Zaman seperti sekarang, informasi begitu mudah kita dapatkan tanpa kita tahu semua kebenarannya. Bahkan, sering kali informasi itu datang seperti notifikasi tanpa kita minta.

Berita hoax, misalnya, tetiba menyebar dalam rantai media sosial dengan mudah. Saat semua sudah di luar kendali, yang kita butuhkan adalah pertahanan diri.

Sebagai alat pertahanan diri, perlu kiranya kita belajar pada Socrates (469 SM-399 SM) tentang formula anti-hoax yang ia ajarkan.

Socrates adalah filsuf Yunani yang memiliki pengaruh penting dalam perkembangan filsafat di Eropa. Ia merupakan generasi pertama dalam tradisi filsafat Yunani, selain juga Plato dan Aristoteles yang sebenarnya mereka berdua adalah murid dari Socrates. Socrates adalah guru Plato, dan Plato adalah guru Aristoteles. 

Semasa hidupnya, Socrates tidak mewariskan karya tulis sama sekali. Namun, pelajaran kebijaksanaannya dapat ditemukan dari catatan murid-muridnya, seperti yang ditulis Plato.

Socrates orangnya sederhana. Raut mukanya biasa saja. Bahkan ada yang mengatakan bahwa ia jelek. Socrates dikenal suka berjalan tanpa alas kaki, berkeliling Athena, dan mengajak diskusi orang-orang yang ia temui tentang kebijaksanaan.

Baca juga: Socrates, Flâneur, dan Fotografi Jalanan

Dalam kajian filsafat, metode Socrates dikenal dengan metode kebidanan. Socrates mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dengan sendirinya mengajak orang yang diajak bicara untuk merenung dan mengerti.

Ujian Tiga Lapis*

Salah satu kisah Socrates yang ditulis oleh muridnya ini biasa dikenal dengan kisah Ujian Tiga Lapis.

Suatu hari, Socrates berkunjung ke rumah temannya yang bahagia akan kedatangannya. Kemudian temannya berkata, “Socrates, tahukah kamu apa yang baru aku dengar tentang muridmu?”

“Tunggu sebentar,” jawab Socrates. “Sebelum kamu bercerita padaku, aku ingin kamu jawab dulu tiga pertanyaan berikut, namanya ujian tiga lapis.”

“Tiga lapis?”

“Iya, benar,” lanjut Socrates. “Sebelum kamu mengatakan sesuatu tentang muridku, mari menyisihkan waktu sebentar untuk membahas apa yang akan kamu katakan. Yang pertama adalah ujian kebenaran. Sudahkah kamu merasa pasti bahwa apa yang akan kamu katakan kepadaku adalah benar?”

“Tidak,” jawab temannya. “Sebenarnya aku baru saja mendengar dari orang...”

“Baik,” kata Socrates. “Jadi, kamu tidak benar-benar tahu apakah yang kamu katakan itu benar atau salah. Sekarang, ujian kedua adalah ujian kebaikan. Apakah yang akan kamu ceritakan tentang muridku itu adalah sesuatu yang baik?”

“Tidak, bahkan sebaliknya...”

“Jadi,” kata Socrates, “kamu ingin mengatakan padaku sesuatu yang buruk darinya, meskipun kamu tidak yakin apakah itu benar?”

Teman Socrates diam tersipu malu. Socrates melanjutkan penjelasannya tentang ujian ketiga.

“Kamu mungkin masih bisa lolos, tetapi masih ada lapisan ketiga, ujian kemanfaatan. Apakah yang akan kamu katakan padaku tentang muridku itu akan ada manfaatnya bagiku?

“Tidak, kukira tidak...”

“Kesimpulannya,” kata Socrates, “kalau apa yang akan kau katakan padaku itu tidak benar, tidak baik dan juga tidak berguna, lalu kenapa kamu masih akan menceritakannya juga?”

Laki-laki teman Socrates terdiam.

Ujian Tiga Lapis dan Formula Anti-Hoax Socrates

Ada tiga pertanyaan singkat, namun sangat dalam maknanya pada kisah Ujian Tiga Lapis ini. 

Pertama, pertanyaan ujian kebenaran akan menyentuh aspek logis pikiran kita. Logika kita mulai didorong untuk mempertanyakan kembali kredibilitas sebuah informasi. Apakah itu benar atau tidak, dari mana berita itu berasal, siapa yang mengatakannya.

Akhir-akhir ini, berita hoax mulai menjangkiti portal berita besar. Sehingga patutlah bila pertanyaan kebenaran ini menjadi kunci.

Baca: Hoax dan Masa Depan Pemberitaan

Sementara pertanyaan kedua dan ketiga akan membawa kita pada lebih dari sekadar logis. Mempertanyakan aspek kebaikan dan manfaat dari sebuah informasi, tidak cukup bila hanya bertumpu pada logika saja, tetapi akan melibatkan hati untuk menentukannya. Karena sepengetahuan saya, sesuatu yang benar terkadang tidak baik kita gunakan.

Setiap hari kita mendapatkan berita-berita infotainment tentang artis bercerai, misalnya. Berita itu benar adanya, namun apa berita itu baik untuk kita. Tentu tak patut bila kita mengikuti hal yang dibenci oleh agama. 

Apakah berita perceraian itu bermanfaat? Tidak. Bila tidak baik dan tidak bermanfaat, cukuplah berita itu diam dan tak usah disebar. Bila berita itu benar, cukuplah kita letakkan pada level benar dan tidak perlu kita tempatkan pada level baik atau level berita yang bermanfaat.

Baca juga: Menghukum Media-Media Penyebar Fitnah dan Hoax

Bila sebuah informasi itu tidak benar, tidak baik, dan tidak bermanfaat, abaikan saja. Bila sebuah informasi itu benar, tapi tidak baik dan tidak pula bermanfaat, maka biarkan saja ia dengan kebenarannya sendiri.

Tetapi, bila informasi atau berita itu benar, baik dan bermanfaat, maka tentu baik untuk kita terima dan disebar bila itu juga bermanfaat untuk orang lain.

Menyikapi hoax yang ramai menyebar dan tidak terkendali, tak cukup jika hanya mengandalkan logika dalam memeriksa kebenarannya. Lebih dari itu, kekuatan hati juga harus mulai diasah untuk bisa memilih dan memilah informasi yang baik dan bermanfaat, setidaknya untuk diri kita sendiri, sebelum disebar kepada orang lain.

Baca juga: Gerakan Anti Hoax dan Perlunya Mempercayai Kata Emak