Tatanan dunia internasional selalu mengalami perubahan. Dunia ini pernah mempunyai sistem multipolar yang terjadi pada Perang Dunia II, bipolar pada masa Perang Dingin, dan saat ini menjadi unipolar, Amerika Serikat menjadi pemenang tunggal pasca Perang Dingin. Negara ini menjadi penguasa di berbagai bidang yang menjadikannya memiliki peran penting dalam menentukan tatanan global.

Di dalam teori neorealisme, (Waltz: 1979) ada tiga macam sistem internasional antara negara superpower.Yaitu multipolar, bipolar, dan unipolar. Multipolar yaitu adanya persaingan di antara banyak negara superpower. Hal ini terjadi pada masa Perang Dunia II yang melibatkan Inggris, Perancis dan sekutunya melawan Jerman, Italia, dan Jepang.

Bipolar yaitu sistem internasional yang mempertemukan dua negara superpower, yaitu Amerika Serikat melawan Uni Soviet pada masa Perang Dingin. Sedangkan unipolar yaitu sistem yang menempatkan satu negara superpower saja, seperti AS pasca Perang Dingin.

Pasca runtuhnya Uni Soviet pada 1991, Amerika Serikat praktis menjadi poros tunggal dalam sistem internasional. Tak ada saingan berarti yang bisa menyaingi AS di berbagai bidang. Beberapa istilah yang digunakan AS telah mempengaruhi negara-negara lain, seperti globalisasi, demokrasi, liberalisme, kebebasan berpendapat dan lainnya.

Istilah-istilah tersebut telah mengglobal di seluruh dunia.  Fareed Zakaria menulis dalam bukunya The Future of Freedom (2003) ada 119 dari 192 negara atau 62 persen negara-negara di dunia yang memilih demokrasi sebagai sistem politik. Data ini menjadi bukti kuatnya pengaruh AS di dunia internasional sehingga menimbulkan ketergantungan (dependency) negara-negara lain terhadap AS.

 Namun saat ini beberapa analis seperti Naazmen Barma, Ely Ratner, dan Steven Weber (2007, 23-30) menulis, di dunia internasional yang dinamis ini, negara-negara berkembang dapat menjalin hubungan antara mereka satu sama lain tanpa melalui Barat sebagai “pusat”.  Contoh konkretnya adalah ASEAN.  Tentu argumen ini menjadi antitesis dari kuatnya dominasi AS di 1990 sampai awal 2000-an.

Berkaitan dengan perubahan kekuatan politik dunia internasional ini, Zbigniew Brzezinski (2005) dalam tulisannya The Dilemma of the Last Sovereign mengatakan, “Pendududuk di banyak negara berkembang menjadi melek politik dan di sebagian besar tempat malah kian tidak puas dengan kondisi yang ada,”

“Lebih daripada sebelumnya, mata masyarakat terbuka akan ketidakadilan sosial… melahirkan rasa iri dan persepsi tertentu, yang mudah dieksploitasi dan dibakar jargon politik atau agama yang demagogis. Sentimen tersebut melewati batas-batas regional dan bisa mengancam negara-negara di dunia maupun hierarki global, yang sampai saat ini masih dipuncaki Amerika.”

Menguatnya nasionalisme di negara-negara berkembang menurut Brzezinski menjadi salah satu faktor pendorong melemahnya dominasi AS. Gambaran AS sebagai superpower dunia perlahan mulai terkikis. 

Negara-negara di Asia mulai menyadari pentingnya meningkatkan kekuatan nasional di berbagai bidang, seperti ekonomi, politik, militer dan budaya. Menguatnya unsur-unsur tersebut menurunkan pandangan mereka terhadap AS sebagai kekuatan tunggal.

Pasca kebangkitan Tiongkok atau The Rise of China perlahan mengarahkan dunia pada tatanan baru. Kebangkitan ekonomi Tiongkok tentu membawa pengaruh pada aliansinya. 

Goldman Sachs (2009) sebelumnya memprediksi bahwa total PDB kelima negara anggota BRICS-Brazil, Russia, India, China, dan South Africa bisa mengungguli negara anggota G-7 pada 2039, namun dikoreksi kembali menjadi 2032. Dengan catatan tren peningkatan ekonomi aliansi Tiongkok terus naik dan Barat menurun.

Selain itu, Fareed Zakaria dalam bukunya, The Post American World mengkritisi tatanan di dunia Internasional saat ini terkesan diskriminatif. Misalnya negara-negara yang memiliki hak veto adalah para pemenang Perang Dunia II. Anggota G-8 tidak melibatkan Tiongkok, padahal negara inilah yang memiliki kekuatan ekonomi nomor 2 dunia.

Kemudian kepala dari IMF selalu dari Eropa, sedangkan World Bank selalu orang Amerika. Praktik diskriminatif ini menempatkan negara-negara lain seolah tidak memiliki peran dalam tatanan global, padahal tatanan dunia telah berubah. Kemunculan kekuatan-kekuatan baru, seperti India, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan seharusnya menjadi pertimbangan kembali.

Kritik mendasar lainnya terhadap AS adalah istilah globalisasi yang selama ini menjadi slogan justru memukul balik negara ini. Terutama pasca naiknya perekonomian negara-negara Asia. 

Gabor Steingart (2008) menjelaskan dalam bukunya The War for Wealth: Why Globalization is Bleeding West of Its Prosperity, Para pesaing AS sedang gencarnya meningkatkan produksinya, sedangkan AS kehilangan banyak industri penting, warganya tidak menabung, sedangkan pemerintah AS semakin banyak berhutang ke bank-bank sentral Asia.

Keadaan ini juga diperparah dengan kebijakan luar negeri AS di bawah Donald Trump yang membatasi imigran dari luar negeri, seperti dibangunnya tembok di perbatasan Meksiko, pelarangan imigran dari 7 negara  selama 90 hari, seperti Iran, Irak, Libya, Somalia, Sudan, Suriah, dan Yaman. Kebijakan proteksionis semacam ini menempatkan AS ke dalam kemunduran dan sangat bertentangan dengan nilai-nilai globalisasi

Terkait dengan pertanyaan mendasar, apakah dominasi AS akan runtuh? Ini masih menjadi perdebatan di antara para pengamat politik. Perlu adanya kajian mendalam, sebab bisa jadi kebijakan proteksionis AS akan menjadikan negara ini kembali berjaya, seperti slogan Trump, “Make America Great Again” atau mungkin menjadi awal kemunduran AS.

Referensi:

Barma, Naazneen et. al. (2007) “The World without the West”, National Interest, No. 90 (Juli/Agustus): 23-30.

Brzezinski, Zbigniew. (2005). “The Dilemma of the Last Sovereign”, American Interest 1, No. 1 (Musim Gugur)


Gabor Steingart. (2008). The War for Wealth: Why Globalization is Bleeding West of Its Prosperity. New York: McGraw Hill.

O’Neil, Jim dan Anna Stupnytska. 2009. “The Long Term Outlook for the Brics and N-11 Post-Crisis”. (Goldman Sachs, Global Economic Paper No. 192, 4 Desember).

Waltz, Kenneth (1979). The Theory of International Politics. New York: McGraw Hill; Reading: Addison-Wesley.


Zakaria, Fareed. (2002). The Future of Freedom: Illiberal Democracy at Home and Abroad. New York: W.W. Norton & Company.

_________________. (2011). The Post American World. New York: W.W. Norton & Company.