yang tepat.