Azis Syamsudin ditangkap KPK, begitulah judul headline news yang trending di semua media massa baru-baru ini. Penangkapan terjadi ditandai dengan penetapan sebagai tersangka pada awal bulan September 2021 tetapi mangkir dipanggil KPK untuk diperiksa. Azis yang juga pejabat negara itu digiring dan dipamerkan oleh KPK dengan rompi oranye.

Sebelumnya Azis Syamsudin juga pernah berperan besar dalam menyukseskan pemilihan komisioner KPK jilid V yang dikomandoi Firli Bahuri dan kawan-kawan. Beliau bahkan pernah menjadi orang yang turut mendukung dan mencalonkan Firli yang saat itu penuh kontroversi. Bisa dikatakan jika bukan karena dukungannya mungkin tidak ada nama Firli Bahuri di KPK.

Publik lantas bertanya-tanya, kok bisa ya politisi yang saat 2019 lalu memimpin Komisi III DPR dengan memilih Firli sebagai Ketua KPK namun akhirnya ditangkap oleh calon yang dia dukung sendiri. Padahal masih segar dalam ingatan kita ketika seusai sidang, Azis melakukan konferensi pers mengumumkan para komisioner KPK terpilih tersebut.

Azis Syamsudin adalah anggota DPR periode 2019-2024 dari Fraksi Partai Golkar sekaligus wakil ketua DPR yang tersandung dugaan kasus korupsi hibah Dana Alokasi Khusus (DAK) Kabupaten Lampung Tengah tahun anggaran 2017 yang juga daerah asal pemilihannya. Nilai korupsinya pun tidak main-main. Beliau diduga menerima suap Rp3,6 milyar, 100.000 dolar AS, dan 158.100 dolar Singapura.

Dugaan suap Azis Syamsudin adalah bagian kecil dari seluruh korupsi yang sebenarnya terjadi. Korupsi hanya nampak kecil di atas permukaan tetapi justru besar di bawahnya. Mereka bermain di belakang layar termasuk pura-pura mendukung pemberantasan korupsi. Berpura-pura baik adalah strategi jitu. Saking tertutupnya, korupsi hanya diketahui oleh Tuhan dan pelakunya.

Bahkan sebagian besar dari mereka terlihat seperti orang baik dan bersih ketika sedang menjabat. Kebijakannya yang prorakyat dan seakan memberantas habis pelaku korupsi padahal hanya pencitraan semata, agar tidak terdeteksi aparat. Banyak yang belum terungkap karena disembunyikan dengan rapi.

Kita pasti akan terperanjat jika bisa dikatakan bahwa sebagian besar orang di dunia yang melakukan korupsi berasal dari orang baik. Ya, karena kecurangan diperoleh dari proses belajar. Dari proses ini kemudian muncul mindset ala bisa karena biasa. Tidak terhitung lagi jumlah orang yang berperilaku seolah-olah antikorupsi padahal nyatanya pelaku korupsi.

Seringkali juga kita mendengar ada orang di luar pemerintahan teriak-teriak antikorupsi. Berkoar-koar berantas korupsi bahkan sampai memberi saran dan solusi pemberantasan terbaik. Namun apa yang terjadi, ketika yang bersangkutan masuk ke dalam pemerintahan justru berubah menjadi koruptor.

Kita pun tidak perlu heran bahwa korupsi sudah menjadi hal yang lumrah. Sebab korupsi sudah ada sejak zaman dahulu kala. Korupsi bertransformasi dari organisasi satu ke organisasi lainnya dengan saling mencontoh. Orang baik pun akan menjadi koruptor jika telah belajar bagaimana teknik melakukan korupsi yang benar.

Korupsi juga sangat erat kaitannya dengan kekuasaan. Adegium Lord Acton yang mengatakan bahwa power tends to corrupt sepertinya masih relevan sampai saat ini. Kita bisa melihat bagaimana dekatnya kekuasaan dengan korupsi melalui banyaknya tokoh-tokoh sentral pemegang kekuasaan menjadi koruptor.

Korupsi dan kekuasaan seperti dua sisi mata uang. Kekuasaan merupakan “pintu gerbang” menuju korupsi. Sementara korupsi itu sendiri merupakan “jalan tol” untuk mendapatkan kekuasaan melalui kumpulan pundi-pundi rupiah. Keduanya pun berjalan beriringan seakan takmau berpisah.

Bukan hanya tentang kekuasan, korupsi adalah masalah yang berkaitan dengan sistem perekonomian dan kelembagaan suatu negara. Sistem itu ditengarai yang lebih kuat mendorong bahkan memberikan reward untuk perbuatan korupsi yang telah mengakar dan menjalar serta sangat sulit dikendalikan.

Lingkungan perekonomian dan kelembagaan menentukan besar kecilnya insentif, sehingga korupsi telah menjadi mata pencaharian. Inilah yang membuat korupsi menjadi sangat kompleks dan sulit dipahami dengan membentuk skema ke seluruh sendi-sendi kehidupan dari generasi ke generasi.

Bisakah kita membayangkan kalau masih ada pihak-pihak tertentu di belakang terduga Azis Syamsudin yang merupakan otak intelektual atau koruptor yang sesungguhnya. Mereka sebenarnya sedang menertawakan KPK karena yang ditangkap hanyalah pelaku kelas teri.

Lebih parah lagi mengingat dugaan kasus Azis telah berlangsung lama, jika indikasi keberadaan koruptor yang telah dikaji lebih dalam pada investigasi baik oleh KPK sendiri maupun aparat penegak hukum lainnya akhirnya diputuskan tidak terjadi korupsi, padahal sesungguhnya korupsi telah terjadi.

Bahkan yang gawat jika hasil investigasi ternyata benar korupsi telah terjadi, berarti ada yang salah dengan mitigasi korupsi kita. Ketika kita bangga telah menemukan kasus korupsi besar berjumlah triliunan rupiah, dari balik persembunyian ada koruptor lain yang sedang “bertepuk tangan”. Inilah gejala gunung es yang paling ditakuti.

Apa yang dikatakan Howard M. Silverstone, seorang pakar investigasi dan auditor forensik yang telah berhasil memetakan bahwa 40% fraud itu masih disembunyikan, adalah petunjuk nyata kalau korupsi itu masih tertutup rapat. Lebih banyak yang kita tidak ketahui dari pada yang kita ketahui tentang korupsi, sedihnya lagi justru korupsi itu ditemukan secara kebetulan.

Terlepas dari masih misterinya korupsi, bahwa distorsi yang ditimbulkan oleh korupsi merupakan given bagi koruptor, yang menunjukan bahwa bukan pelakunya yang membuat segala sesuatunya menjadi lancar dan “gelap” tetapi terciptanya budaya korupsi yang lestari.

Jika sudah menjadi budaya memang sangat susah memberantas korupsi hanya dengan penegakan hukum atau sekedar membuat aturan yang sekeras apa pun. Akibatnya tipologi korupsi tidak pernah berubah, sehingga jangan heran kalau ada orang yang mengatakan bahwa budaya asli kita adalah korupsi.

Barangkali perlu kita merenungkan kembali alangkah sangat berharganya budaya dan lingkungan kerja, yang cukup memberikan andil dalam melakukan kecurangan bahwa korupsi terjadi karena belajar dari lingkungan. Orang menjadi penjahat akibat rasionalisasi, mencuri terang-terangan pun bukan lagi hal yang memalukan.

Meskipun korupsi itu sudah menjadi bagian dari budaya bangsa, bukan berarti kita pasrah. Akar permasalahannya adalah corruption by need, corruption by greed, and corruption by opportunity. Hilangkanlah atau tekanlah sedapat mungkin ketiga unsur tersebut jika kita ingin memberantas korupsi.

Menghilangkan need, greed, dan opportunity yang mengawali terjadinya korupsi harus dilakukan sejak merekrut seseorang, meski bukan jaminan. Bahkan harus lebih ditanamkan melalui fraud awareness dan contoh-contoh yang diberikan seorang atasan atau public figure.

Apa yang kita lihat dari dugaan kasus Azis Syamsudin adalah contoh seorang pemimpin yang telah terbukti mendegradasi awareness pemberantasan korupsi kita.  Betapa merupakan unsur pencegah yang selalu diabaikan, sekaligus merupakan contoh negatif yang mudah ditiru oleh bawahannya.