Jangan bawa-bawa konten kampanye politik dalam khotbah Jumat di masjid.

Imbauan seperti itu sering kita dengar dari MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan kalangan Ormas Islam. Sungguhnya itu sebuah permintaan yang positif.

Bayangkan, jika seorang khatib menyelipkan suatu agenda politik kelompok tertentu, jelas kacau. Lebih kacau lagi sembari memojokkan kelompok politik lain. Selain berpotensi memecah belah umat, juga akan mengurangi keutamaan ritual salat Jumat.

Saat ini, kita sedang menyambut momen kenduri demokrasi Pilpres dan Pileg 2019. Masalahnya, kadang kita menjumpai beberapa oknum khatib yang menyampaikan propaganda politik praktis. Mereka menyuruh memilih calon ini dan itu, sekaligus menolak pihak lain.

Lebih kompleks lagi manakala si khatib berlindung di balik pahaman bahwa perkara agama dan politik tidak bisa dipisahkan. Dalam konteks inilah dibutuhkan kearifan untuk menimbang risiko-risiko yang muncul tatkala politik yang penuh intrik dan kontestasi citra dibawa-bawa ke dalam mimbar jumatan.

Adalah benar bahwa agama dan politik tidak bisa dipisahkan. Tetapi politik yang apa dan bagaimana dulu?

Di musim politik kini, terkadang politik dipersempit maknanya hanya dalam urusan capres: memilih Jokowi-Amin atau Prabowo-Sandi. Padahal, politik itu lebih dari sekadar urusan merebut kekuasaan. 

Sementara ibadah salat Jumat harus dijaga sakralitasnya. Masjid harus steril dari permainan politik jangka pendek yang bisa memicu perpecahan.

Ironisnya, tak sedikit kita jumpai khatib menganjurkan atau menolak capres (termasuk calon kepala daerah) atau partai politik tertentu, kendati diungkapkan secara tersirat. Kepelikan bertambah runyam ketika “kampanye terselubung”  itu dijustifikasi lewat teks-teks agama.

Kompleksitas persoalan ini memerlukan kategorisasi yang jelas, yaitu kembali ke pertanyaan awal tadi: politik yang apa dan bagaimana dulu?

Pada prinsipnya, risalah politik hukumnya halal dijadikan tema dalam khotbah Jumat. Yang dimaksud adalah politik nilai yang bersifat keumatan dan kebangsaan. 

Inilah politik tingkat tinggi (high politics). Kontennya berupa pesan-pesan politik substantif untuk mengajak jemaah kepada cinta kasih, keadilan, kejujuran, perdamaian, dan lainnya.

High politics diletakkan dalam koridor mengajak kebaikan (amar ma’ruf) dan melarang keburukan (nahi munkar). Dengan begitu, khatib dapat bertindak sebagai bintang pemandu sekaligus tangki moral bagi para politisi, apa pun latar belakang warna politiknya. 

Narasi-narasi ketakwaan yang aktual seperti amanah dalam memegang jabatan, keberpihakan pada rakyat, antikorupsi, anti-intoleransi, dan sebagainya dapat diaksentuasi oleh khatib progresif.

Memang kelihatan klasik. Tetapi ibarat memutar lagu lama, tak ada salahnya diputar terus dengan nada yang merdu. Jangan sampai khatib melontarkan suara-suara bernada sumbang, mengoyak emosi jemaah melalui gaya komunikasi provokatif dengan kata-kata kasar.

Syukur-syukur kalau jemaah punya saringan nalar yang rasional dan kritis. Yang bahaya adalah jemaah dengan tingkat kognisi yang belum memadai. Terjadilah instabilitas perasaan dan reaksioner ketika mereka termakan khotbah provokatif.

Model khotbah provokatif biasanya sarat dengan pesan-pesan agresif. Bukannya menyampaikan koreksi yang konstruktif, malah menghina pemerintah. Bukannya meneguhkan integrasi antara Islam dengan Pancasila, malah mentogutkan dasar negara itu. 

Bukannya membawa pesan pemersatu bangsa, malah merusak Bhinneka Tunggal Ika dan mengacak-acak Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Khotbah berwatak kasar seperti itu sedapat mungkin dihindari dan dicegah. Alih-alih mendapat pencerahan selepas salat Jumat, para jemaah malah pulang dengan darah yang mendidih. Karena itu, ada baiknya kita perlu memikirkan manajemen komunikasi khotbah.

Sebagai komunikator (monolog), seorang khatib disarankan memiliki kecanggihan mengartikulasikan pesan-pesan dan nilai. Wawasan kebangsaan yang luas adalah nilai plus, malah sangat dianjurkan. 

Dalam menyampaikan isi khutbah, transfer pengetahuan seyogianya bertabur hikmah dan penuh kesantunan.

Yang pokok, tentu khatib harus menguasai ayat-ayat, hadis, dan diperkaya dengan pendapat para ulama maupun ilmuwan sains. Jangan lupa peka terhadap isu-isu aktual, agar khutbah kelihatan menarik, dan tidak garing. Agar jemaah tidak ngantuk. 

Idealnya, khatib progresif menguasai pokok-pokok ilmu agama sekaligus ilmu pengetahuan umum.

Dari segi konten, persoalan kontemporer dapat dijadikan rujukan untuk dicarikan solusinya. Ayat dan hadis yang relevan dikutip. 

Pada saat yang sama, kreativitas khatib dituntut untuk menawarkan solusi ilmiah sekaligus amaliah, secara tekstual maupun kontekstual. Materi khotbah disusun secara singkat, padat, dan jelas dengan bahasa yang sederhana.

Hal-hal yang harus dihindari adalah tidak mencaci maki, mengobarkan api permusuhan lantaran beda pilihan politik. Politik kekuasaan yang bersifat profan tidaklah pantas diangkut ke mimbar Jumat yang sakral.

Khatib juga tidak boleh menyampaikan politisasi unsur SARA, hoaks, ghibah, dan fitnah. Khotbah seperti ini dapat meningkatkan emosi jemaah.

Sebagai catatan, jemaah atau audiens tidak boleh diabaikan keberagamannya. Tingkat pengetahuan jemaah pun berbeda satu sama lain, termasuk afiliasi politiknya. Artinya, khotbah Jumat mewakili spektrum keberagamaan jemaah.

Adapun efek yang diharapkan adalah jemaah diajak untuk melakukan refleksi bagaimana mentransformasikan spirit agama untuk kebajikan bersama. Sehingga jemaah mendapat pencerahan untuk meningkatkan ketakwaan yang berdampak positif bagi seluruh warga negara Indonesia dan punya resonansi global.

Sudah saatnya kaum progresif atau moderat merebut mimbar Jumat untuk menyebarkan high politics demi mewujudkan umat yang berkemajuan. Jika kaum moderat hanya sekadar penonton, hanya mengeluh di medsos, maka bukan tidak mungkin mimbar Jumat malah akan diserobot oleh kelompok ekstrem.

Kita mendambakan khatib-khatib yang bisa mentransformasikan kecerdasan dan kearifan Nurcholish Madjid, Gus Dur, Buya Syafii Maarif, Yusril Ihza Mahendra, TGB M. Zainul Majdi, Jalaluddin Rakhmat, KH. Wahfiudin Sakam, Ustadz Abdul Somad,dan lain-lain, yang berkarakter progresif, inklusif, dan cinta damai.