Provinsi Sulawesi Barat adalah provinsi termuda di antara provinsi yang lain. Saya tidak akan membahas jauh lebih dalam mengenai sepak terjangnya. Di sini saya akan membicarakan satu masalah yang serius, yaitu perkembangan sastra menurut kacamata saya pribadi. Misalnya saja saya pernah menyaksikan sebuah acara ritual, tradisi yang dirayakan dari turun temurun, yaitu mappattamma’.

Mappattamma’ artinya bila ada anak yang sudah khatam mengaji, maka kedua orang tuanya pada saat itu mengadakan ritual: diarak keliling kampung dengan menaiki kuda, diiringi para penabuh gendang. 

Di sini saya melihat ada hal yang menarik pengamatan saya, yaitu pangkalinda’da’. Seorang yang membacakan pantun pada anak di atas kuda yang di arak itu. Di situlah terkadang di dalam benak saya muncul pertanyaan, apakah masyarakat pada saat itu memahami betul isi pantun yang diucapkan?

Mengingat Sulawesi Barat kental akan tradisi dan kebudayaan, serta dibarengi dengan melihat dari segi bentuk sifat dan keramahan para penduduknya, apakah itu semua merupakan suatu kebetulan ataukah memang sengaja? Menurut saya tidak. Itulah yang dikatakan warisan leluhur yang dari turun-temurun disalurkan ke anak cucu. 

Nah, bagaimana mempertahankan agar kebudayaan itu tetap lestari? Perlu adanya perhatian serius untuk mengembangkan. Dan solusi terbaik adalah sastra.

Bicara sastra, tentunya tak bisa lepas dari karya seorang penyair dalam puisinya. Identitas mereka adalah lahirnya karya sastra itu sendiri. Tanpa karya, maka sastra hanyalah sebatas teori mata pelajaran yang diajarkan di sekolah-sekolah. 

Saya sendiri merasakan atmosfer kesusastraan di Tanah Mandar ini masih sebatas perbincangan. Mengambang mengawang-awang. Itu pendapat saya pribadi sebagai penikmat dan pemerhati. 

Mungkin hanya sebagian orang yang seperti saya, gila akan keberadaan sastra. Karena menurut saya itu sangatlah penting. Bahkan saya sangat sadar dengan ucapan saya. Meskipun saya tidak terlalu ikut andil dalam perkembangannya. Minimal saya merasa prihatin. Minimnya peminat pada buku-buku sastra, utamanya pada buku-buku fiksi seperti novel, cerpen, puisi, naskah drama, dan lain-lain.

Penyair yang saya sempat baca karyanya yaitu Husni Djamaluddin dan Nur Dahlan Jirana. Mereka berdua merupakan dua tokoh fenomenal di Sulawesi Barat. 

Sekarang ini saya menyaksikan adanya komunitas sastra di tanah Mandar tersebut. Mereka ini merupakan para generasi yang merasakan kesadaran itu. Perlu didorong oleh pemerintah dengan membuka jalan kepada mereka untuk tetap eksis di bidangnya masing-masing. Karena merekalah sesungguhnya jiwa-jiwa penggerak tersebut.

Padahal boleh dikatakan bahwa roda penggerak bangunnya sebuah peradaban kebudayaan dimulai dari situ. Tak bisa dimungkiri bahwa masyarakat untuk minat baca saja masih kurang. Seperti yang pernah dibahasakan Sosilo Toer dalam ucapannya, “Masyarakat kita ini kebanyakan yang ada hanyalah budaya mendengar. Budaya bacanya minim.” 

Memang benar adanya. Budaya mendengar paling mendominasi untuk saat ini. Kita kebanyakan didikte oleh pengajaran paham-paham teori. Padahal kita sendiri juga mampu menciptakan itu. Cuma kita belum menyadari atau justru sebaliknya.

Saya sendiri boleh beranggapan apakah kurangnya akses, atau kurangnya perhatian dari pemerintah setempat. Saya sangat mengapresiasi adanya roda penggerak literasi yang sempat hangat-hangatnya di tahun kemarin. Itu berarti tumbuhnya kesadaran pada lingkungan sebagai sesama pemerhati. Tapi menurut saya itu belumlah cukup.

Kita selama ini terlalu berlebihan menggaungkan “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”. Justru kenyataannya kita malah menganggap itu sebagai mitos, atau malah disebut slogan murahan yang tiada arti nilai sama sekali. 

Boleh saja saya mengatakan toh sebegitu angkernya sampai kata itu sulit untuk terlaksana. Kita melihat indeks pencapaian minat baca masyarakat itu masuk pada ranking berapa. Terlalu memprihatinkan bila saya sebut. Cukuplah saya memberikan sedikit gambaran pada kata “prihatin” itu.

Nah, bagaimana kata “prihatin” ini bisa berubah? Malah harus dikatakan berbuah menjadi suatu keperhatian lebih pada khasanah sastra itu sendiri. Ya tentunya dengan menanamkan kesadaran pada masyarakatnya, terutama pada diri kita sendiri. 

Bila yang di dalam belum beres, lantas bagaimana dengan yang ada di luar? Kita tidak mau para generasi muda di Sulawesi Barat ini larut dalam ketidaktahuannya akan hal ini. Di dunia ini, mana ada manusia yang bodoh? Tidak ada. Justru yang ada adalah kurangnya minat belajar. Waktu hanya dimanfaatkan menikmati sesuatu yang sampai pada kulitnya saja. Melupakan isi. Padahal isi amatlah penting. Caranya mudah, perbanyak baca.

Mengapa kita begitu takut untuk menumbuhkan minat baca masyarakat? Ini pertanyaan mendasar bagi saya. Saya rasa jawaban itu ada pada diri kita masing-masing. Bahwa membaca itu penting. Kesadaran inilah yang mesti tumbuh. Bahkan kalau perlu kita tumbuhkan, dengan cara menularkan virus membaca di benak masyarakat. 

Nah, caranya itu yang bagaimana maksudnya? Yaitu memperbanyak buku-buku sastra, berupa fiksi. Adanya penerbit yang siap membantu memperbanyak cetakan. 

Yang paling penting adalah dorongan pemerintah setempat. Karena menurut saya banyak penulis-penulis andal yang saya jumpai, seperti Syuman Saeha, Hendra Djafar, Adi Arwan Alimin, As’ad Sattari, Sri Musdikawati, Subriadi Bakri Juhaepa, Ridwan Alimuddin, dan masih banyak lagi. 

Mereka tentunya pandai di bidang kepenulisannya masing-masing. Utamanya karya sastra. Nah, lagi-lagi boleh saya mengatakan bahwa ini merupakan tanggung jawab pemerintah setempat agar lebih serius memperhatikan itu.