Persoalan tanah berkaitan dengan penghidupan manusia. Begitu juga sentralnya  tanah sebagai asal dan sumber manusia itu sendiri. Perebutan tanah berarti perebuatan makanan, perebutan tiang hidup manusia. Untuk itu semua, orang rela menumpahkan darah dan mengorbankan apapun demi mempertahankan hidupnya. Petani sebagai aktor  berperan menghasilkan bahan pangan secara luas, namun pada sisi lain menghadapi berbagai permasalahan yang sangat kompleks.

Beberapa persoalan yang kerap dihadapi adalah rendahnya pengetahuan/wawasan, rendahnya tingkat keterampilan, kurangnya motivasi, tidak memiliki kemampuan pengelolaan usaha tani, kurangnya dukungan atas modal dan sarana produksi usaha tani, kurangnya dukungan kebijakan pemerintah, jarang mendapatkan bimbingan dan konseling berupa penyuluhan dan tidak adanya wahana/tempat petani untuk belajar meningkatkan kemampuan yang dibutuhkan. 

Kesejahteraan petani yang relatif rendah dan menurun saat ini akan sangat menentukan prospek ketahanan pangan. Sebagaimana Krisnamurthi (2008) menggambarkan penyebab petani kita miskin adalah karena luas lahan petani sempit dan mendapat tekanan untuk terus terkonversi, terbatasnya akses terhadap dukungan layanan pembiayaan, terbatasnya akses terhadap informasi dan teknologi yang lebih baik serta Infrastruktur produksi (air, listrik, jalan, telekomunikasi) yang tidak memadai.

Ketidakmampuan dan kelemahan petani menjadi lingkaran setan yang tidak kunjung untuk menemukan ujung dan pangkalnya. Jika menengok Denmark sebagai salah satu Negara maju, memiliki petani-petani yang berdaya yang disokong oleh Negara untuk kemakmuranya. Para petani di Denmark dapat memasok kebutuhan pokok masyarakatanya. 

Disamping itu kesejahteraan  petani pun terjamin. Para petani Denmark memiliki kemampuan dalam memenuhi pasokan pangan untuk 15 Juta  jiwa pertahunnya.  Sementara itu di Indonesia dengan luas Negara hampir 1,9 juta kilometer masih  tertinggal dalam memproduksi hasil pertanian jika dibandingkan Denmark  yang hanya memiliki luas  43 ribu kilometer.

Padahal, Indonesia sebagai Negara agraris memiliki potensi yang cukup besar dalam mensupply produk pertanianya tanpa harus impor dari Negara-Negara kawasan asia lainya. Jika dibandingkan maka kita masih jauh tertinggal dengan potensi pertanian yang dimiliki Denmark. Banyak petani kita yang berlama-lama di sawah hingga kulitnya menghitam namun tetap dalam keadaan miskin. Belum lagi “agen-agen” kotor yang selalu memiskinkan mereka dan Negara yang terkesan abai.

Oleh karenanya keberhasilan pertanian Denmark patut dicontoh dengan penguasaan sektor pertanian dari hulu hingga hilir. Para petani tersebut dapat berdiri sendiri serta kebijakan-kebijakan negara yang mendukung. Bagaimana dengan nasib petani kita kedepan ?