Memasuki tahun  ke delapan bara api konflik beberapa negara di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda fase klimaksnya. Revolusi yang sejatinya berakar dari cita-cinta suci masyarakat yang ingin terbebas dari belenggu pemerintahan despotik akhirnya berujung pada konfik sektarian. Wilayah dengan posisi strategis dan memiliki arti historis itu kini hanya menyisakan duka mendalam bagi umat manusia, pasalnya konflik telah mengakibatkan hancurnya ekonomi negara dan  krisis kemanusiaan terparah di akhir abad 21 ini.

Anda bisa bayangkan, PBB mencatat akibat konflik Yaman lebih dari 10.000 jiwa menjadi korban, 470.000 anak-anak mengalami kekuarangan gizi dan tiga juta warganya mengungsi. Pengaruh Konflik Yaman terhadap Situasi Sosial dan Politik Regional Sementara konflik paling brutal di Irak dan Suriah  telah memaksa lebih dari setengah populasi penduduk mengungi, dan tak terhitung berapa jumlah korban melayang, kota-kota seperti kuburan dan  rata dengan tanah. 

Setiap hari kita disuguhkan bagaimana pilu pengungsi Suriah  di Turki dan Yordania. Menyaksikan kerasanya kehidupan yang dihadapi oleh mereka yang kehilangan anggota keluarga, bahkan saya sempat melihat sebuah cuplikan video bagaimana anak-anak Suriah mengais reruntuhan mencari sepotong roti dan makan rumput penggambaran betapa sulitnya situasi yang  hadapi.

Posisi Indonesia sebagai negara yang memiliki ikatan kultural dan agama dengan negara-negara di Timur Tengah secara pasti berperan besar dalam menangani konflik.  Melalui langkah  government to government adalah wujud nyata kepedulian bangsa kita, terhadap krisis yang melanda Suriah, Irak, Palestina dan Yaman.

Selain melibatkan aktor negara, Non Government Organizations (NGOs) atau LSM dari donasi masyarakat luas turut berperan nyata dalam membantu pengungsi baik berupa bantuan makanan, pakaian dan membahu menyediakan layanan kesehatan. Lalu sejauh mana peran LSM menangani krisis kemanusiaan di Timur Tengah? Pertanyaan ini penting, sekaligus sebagai counter-narasi atas  kritikan yang ditujukan pada LSM yang dituduh (telah) menyalurkan bantuan ke basis pemberontak beberapa waktu lalu.

Mengenal Lembaga Aksi Cepat Tanggap (ACT)

Diplomasi bukan hanya melibatkan aktor State (negara), aktor Non-State pun memiliki andil sentra dalam mempererat hubungan bilateral suatu negara, atau memperkuat posisi suatu negara di mata dunia. Adapun aktor non-state, yang secara kontinyu membantu krisis kemanusiaan di Palestina, Suriah, dan wilayah lain di Timur Tegah  adalah lemabaga Aksi Cepat Tanggap, yang didirikan pada tahun 2005 kini, telah bertransformasi menjadi lembaga bersekala global.

Kehadiran Aksi Cepat Tanggap, telah meringankan beban masyarakat luas, satu dekade lebih berkiprah, donasi yang terkumpul dari berbagai elemen masyarakat tersalurkan dengan baik hingga ke wilayah terluar Indonesia. Kiprah ACT bahkan, tersalur hingga negera-negara termiskin seperti Somalia dan menangani krisis  Rohingnya. Tentu pencapaian yang diraih lembaga ACT sekaligus menjadi bentuk apresiasi kepedulian masyarakat Indonesia terhadap krisis kemanusiaan. Kita tidak perlu butuh agama untuk membantu antar sesama, fitrah kita sebagai manusia sosial disitulah kewajiban kita membantu yang membutuhkan.

Lalu bagaimana peran ACT dalam menangani krisis kemanusiaan di Timur Tengah?

Bantuan ACT Bagi Warga Suriah 

Mungkin yang terlintas dalam benak kita ketika mendengar kata Suriah saat ini adalah kelompok teroris Islamic State Iraq dan Suriah (ISIS), Bashar al-Assad atau aktor global yang ikut andil dalam konfik. Mari kita membuka hati nurani paling dalam, membuka lembaran berdarah yang merenggut ratusan ribu warga sipil akibat perang yang berlarut-larut. Suriah telah mengalami krisis kemanusiaan, bahkan semenjak perang berkecamuk 2011, tindakan represif militer pemerintah tanpa henti, menghancurkan perumahan warga, pasar dan rumah sakit.

Jangan hanya berfikir, kita punya masalah kamudian tidak peduli terhadap sesama, kepedulian kita kepada orang lain justru adalah salah satu cara untuk menyelesaikan masalah. Bagi sebagian orang, duduk dan menikmati acara televisi sambil menikmati secangkir kopi adalah kebahagiaan. Tapi sebagian lain, membantu adalah kesenangan batin yang tak bertepi, mereka rela meluangkan waktu, bahkan jiwa dan raga meringankan beban orang lain tanpa memikirkan, siapa dan darimana mereka.

Wujud bantuan masyarakat Indonesia di Suriah adalah dengan tersalurkannya bantuan ke wilayah Hacipasa, perbatasan antara Suriah dan Turki yang kini ditempati oleh ribuan pengungsi bertamu-ke-hacipasa-desa-kecil-di-persimpangan-suriah. Terlihat kotak-kotak putih yang bertuliskan “Food For Suriah”, hasil kerjasama antara Indonesian Humanitarian Center (IHC) dan ACT mendistribusikan 700-1000 paket makanan bagi seribu warga, warga dengan suka cita menerima bantuan dari masyarakat Indonesia.

Lembaga ACT bahkan langsung ke wilayah zona merah, zona paling berbahaya di wilayah Idlib. Perlu untuk di ketahui, Idlib adalah lokasi yang sebelumnya dikuasai oleh beberapa faksi pemberontak, bahkan Ghouta adalah basis kuat dari kelompok teroris ISIS. Menurut beberapa sumber, Idlib adalah arena konfrontasi paling sengit dan kompleks.

Hingga ke jalur paling berbahaya, Lembaga ACT yang dibantu oleh para relawan menyalurkan donasi ke wilayah mematikan. Saya sempat dengar cerita dari teman-teman relawan yang pernah terjun langsung membantu warga Suriah, mereka mengatakan: “Jika kami (relawan) akan menyalurkan bantuan ke perkampungan warga, kami menggunakan truk-truk warga melintasi perbukitan, kami sudah siap mati, sebab kadang-kadang pesawat jet-jet Suriah terbang melintas tepat di atas jalur yang kami lalui”.

Foto bantuan ACT di Ghouta Timur, Suriah.

Selain menyalurkan secara periodik kepada warga Suriah, ACT membangun lembaga sekolah bagi anak-anak. Langkah ini adalah suatu gebrakan  sebab akibat konflik, lebih dari 1 juta anak-anak putus sekolah. Maka melalui program “Cahaya Untuk Suriah” yang dibangun di Alaykh Kamp memberikan secercah harapan bagi anak-anak untuk menatap masa depan lebih baik.

Bantuan ACT Bagi Warga  Palestina 

Bagi warga Palestina, West Bank dan jalur Gaza adalah penjara bagi mereka. Kenapa demikian? Selain mengambil paksa pemukiman warga, Israel diklaim juga melakukan embargo ekonomi. Aktivitas bisnis di dua tempat ini hampir lumpuh total, akibatnya ratusan ribu warga Palestina megalami kekurangan bahan makanan. Apalagi situasi politik beberapa waktu kedepan akan berubah drastis, mengingat Amerika Serikat mengakui Yerussalem sebagai ibukota Israel. Tindakan sembrono ini, secara politik akan mempersulit tercapainya perdamaian Palestina termasuk kemerdekaan Palestina yang dicita-citakan.

Konflik Israel-Palestina merupakan konflik yang sudah berlangsung lama dan telah menewaskan puluhan ribu warga. Masyarakat kita dengan Palestina seperti saudara, dan memiliki ikatan kuat. Saya menemukan bahwa isu Palestina menjadi salah satu prioritas pemerintah, begitu juga dengan peran LSM. Saya melihat, masyarakat Indonesia memberikan bantuan penuh kepada warga Palestina melalui bantuan langsung, membangun rumah sakit serta pemberdayaan masyarakat.

Hasil dari bantuan luas masyarakat Indonesia melalui ACT telah  mampu membangun kembali puing-puing harapan masyarakat dalam bentuk pembangunan klinik, kapal nelayan, ambulance bahkan dapat menyalurkan program Humanity Card yang berisi saldo  yang dapat dimanfaatkan warga Palestina untuk memenuhi kebutuhan pokok.

Bantuan ACT Bagi Warga Yaman 

Selain menyalurkan bantuan ke Suriah dan Palestina, secara berkala ACT telah membantu warga Yaman. Langkah ini saya anggap tersulit, karena setelah dikuasai oleh Syiah Houthi 2015, segala bentuk donasi dan bantuan internasional dibatasi, jalur perbatasan antara Yaman Utara tidak lagi dapat di akses, sementara jalur laut, tidak memungkinkan sebab alasan keamanan.

Yaman adalah salah satu negara gagal di Timur Tengah, selain dilanda konflik sektarian, sebagai negara termiskin, terkorup, dan taraf literasi rendah, menempatkan Yaman sebagai negara failed. Melihat meningkatnya krisis kemanusiaan  seperti wabah kolera dan kelaparan, lembaga ACT berhasil menembus Kota Hiran. Di wilayah ini, kamp-kamp yang terbuat dari ranting pohon dan ditutupi dengan kain lusuh di bawah terik sengatan matahari, hidup keluarga yang tak mampu lagi menahan lapar.

Bantuan ACT Untuk Warga Yaman.

Peran Lembaga Kemanusiaan ACT menjadi kebanggan bagi masyarakat Indonesia, sekaligus sebagai representasi wujud nyata peran Indonesia dalam skala global.