Haerul Anwar, S.Kep., Ns dan Dr. Elsye Maria Rosa, M.Kep. (Mahasiswa dan Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)

Penulis: Haerul Anwar, S.Kep., Ns dan Dr. Elsye Maria Rosa, M.Kep. (Mahasiswa dan Dosen Magister Keperawatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta).


Kita mungkin pernah mendengar tentang tenaga kesehatan yang salah dalam melakukan tindakan medis seperti perawat salah dalam memberikan obat, dokter salah menuliskan resep obat dan salah dalam operasi, serta ahli gizi salah mengatur diet pasien. Masih banyak sekali contoh tentang kesalah medis yang sering terjadi di pelayanan kesehatan seperti RS, Puskesmas, Klinik, dan pelayanan kesehatan lainnya.

Dikutip dari www.ncbi.nlm.nih.gov sebuah penelitian yang dilakukan oleh James G. Anderson dan Kathleen Abrahamson dari Purdue University, West Lafayette, IN, USA memperkirakan bahwa sekitar 251.000 orang mengalami kematian karena kesalahan medis (Medical errors). Kesalahan medis merupakan faktor ketiga penyebab kematian di AS.

https://www.google.com/imgres?imgurl=https%3A%2F%2Fstatic1.squarespace.com%2Fstatic%2F53fb8721e4b0d77c232cec0d%2Ft%2F573136ec8259b541884a8bd0%2F1462843124796%2F&imgrefurl=http%3A%2F%2Fwww.euthanasianewsworld.com%2Fnews-and-information%2F2016%2F5%2F4%2Fmedical-error-is-the-third-leading-cause-of-death-in-the-us&docid=sRVWqmDvM0a1FM&tbnid=7HUWbDjNlMlXHM%3A&vet=10ahUKEwj7uKyzi6zfAhUTeH0KHR3TBkoQMwhIKA8wDw..i&w=304&h=166&safe=strict&bih=667&biw=1366&q=medical%20error&ved=0ahUKEwj7uKyzi6zfAhUTeH0KHR3TBkoQMwhIKA8wDw&iact=mrc&uact=8#h=166&imgdii=lmOPDfEzF9v-hM:&vet=10ahUKEwj7uKyzi6zfAhUTeH0KHR3TBkoQMwhIKA8wDw..i&w=304

Di Indonesia belum ada laporan kesalahan medis secara nasional mengenai jumlah kasus yang terjadi di pelayanan kesehatan. Pelaporan tentang kesalahan medis diperlukan untuk akreditasi RS, dan evaluasi terhadap kualitas pelayanan kepada masyarakat. Kesalahan yang sering terjadi di rumah sakit yaitu kesalahan pemberian obat kepada pasien. Kesalahan pemberian obat yang sering terjadi yaitu jumlah dosis yang tidak sesuai dengan resep, obat yang diberikan kepada pasien salah atau tertukar dengan pasien lain dan masih banyak lagi contoh kesalahan dalam pemberian obat.

Kesalahan medis dapat disebabkan karena kurangnya ketelitian dalam melakukan tindakan dan kelalaian, serta kurang kompetennya tenaga kesehatan. Dengan beban kerja yang begitu berat dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya kesalahan medis di rumah sakit. Dengan jumlah pasien yang begitu banyak di rumah sakit serta kurangnya tenaga  medis seperti perawat dapat menimbulkan stres yang mengakibatkan tenaga medis kurang teliti dalam memberikan pelayanan. Ketidaksesuaian antara jumlah tenaga kesehatan dengan jumlah pasien bisa menimbulkan kesalahan dalam melakkukan tindakan.

Dampak dari kesalahan medis tersebut dapat menimbulkan masalah bagi kesehatan pasien yang mulanya pasien sembuh setelah dirawat justru memunculkan komplikasi bahkan dapat menyebabkan kematian. Dengan demikian manajemen perawatan kesehatan memiliki kewajiban untuk selalu memberikan keamanan, dan pelayanan yang berkualitas dan perawatan kesehatan yang memuaskan bagi pengguna layanan dan penyedia layanan.

Keselamatan pasien merupakan bagian penting dalam memberikan asuhan pelayanan. Dengan demikian pemerintah perlu meningkatkan kemampuan tim medis dalam berkolaborasi antar profesi dengan menerapkan Interprofessional Education (IPE). Komunikasi yang tidak efektif di antara para profesional kesehatan sebagai salah penyebab kesalahan dalam pelayanan dan kurangnya kepuasan terhadap pasien. Kemampuan bekerjasama antar profesi merupakan hal yang sangat penting dalam memberikan pelayanan kepada pasien.

Perawat merupakan tenaga medis yang memberikan asuhan 24 jam kepada pasien. Sebagai tim medis yang memberikan asuhan secara terus menerus selama 24 jam kemampuan seorang perawat dalam berkomunikasi baik antar profesi, pasien, dan keluarga merupakan bagian yang penting dalam pelayanan.

Dengan demikian, peran paramedis dalam pelayanan kesehatan secara terintegrasi, utuh, dan berkelanjutan merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas asuhan yang diberikan kepada masyarakat. Dalam memberikan asuhan kepada pasien masing masing profesi memiliki kewenangan yang berbeda dalam tindakan yang diberikan. Manfaat dari penerapan interprofessional education yaitu menigkatkan kemampuan dalam berkolaborasi antar profesi serta mengembangkan keterampilan yang dimiliki oleh mahasiswa. Oleh karena itu, untuk meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan tentang peran dan tanggungjawabnya masing masing perlu dibina sejak masih dalam dunia pendidikan. Dalam hal ini pendidikan memiliki peran penting untuk menghasilkan lulusan yang mengerti tentang perannya dalam melakukan asuhan kepada pasien.

Oleh karena itu, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menggalakkan model pembelajaran Interprofessional Education (IPE) untuk menghasilkan lulusan yang kualitas dalam bidang kesehatan seperti dokter, perawat, farmasi, dan lain lain. Interprofessional Education (IPE) adalah salah satu model pembelajaran yang dilakukan lebih dari satu mahasiswa dari program studi kesehatan yang berbeda dalam meningkatkan kemampuan bekerja sama dengan profesi lain untuk meningkatkan kualitas asuhan kesehatan. 

Dalam pembelajaran IPE mahasiswa diberikan sebuah kasus serta langsung berhadapan dengan pasien, kemudian mahasiswa melakukan asuhan kesehatan sesuai dengan peran masing masing. Setelah mahasiswa selesai melakukan asuhan kesehatan kemudian dilakukan diskusi kelompok atau disebut tutorial untuk membahas penanganan yang tepat diberikan pada kasus pasien. Dalam diskusi mahasiswa dimotivasi untuk memaparkan asuhan yang tepat untuk menangani kasus sesuai dengan peran dan tanggungjawab profesi.

Penerapan model pembelajaran IPE telah diterapkan di negara lain seperti Amerika Serikat dan lainnya sejak puluhan tahun. Dikutip dari penelitian yang dilakukan oleh (Courtney West dkk, 2016) tentang Implementation of interprofessional education (IPE) in 16 U.S. medical schools: Common practices, barriers and facilitators menjelaskan bahwa sebagian besar pendidikan kesehatan di Amerika Serikat menerapkan model pembelajaran IPE. 

Dengan demikian pengembangan model pembelajaran IPE perlu diterapkan di pendidikan kesehatan yang ada di Indonesia untuk meningkatkan kolaborasi antar profesi kesehatan. Perawatan kesehatan saat ini tidak hanya bertujuan untuk menyembuhkan dan mencegah penyakit tetapi juga untuk mempromosikan kesehatan, kolaborasi antara berbagai profesi kesehatan sangat diperlukan untuk meningkatkan derajat kesehatan.