Wanita dan keromantisan merupakan hal yang wajar, tidak sulit membayangkan wanita duduk berjam-jam untuk menikmati drama dengan plot klise, yang menjual perjuangan sebuah pasangan. Tapi bagaimana jika pasangan dalam drama itu, memiliki gender yang sama?

Hanya dengan mengganti gender pemeran drama, sudah cukup untuk membuat kita berfikir, “apakah ada yang nonton drama kayak gituan?”

Dan jawabannya “ya”, untuk apa sebuah rumah produksi menghamburkan biaya, untuk sebuah drama yang mereka yakini tidak menjual apapun. Meski masih terbilang tabu di dunia barat dan di Indonesia sendiri, namun drama yang menjual homoromantisme memiliki pasar dan penikmatnya sendiri.

Nah, sekarang mungkin kita akan berfikir, “ya, palingan pasarnya komunitas LGBT doang,”. Harus diakui, di era sekarang komunitas LGBT berhasil melakukan gerakan, yang menegaskan keberadaan mereka. Tapi bagaimana jika ternyata penikmat drama ini adalah wanita yang berkencan dengan lelaki tampan yang ia kenal?.

Fenomena wanita yang menikmati homoromantisme, mungkin bukan hal asing bagi komunitas penyuka budaya Jepang. Di negeri matahari terbit ini, fujoshi menjadi panggilan wanita penikmat homoromantisme atau yang disebut yaoi di Jepang.

Istilah yaoi muncul sejak awal 1970-an, awalnya digunakan untuk menyebut karya buatan fans yang berisi parodi, atau fantasi lainya dari sebuah karya yang sudah ada. Namun istliah ini bergeser untuk menyebut karya yang memiliki tema homoromantisme.

Keberadaan genre ini, tidak menunjukkan jika Jepang merupakan negara pro LGBT. Munculnya istilah fujoshi, mewakili posisi jepang yang masih memandang “aneh” pada komunitas LGBT. Jika diartikan, fujoshi berarti “wanita busuk”, istilah ini sendiri muncul di awal tahun 2000-an, dan banyak digunakan saat melakukan obrolan daring.

Arti dari istilah ini-lah, yang menjadikan banyak fujoshi jepang tidak nyaman untuk secara langsung menunjukkan hobi mereka. Meski istilah ini masih sering digunakan saat berbicara antar sesama fujoshi.

Namun, mengeyampingkan segala aspek negatifnya, yaoi dapat dilihat sebagai cara wanita mengekspresikan dirinya. Satu hal yang unik dari yaoi, adalah posisi fujoshi yang tidak hanya menjadi penikmat, tapi kadang menjadi pembuat. Seakan dunia homoromantisme satu ini digerakkan oleh wanita, dan menjadikan pria sebagai objek eksploitasi mereka.

Tidak berlebihan jika mengatakan pria dieksploitasi oleh fujoshi, faktanya mereka menikmati membaca komik dengan dua pria tampan di dalamnya. Hampir sama saat pria menikmati wanita seksi di film horor esek-esek, atau memandangi tubuh SPG saat pameran mobil.

Meski menjadi bahan eksploitasi, tentu saja ada pria yang menikmati yaoi, dan disebut fudanshi. Tapi bukan berarti meiliki sebutan, sama dengan pria diterima sebagai penikmat yaoi. justru fudanshi sendiri masih dianggap tabu, tidak hanya pada masyarakat umum tapi juga bagi fujoshi itu sendiri.

Menampilkan homoromantisme, juga tidak menjadikan fujoshi sebagai pembela komunitas LGBT. Kendati kebanyakan fujoshi menjadi lebih terbuka terhadap hubungan sesama jenis, posisi hubungan antar pria adalah hiburan bagi mereka. Terbukti dari keberadaan pasangan LGBT di Jepang, yang legal tapi tidak diakui.

Pendapat ini juga, diperkuat dengan respon kebanyakan pria homoseksual, yang memandang yaoi tidaklah serealistis keadaan komunitas LGBT itu sendiri. Terlebih yaoi jarang memunculkan karakter pria yang mengidentifikasi diri sebagai homoseksual. Yaoi cenderung menampilkan dua pria heteroseksual yang saling jatuh cinta, dan berjuang untuk mengetahui arti perasaan mereka.

Pria pada genre yaoi kebanyakan digambarkan menyukai wanita, tapi menemukan perasaan pada seorang pria, dan hanya mengalami ketertarikan pada seorang pria saja.

Ketimbang memotret kisah komunitas LGBT, yaoi lebih dianggap “meniru” hubungan heteroseksual. Ini bisa dilihat dari karakter yaoi, yang diberikan pemisah antara karakter mana yang menjadi “pria”, dan karakter mana yang menjadi “wanita”.

Pemisah ini, tidak hanya sekedar peran dalam cerita, tapi juga pada fisik karakter itu sendiri. Yang berperan sebagai “pria” atau sering disebut seme, sering digambarkan lebih tinggi dan maskulin. Sementara yang berperan sebagai “wanita” atau disebut uke, digambarkan dengan fitur androgini seperti lebih mungil, lebih putih, dan cenderung pasif.

 Pembagian peran ini sendiri, sangat jarang terjadi di komunitas LGBT. Yang lebih menekankan ketertarikan individu. Ketimbang pembagian peran, bahkan kadang tidak ada pembagian peran sama sekali.     

Jika kita melihat yaoi sebagai bahan gerakan LGBT. Maka mari menyimak penilaian Shihomi Sakakibara pada bukunya Yaoi Genron, menurutnya wanita memiliki kebutuhan aktif akan subjek tersendiri untuk mereka, serta pelarian dari kehidupan kewanitaan itu sendiri.

 Sejalan dengan pendapat di atas, yaoi memang lebih sering dilihat sebagai bentuk perlawanan wanita Jepang, terhadap norma sosial, serta berbagai standar yang dipatokkan untuk mereka.  

 Ini bisa kita lihat, dari kemunculan yaoi itu sendiri. Muncul di tahun 1970, industri manga saat itu didominasi oleh kaum adam, dan kemunculan genre yaoi yang dibuat oleh wanita, sempat mendapat respon negatif dari pria yang lebih dahulu memasuki industri ini. Inilah yang mengakibatkan pada awalnya karya homoromantis ini, hanya dianggap sebagai karya picisan saja.

Tak hanya itu, tema yang diangkat juga mengandung dua unsur tabu bagi wanita, yakni homoromantisme dan fantasi seksual pada pria. Yang hingga sekarang masih dianggap tidak etis, untuk diekspresikan secara terbuka.

Bagi fujoshi, menikmati dan membuat yaoi, adalah sarana mereka untuk kabur dari standar serta norma sosial yang mengekang mereka. Cara untuk memotret pria, yang selalu bersifat dominan sebagai objek fantasi mereka. Serta untuk mengalirkan fantasi sensual yang dipendam.

Hingga sekarang, istilah yaoi dan genre homoromantis, telah menyebar hingga negara besar seperti Amerika. Meski begitu yaoi tetaplah menjadi genre, yang seakan memprioritaskan penikmat wanita. pada sebuah konfrensi komik yaoi di San Fransisco misalnya, yang 85% pesertanya adalah wanita.

Di Indonesia sendiri yaoi sudah mulai memasuki masyarakat, ini sejalan dengan makin bertumbuhnya pecinta budaya jepang di negeri kita ini. Dan tidak menutup kemungkinan wanita Indonesia, menikmati yaoi dengan alasan yang sama dengan wanita Jepang.

Di sini, kita bisa sedikit mengerti jika, makhluk bernama wanita, yang diwajibkan untuk hidup dalam norma, dan standar untuk menjadi “putri”, ternyata bisa lelah memakai gaun, dan bersikap lem lembut. Dan membutuhkan sebuah kanvas untuk menggambar keinginan fantasi, secara bebas tanpa takut dihakimi.

Dari sini, kita mungkin bisa berhenti menaruh terlalu banyak ekspektasi, lebih bisa maklum bahwa wanita juga bisa “nakal”, tanpa menilai mereka “gampangan”. Karena para “putri” ini dapat memberontak, jika diikat terlalu ketat.