Sudah lama sekali Duo Milan tidak berkiprah di Liga Champions. Menantikan kembali dua tim sekota ini meraih tiket Liga Champions menjadi sebuah kerinduan. Dulu Intermilan maupun AC Milan menjadi langganan dari perwakilan tim Italia untuk bermain di turnamen kasta tertinggi di kolong jagat raya ini.

Milan terakhir kali tampil di ajang Liga Champions pada musim 2013-2014. Intermilan puasa pentas di kompetisi teratas antar klub Benua Biru tersebut lebih lama dua tahun. Klub yang bermarkas di Giuseppe Meazza ini tidak ikut ambil bagian di Liga Champions terhitung sejak 2011-2012.

Menyaksikan kompetisi Liga Champions tanpa keterlibatan Duo Milan seperti makan lauk tanpa garam. Keikutsertaannya sangat ditunggu. Mereka yang merindukan bukan hanya datang dari penonton. Pemain, pelatih, pengamat bola juga punya kerinduan yang sama. 

Lionel Messi dan Gerard Pique sampai menyatakan rasa kangennya ingin berjumpa kembali dengan dua raksasa dari Italia itu. Mereka ingin merasakan ulang drama ketegangan dan tensi revitalitas melawan skuad Nerazzurri dan Rossoneri.

Kerinduan akan keterlibatan Duo Milan di turnamen paling bergengsi ini semoga bisa terobati musim depan. Apalagi pada musim 2018-2019 nanti, UEFA secara resmi mengumumkan akan menambah jatah empat tim yang mewakili Italia.

Sejak tahun 2012, Italia mendapat pengurangan jatah. Negeri Sphagetti ini melorot posisinya ke peringkat keempat dalam tabel koefisien negara-negara Eropa pada akhir musim 2010-2011. 

Klub yang menyegel posisi tiga besar klasemen akhir Serie A berhak menjadi peserta Liga Champions. Dua peserta yang finis sebagai juara dan runner up otomatis lolos ke babak fase grup, sedangkan tim yang bertengger di posisi ketiga wajib mengikuti tahap play-off.

Situasi yang tidak menguntungkan Italia ini berlangsung selama setengah dasawarsa. Posisinya disodok oleh Jerman, sehingga Bundesliga memperoleh jatah bisa mengirim empat peserta sebagaimana La Liga dan Liga Primer.

Saat ini UEFA melakukan perubahan dalam sistem kuota peserta Liga Champions. Jika sebelumnya negara yang berada di peringkat keempat hanya bisa mendelegasikan tiga klub, sekarang empat negara dengan nilai koefisien tertinggi UEFA berhak mendapat jatah empat tim.

Berdasarkan perhitungan koefiensi dengan mengacu pada performa kesebelasan di kompetisi antar klub Eropa mulai dari musim 2012-2013 sampai 2016-2017, UEFA mengetok palu Italia berada dalam satu pot dengan Inggris, Spanyol dan Jerman.

Keputusan yang dilansir pada April 2017 ini merupakan ketentuan baru dalam sistem penjatahan. Tapi kali ini UEFA memberlakukan dengan sedikit longgar. 

Dua klub yang finis di peringkat ketiga dan keempat tidak perlu lagi melalui babak play-off. Perlakuannya disetarakan dengan juara grup dan runner up yang otomotis bisa melaju ke fase grup Liga Champions.

Tembus Liga Champions

Menghadapi jadwal pertandingan yang memasuki tahap akhir, Milan dan Intermilan harus tancap gas. Mereka tidak boleh tergelincir dalam kekalahan. Kemenangan demi kemenangan harus terus dipetik demi mengejar defisit poin.  

Duo Milan harus sadar diri. Jauh panggang dari api kalau mereka masih ngotot ingin meraih scudetto musim ini. Jangankan menjadi sang pemuncak klasemen, untuk menduduki posisi runner up saja, mereka ketinggalan jauh poinnya dari Napoli.

Target yang paling realistis adalah bertakhta di posisi ketiga dan keempat. Hingga pekan ke-29, Intermilan berada di posisi keempat, satu tingkat di atasnya bertengger AS Roma. Lazio menghuni peringkat kelima, disusul di bawahnya oleh Milan.

Pertarungan memperebutkan posisi ketiga dan keempat ini akan berlangsung sangat alot. Tidak hanya Lazio dan Milan yang akan berjuang “merangsek” ke posisi empat besar, Intermilan dan AS Roma juga tidak ingin terlempar ke posisi kelima dan keenam.

Di antara keempat klub ini, Milan yang mengoleksi poin 50 harus berjuang lebih keras lagi untuk melampui perolehan angka yang diraih Lazio (54) Intermilan (55) dan AS Roma (59). Tapi dalam papan klasemen sementara ini, Milan, sebagaimana juga Intermilan, sedikit diuntungkan karena melakoni laga lebih sedikit satu digit dibanding Lazio dan AS Roma.

Tersungkurnya Milan di babak 16 besar Liga Europa, di satu sisi, tentu sangat mengecewakan. Tapi di sisi lain, kekalahan dari Arsenal ini bisa dimanfaatkan untuk fokus di Serie A dengan target menembus fase grup Liga Champion musim depan.

Sebenarnya Milan memiliki catatan apik sejak Desember hingg Maret saat ini. Punggawa Rossoneri belum pernah terkalahkan dalam 10 laga terakhir sebelum dihentikan The Gunners di Liga Europa. Loenardo Bonucci dkk harus mempertahankan tren positif ini.

Sang pelatih, Gennaro Gattuso dituntut bisa segera memulihkan mental anak asuhnya pasca kegagalan melaju ke perempat final Liga Europa. Stamina yang selama ini banyak terkuras akibat keikutsertaannya di kompetisi kasta kedua di Benua Biru itu sekarang bisa digenjot untuk mendulang kemenangan di liga domestik.

Sebaliknya, Intermilan harus mewaspadai mobilitas Milan yang terus merangsek naik mendekati the big four. Nerazzurri harus lebih memicu adrenalin supaya posisinya tidak disabet oleh klub sekotanya ini.

Sunning Group sebagai pemilik saham mayoritas di Intermilan tidak melakukan langkah blunder dalam menunjuk pelatih baru. Luciano Spalletti yang didatangkan ke markas Giuseppe Meazza disebut-sebut mampu memoles Nerazzurri tampil lebih atraktif dan menawan.

Setelah bergonta-ganti manager dan tak kunjung membawa Nerazzurri menembus Liga Champion, Luciano Spalletti memberikan angin perubahan yang menghembuskan nafas dan spirit baru ke dalam tubuh tim. Di musim 2017-2018 ini, Luciano Spalletti memang tidak punya ambisi yang muluk-muluk. Dia ingin memulihkan kembali kepercayaan diri klubnya setelah Intermilan lebih sering menghuni zona papan tengah.

Selama menjalani musim 2011/2012 hingga musim 2016/2017, prestasi terbaik hanya dicapai pada musim 2015-2016. Saat itu, Intermilan finis di posisi keempat. Selebihnya klub yang didirikan 9 Maret 1908 hanya bercokol di zona papan tengah.

Pihak manajemen klub rasanya menyadari kalau Spalletti akan sangat terbebani jika harus mengemban tugas membawa Intermilan menjuarai scudetto. Manager berkepala plontos ini harus bisa menunjukkan bahwa Intermilan bukan lagi seperti musim-musim sebelumnya yang "sedikit diremehkan". Dan untuk membuktikan itu, Intermilan harus naik takhta, masuk empat besar dan meraih tiket Liga Champions.