Jika diminta menyebutkan film terfavorit sepanjang 3 (tiga) tahun terakhir, maka saya tidak ragu menyebut judul Hacksaw Ridge. Film yang diangkat dari kisah nyata dan disutradarai oleh Mel Gibson ini memenangkan Piala Oscar untuk kategori “Best Editing” dan “Best Sound Mixing”.

Film ini terbilang unik, karena di tengah merosotnya religiusitas dan suramnya masa depan Kristen di Barat, tema religius (selain historis yang diangkat dalam film ini) masih diangkat ke layar lebar Hollywood. Selain itu, film ini hadir ketika industri perfilman Barat sedang gencar-gencarnya memproduksi film-film bertemakan super hero seperti The Avengers, Captain America, Spider Man, Batman, Superman dan masih banyak lagi.  

Hacksaw Ridge berkisah tentang Desmond Doss, seorang prajurit yang bertugas di satuan tempur pada era perang dunia ke-2, yang menolak perintah atasannya untuk memegang senjata. Ia lantas disidangkan secara militer. 

Dalam pembelaannya, Desmond menyatakan bahwa keinginannya untuk masuk militer karena ia ingin mengabdi kepada negaranya sebagai petugas medis (prajurit medis), di mana ketika prajurit lain sibuk merenggut nyawa, ia akan menyelamatkan nyawa. Menurut Desmond, bahwa saat dunia hancur lebur, tak ada salahnya ia sedikit memperbaikinya.

Keinginan untuk tidak memegang senjata bukan tanpa alasan. Hal ini juga dipengaruhi oleh kejadian masa kecilnya ketika ia hampir membunuh saudaranya dalam sebuah perkelahian. Desmond percaya bahwa dosa merenggut nyawa orang lain adalah dosa yang dibenci Tuhan sebagaimana ketika ia dinasihati oleh ibunya.

Selama pertempuran di Okinawa, Desmond berhasil menyelamatkan 75 orang prajurit sendirian. Dalam pengakuannya, setelah ia berhasil mengevakuasi seorang prajurit, ia berdoa (memohon) kepada Tuhan agar mengizinkannya menolong satu orang lagi. Saat berhasil, ia berdoa lagi agar Tuhan membantunya untuk menolong seorang lagi. Begitu seterusnya ketika ia berhasil menolong seorang prajurit, ia kembali berdoa kepada Tuhan agar ia bisa menolong lagi.

Kisah Desmond Doss mengungkapkan bahwa Tuhan itu ada. Tuhan hadir melalui pengalamannya untuk menyelamatkan sesama rekan prajuritnya (dalam film juga dikisahkan Desmond juga menyelamatkan 2 orang tentara Jepang, namun keduanya meninggal). Kisah Desmond Doss bagi saya adalah sebuah cara untuk berpikir tentang adanya Tuhan atau sebuah cara menalar bahwa Tuhan “sangat masuk akal” dalam kenyataan.

Tentunya ada yang bertanya, bagaimana menalar Tuhan melalui sebuah film? Apakah Tuhan bisa dinalar? Untuk apa Tuhan dinalar? Bukankah Tuhan cukup dipercayai dan tidak perlu dipikirkan?

Menalar Tuhan menurut Frans Magnis Suseno (dalam bukunya menalar tuhan) sebagaimana dikutip Thomas Hidya Tjaya dalam tulisannya di dalam buku “Frans Magnis Suseno, Sosok dan Pemikirannya (Memperingati 80 Tahun Prof. Frans Magnis Suseno)”  berjudul “Menalar Tuhan Dari Dunia Menurut Frans Magnis-Suseno” (2016) artinya “bernalar” secara umum dan dilakukan secara khusus pada “objek” yang disebut “Tuhan”. … Sejauh memuat rasionalitas, apapun yang kita pikirkan mengenai Tuhan seharusnya dapat ditangkap oleh nalar kita. Karena itu, menalar Tuhan bukanlah upaya yang mustahil untuk dilakukan.

Menurut Frans Magnis Suseno bahwa iman dapat dipertanggungjawabkan secara teologis dan  filosofis. Secara teologis iman dipertanggungjawabkan sesuai sumber iman itu sendiri (berdasarkan wahyu agama yang bersangkutan). Sedangkan pertanggungjawaban secara filosofis dilakukan menggunakan nalar (secara rasional).

Lebih lanjut menurut Magnis Suseno, istilah “mempertanggungjawabkan” iman adanya Tuhan “secara rasional” merupakan usaha yang lebih “moderat” dibandingkan usaha membuktikan adanya Tuhan. Dalam arti lebih lunak, percaya pada eksistensi Tuhan (yang tidak kelihatan) sangat masuk akal karena banyak kenyataan alam luar maupun alam batin dapat dimengerti jauh lebih mudah apabila kita menerima adanya Tuhan. Dalam arti keras bahwa ada beberapa kenyataan alam luar maupun alam batin yang sangat sulit dijelaskan kalau tidak ada Tuhan. 

Jadi meskipun data-data itu tidak “memaksa” secara intelektual untuk menerima eksistensi Tuhan, namun kenyataan-kenyataan itu tidak dapat “dipahami” kalau eksistensi Tuhan disangkal. Pembenaran filosofis eksistensi Tuhan ini biasanya mengambil bentuk bahwa “data-data tertentu tidak dapat dijelaskan kecuali kita menerima bahwa ada Tuhan”. Dengan demikian, usaha menalar Tuhan memuat pertimbangan-pertimbangan rasional atas kepercayaan akan eksistensi Tuhan, bukan bertujuan membuktikannya.

Untuk menghayati kehadiran Tuhan, Magnis Suseno sebagaimana dikutip Thomas Hidya Tjaya bahwa secara filsafat harus berakar pada pengalaman hidup manusia sehingga tidak mungkin orang berfilsafat tanpa mengacu pada pengalaman. Karena itu Magnis Suseno, memulai proses menalar Tuhan dengan melihat penghayatan ketuhanan dalam masyarakat. 

Setelah menghayati ketuhanan, ia mendalami bahan yang lebih serius, yaitu berbagai bentuk skeptisisme modern mengenai ketuhanan, model-model ateisme dan agnotisisme(bentuk keragu-raguan dan penyangkalan akan Tuhan). Setelah menganalisis berbagai bentuk keraguan, ia mempertimbangkan berbagai jalan yang dapat membawa orang kepada Tuhan. Jalan-jalan yang dibahas seperti tuntutan moral dalam bentuk suara hati. 

Tuntutan suara hati dialami banyak orang, dan karena itu, analisis filosofis terhadap kesadaran moral ini dapat menjadi jalan terbuka kepada Tuhan. Tentu saja, pembahasan seperti ini tidak berupaya membuktikan adanya Tuhan, melainkan menunjukan bahwa kepercayaan kepada Tuhan adalah hal yang masuk akal karena fenomen suara hati.

Dalam film Hacksaw Ridge, tokoh utama, Desmond Doss, berpegang teguh pada keyakinan untuk tidak memegang senjata. Ia tidak ingin membunuh karena ia percaya bahwa Yesus mengajarkan untuk saling mengasihi sesama. Kepercayaan ini yang bagi sebagian besar rekan-rekan sesama prajurit dan komandannya dianggap sebagai pembangkangan. Ia bahkan dianggap terlalu sibuk berperang dengan hati nuraninya, daripada berperang bersama teman-temannya.

Saya juga sempat berpikir, rasa-rasanya “gila” menjadi prajurit tanpa memegang senjata, apalagi di medan perang berhadapan dengan musuh yang setiap saat dapat membunuh kita dengan mudah. Terlalu unik atau bahkan sangat aneh memikirkan tindakan Desmond tersebut. Tetapi, pada kenyataannya Desmond menjalaninya apa yang diyakininya itu dengan sungguh-sungguh. Pengalamannya itu merupakan sebuah fakta, aktual, relevan yang dapat diterima oleh akal sehat mengenai adanya Tuhan. 

Hacksaw Ridge merupakan sebuah reka ulang pengalaman Desmond yang membuktikan bahwa bagaimana penghayatan terhadap Tuhan dalam masyarakat. Pengalaman hidup Desmod secara filosofis dapat membantu kita menghayati ketuhanan atau sebuah “pembuktian” yang memperlihatkan bahwa kepercayaan akan Tuhan merupakan hal yang masuk akal.  

Secara pribadi, film Hacksaw Ridge menjadi suatu dorongan untuk bagaimana menggunakan kemampuan bernalar kita (secara filosofis) sebagai upaya melawan kecenderungan sebagian besar umat beragama yang enggan atau tidak mau menggunakan nalar  tentang Tuhan. Keyakinan akan Tuhan bukanlah sebuah “hobi religius” sehingga wajarlah kita dituntut untuk tidak asal percaya, melainkan dapat mempertanggungjawabkannya, sebagaimana telah dibuktikan Desmond Doss. 

Tentu pendekatan seperti ini adalah pendekatan dalam perspektif orang beriman. Orang yang tidak percaya kepada Tuhan dan tidak pernah memikirkan-Nya, mungkin saja tidak tertarik dengan dengan pengalaman Desmond di atas. Menalar Tuhan melalui Hacksaw Ridge merupakan cara untuk memperoleh pengertian-pengertian sebagai orang beriman tentang kehidupan, termasuk tentang Tuhan.

Menurut Magnis-Suseno bahwa Allah tidak memberikan daya nalar kepada manusia untuk dikunci di garasi. Namun diakuinya juga bahwa pengertian yang diupayakan oleh nalar kita tidak akan mudah diikuti oleh orang-orang yang memang sudah tidak percaya pada Tuhan. Pengertian mengenai iman akan lebih mudah kalau kita memang sudah terbuka kepada Tuhan.

Bagi saya, menalar Tuhan melalui pengalaman Desmond Doss dalam Hacksaw Ridge, bukan sekedar latihan intelektual tetapi juga sebagai penghayatan iman. Secara pribadi, saya tidak dapat berbohong bahwa secara rasional, saya menyakini adanya Tuhan “sangat masuk akal” melalui pengalaman-pengalaman pribadi yang tidak dapat dibuktikan secara empiris. Sebagai orang beragama, saya percaya adanya Tuhan melalui nalar yang telah dianugerahkannya. Karena percaya bahwa nalar adalah anugerah-Nya maka saya meyakini nalar saya tidak bertentangan dengan iman saya.

John. D Caputo sebagaimana dikutip Thomas Hidya Tjaya bahwa pemahaman terhadap iman tidak harus langsung menyangkut hal-hal spesifik mengenai Tuhan, melainkan dapat dimulai dengan sebuah perasaan yang meluap dalam diri kita ketika kita membandingkan diri kita dengan kekuatan yang tidak terukur, seperti kita berada seorang diri di pinggir laut di tengah malam sambil menikmati bulan purnama. 

Dalam pandangannya, iman bukan diperlawankan dengan nalar, melainkan dengan sinisme, dengan ketidakpercayaan sinis. Sebuah penolakan sinis untuk percaya bahwa ada sesuatu di luar sana yang menuntut rasa hormat kita. Lebih lanjut menurut Thomas bahwa sinisme bukan hanya menggerogoti iman, melainkan juga nalar manusia. Sikap sinis membuat manusia enggan bertanya mengenai pengalamannya dan lebih suka membiarkan diri terperangkap dalam diri dan cara berpikirnya sendiri.

Film Hacksaw Ridge  akan menjadi menarik dan bermanfaat kalau kita secara terbuka dan percaya serta merefleksikan tentang eksistensi Tuhan ketika menontonnya, daripada sekedar untuk hiburan saja. Hacksaw Ridge telah mendorong saya secara pribadi untuk selalu memahami (melalui pengalaman Desmond) arti kehadiran Tuhan,  pengertian akan Tuhan dan juga sekaligus memperkaya iman saya. Melalui Hacksaw Ridge bahwa iman (termasuk iman saya) mencari pengertian (fides quaerens intellectum). Iman saya mencari pengertiannya melalui sebuah film.