Saya sedikit tertawa ketika mendengar ataupun membaca tulisan yang memberi pesan di era teknologi dunia semakin canggih. Tertawa saya bukan tanpa alasan. Membayangkan hal itu, saya teringat peristiwa lampau di pelosok desa, bukan mitos tapi fakta.

Desa memang selalu menyimpan rasa rindu bagi siapa saja yang pernah bercumbu dengan keindahan alamnya. Lampu-lampu jalan yang berusaha memberi seberkas cahaya bagi penelusur jalan malam yang berlubang kadang menakutkan. Belum lagi mitos keramat pohon-pohon besar yang menjulang ke jalan.

Ya, itulah desa. Namun sayang, desa selalu digambarkan sebagai wilayah yang tertinggal, bahkan kolot. Sepenggal lagu ini selalu kita nyanyikan riang gembira di Taman Kanak-Kanak, “pada hari minggu ku turut ayah ke kota.”

Maka tak heran jika banyak yang berbondong-bondong ke kota (urbanisasi). Sejak kecil kita diajak ke kota. Di sana menjanjikan kenyamanan dengan bangunan-bangunan megah, lampu-lampu jalan dengan sinar cahaya yang cukup, tak ada jalan yang berlubang. Tapi, semoga ini hanya prasangka burukku saja.

Hampir lupa, kembali ke ingatan peristiwa tadi. Cerita tentang seseorang yang sedang asyik bermain di sungai, tiba-tiba ia terbawa arus dan tak muncul lagi di permukaan.

Di kebanyakan desa memang dekat dengan sungai. Kalaupun tidak, sungai tetap menjadi lokasi wisata yang digemari orang kebanyakan, begitu yang ku temui. Tapi tak semua orang desa mahir berenang, mungkin itu pula sebabnya.

Orang desa yang cenderung percaya pada animisme, mengaitkan peristiwa tersebut dengan hal-hal yang mistis. Ini tidak bisa kita indahkan begitu saja. Sebab hasilnya, yang dapat menemukan jasad remaja tersebut hanya warga sekitar. Itupun harus menyelam beberapa menit tanpa menggunakan alat bantu pernafasan. Sungguh menkajubkan bukan.

Di era modern, masihkah kita menemukan hal demikian? Ku pikir sudah tidak mungkin. Menyelam beberapa menit itu mungkin saja, tapi dengan alat bantu (teknologi). Pikirku sejenak, lantas canggih itu yang seperti apa? Yang selalu dikoar-koarkan manusia di era millennial ini?

Dari peristiwa tersebut, sedikit mengembalikan kesadaran kita tentang perubahan besar manusia pra-teknologi ke manusia pasca-teknologi. Dahulu manusia dalam mengenali dunia kehidupannya membaca melalui alam semesta.

Bagi manusia pra-sejarah, waktu mengalir apa adanya. Tanda-tanda alamlah yang menjadi pedoman, kapan ia harus melakukan perburuan, kapan ia harus beristirahat dan aktivitas apapun itu. Manusia dahulu sangat dekat dengan alam.

Kehidupan manusia tidak stagnan pada kondisi itu. Lambat laun manusia mulai berinovasi, menciptakan alat sebagai penunjang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Seperti berburu dengan batu yang telah diasah kedua sisinya, kemudian berinovasi menggunakan kapak besi hingga mesin.

Kehadiran teknologi menjadi wahana baru bagi kehidupan manusia dalam upaya kesejahteraannya. Bagaimana tidak, teknologi menjadi media bagi manusia dalam mempermudah segala aktivitasnya, hampir sejak ia bangun dari tidur hingga kembali tidur, selalu berhubungan dengan teknologi.

Namun, kehadiran itu turut menyisakan kepiluan. Tak dapat dipungkiri, dunia baru manusia saat ini memberi jarak antara manusia dengan ligkungannya bahkan terhadap manusia. Yang sejatinya, kedua elemen ini tak dapat dipisahkan. Keduanya perlu keseimbangan agar manusia mendapat kebahagiaan yang hakiki.

Contoh sederhana, kita dapat menyaksikan transformasi tren bermain anak-anak. Dahulu, mereka bermain riang bersama alam, tak jarang alam dijadikan sebagai bahan untuk bermain, tanpa ada potensi merusaknya. Ya, memang begitulah citra permainan tradisional, selalu ada nuansa alam di dalamnya.

Kini, semua semakin terkikis oleh perkembangan zaman. Anak-anak sejak dini sudah mahir berteknologi. Kehidupannya yang seharusnya lebih banyak bermain dengan teman seumurannya, sirna akibat keasyikannya bercumbu dengan layar cerdas. Ditambah kurang kesadaran orang tua, semua larut begitu saja.

Jelas ini menjadi awal lahirnya manusia-manusia individualis, yang barang tentu juga memberi efek terhadap kepeduliannya terhadap lingkungan.

∗∗∗

Isu pelestarian lingkungan memang bukan hal yang baru saja disuarakan, salah satunya upaya konservasi hutan. Bahkan, upaya tersebut berkembang dalam bentuk lanskap. Pelestarian yang tidak hanya berfokus pada satu habitat, semisal, tetapi secara menyeluruh dalam suatu wilayah tertentu dan waktu jangka panjang.

Sejauh ini, penulis amati, dalam hal apapun itu, kebijakan-kebijakan pemerintah selalu berangkat dari hal-hal yang besar, atau kita sebut saja melalui to down (atas ke bawah) bukan bottom up (bawah ke atas). Melalui tulisan ini, saya mencoba melihat dari sisi manusianya sebagai subjek terpenting dalam upaya pelestarian lingkungan hidup.

Sebab, mau tak mau, seluruh upaya tanpa dilandasi dengan kesadaran manusia, ini hanya sebuah kesalahan. Pun demikian dengan isu lingkungan, kerusakan-kerusakan lingkungan hidup yang disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri. Dapat berupa ketidaktahuan ataupun ketidaksadaran.

Sementara, perilaku manusia ini dipengaruhi oleh cara pandang atau paradigma yang keliru. Paradigma yang berkembang saat ini ialah paradigma antroposentrisme, yang berpandangan bahwa manusia sebagai pusat dari segala sesuatu.

Dan alam semesta dipandang tidak memiliki nilai intrinsik pada diri manusia, selain hanya sebagai instrumen ekonomis bagi kehidupan ekonomi manusia. Sehingga eksploitasi yang berlebihan terhadap alam tak tanggung-tanggung dilakukannya.

Oleh karena itu, untuk menumbuhkan kesadaran manusia terhadap pentingnya menjaga, melindungi dan melestarikan lingkungan hidup, hal yang paling utama ialah mengubah paradigma masyarakat. Karena, sekali lagi paradigma ini sangat menentukan bagaimana seseorang bersikap.

Solusinya ialah menumbuhkan paradigma ekosentrisme. Sebuah cara pandang yang menganggap alam sama pentingnya, sebab mempunyai nilai intrinsik pada dirinya sendiri. Dan manusia wajib menghormati keanekaragaman hayati dalam sebuah alam atau hutan dengan cara melindungi dan melestarikan.

Meskipun hal ihwal tersebut tidak terjadi di seluruh wilayah Indonesia, tetapi untuk mengampanyekan pentingnya pelestarian lingkungan hidup, harus disuarakan secara nasional. Apalagi, pada dasarnya manusia tak bisa lepas dari lingkungan hidup, hanya kadarnya yang membedakan.

Menanamkan kesadaran ekosentrisme kita memerlukan langkah-langkah dan kerja keras. Seperti judul di atas, istilah budaya pop (pop culture) merupakan istilah baru di era postmodern ini. Di mana sekelompok masyarakat memiliki kesadaran yang sama, atau meminjam istilah Herbert Marcuse ‘manusia satu dimensi’. Akibat produksi kapitalisme membawa satu persepsi terhadap masyarakat (budaya massa), hal ini yang kemudian membelenggu kreativitas manusia.

Untuk itu, dalam membangun sinergitas dalam menyuarakan pentingnya melestarikan lingkungan, upaya terpenting adalah bagaimana hal ini menjadi suatu yang popular di masyarakat.

Gerakan Ekofeminisme

Dewasa ini, gerakan feminisme dianggap telah sukses dalam memperjuangkan hak-haknya, khususnya dalam ranah publik. Hal ini kian berkembang melihat problem-problem yang semakin menyemut. Melalui stigma bahwa tak hanya manusia yang dituntut mendapat keadilan, tetapi juga lingkungan hidup.

Gerakan ini pertama kali dicetuskan oleh seorang tokoh feminis Francoise d’Eaubonne melalui karyanya berjudul “Le Feminisme ou Lamourt” tahun 1974. Melalui bukunya, ia berusaha membangkitkan kesadaran perempuan untuk turut memperhatikan kerusakan dan krisis lingkungan hidup yang disebabkan oleh ulah manusia.

Di Indonesia, semangat gerakan perempuan baru terealisasikan dalam ranah pencegahan korupsi melalui gerakan “Saya Perempuan Anti Korupsi” (SPAK). Jelas pertimbangan gerakan ekofeminisme bercermin pada pemberantasan korupsi dapat menjadi solusi alternatif untuk menumbuhkan paradigma ekosentrisme dalam masyarakat, baik daerah yang mendominasi pengeruskan hutan, seperti Kalimantan dan Sumatera, serta seluruh daerah di Indonesia.

Sebab, tak dapat dipungkiri kejahatan terhadap hutan dan lingkungan hidup merupakan kejahatan luar biasa. Populasi manusia yang semakin bertambah, sementara persediaan sumber daya alam semakin terkikis akibat bencana alam yang terjadi. Sehingga gerakan pelestarian lingkungan menjadi sebuah keharusan.

Gerakan Ekomusikisme

Ya, industri musik juga menjadi sebuah budaya pop. Siapa yang tak suka dengan musik? Ku pikir semua akan menjawab ‘suka’.

Secara psikologi, memang musik dapat mempengaruhi karakter seseorang. Mereka yang geram dengan negara mungkin lebih banyak mendengarkan lagu-lagu perlawanan, begitu seterusnya. Sehingga, musik salah satu cara manusia untuk menggambarkan keadaan hatinya.

Istilah ekomusikisme merupakan istilah baru, hasil perenungan penulis membaca budaya masyarakat Indonesia. Ekomusikisme secara sederhana dapat diartikan sebagai penciptaan musik yang bermuatan lingkungan hidup.

Di Indonesia, musik yang bernuansa lingkungan, baik dalam bentuk lirik dan musiknya sudah banyak dilayangkan, seperti Iwan Fals.

Khususnya dalam seni tari, tarian bernuansa lingkungan hidup menjadi pesan moral yang tersirat. Salah satu contoh tari Nangkluk dari Bali, tarian ini memberi pesan moral agar kita senantiasa menjaga alam, dan masih banyak lagi tarian lainnya.

Semakin ke sini, manusia Indonesia cenderung hanya mempelajari secara artifisial, bukan pada esensi dan substansinya. Sehingga, apa-apa yang dipelajari berlalu begitu saja. Hanya sebatas teks tanpa aktualisasi.

Sanggar seni tentu tak terhingga jumlahnya di Indonesia, ini merupakan medium bagi kita untuk mengampanyekan pentingnya menjaga lingkungan hidup. Karena untuk melakukan hal itu, tak dapat dilakukan secara radikal (memaksa). Tetapi dengan perlahan, berkompromi dengan kebiasaan-kebiasaan (pop culture) masyarakat. Dan musik adalah salah satu infrastruktur yang cukup efektif untuk mengkampanyekan pentingnya pelestarian lingkungan hidup.