Dalam kehidupan sehari-hari, orang begitu sering membicarakan soal kebudayaan, juga orang-orang tidak mungkin tak berurusan dengan hasil-hasil kebudayaan. Setiap hari orang melihat, mempergunakan dan bahkan kadang-kadang merusak kebudayaan.

Namun apakah yang disebut kebudayaan itu? Apakah masalah tersebut penting bagi dalam kehidupan? Kebudayaan sebenarnya secara khusus dan lebih teliti dipelajari oleh antropologi budaya. Budaya sejatinya merupakan suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis.

Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. Kata Kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta, Budhayah, yang merupakan bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal, kebudayaan diartikan sebagai “hal-hal yang bersangkutan dengan Budi dan Akal.

Dengan demikian budaya dapat diartikan hal-hal yang bersangkutan dengan akal dan cara hidup yang selalu berubah dan berkembang dari waktu ke waktu. Ada pendapat lain yang mengupas kata budaya sebagai suatu perkembangan dari kata majemuk budi-daya yang berarti daya dari budi.

Dua orang antropologi terkemuka yaitu Melville J. Herskovits dan Bronislav Molinowski mengemukakan bahwa Cultural Determinism berarti segala sesuatu yang terdapat didalam masyarakat ditentukan adanya oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu. Kemudian Herskovits memandang kebudayaan sebagai suatu yang Super-Organic, karena kebudayaan yang berturun-temurun dari generasi ke generasi tetap hidup dan terus, walau orang-orang yang menjadi anggotamasyarakat senantiasa silih berganti disebabkan kematian  dank kelahiran.

Dalam hal ini, Prof. Dr. Koentjoroningrat mendefinisikan kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusiadalam rangka kehidupanbermasyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.

Hal tersebut berarti bahwa hampir seluruh tindakan manusia adalah kebudayaan karena hanya sedikit tindakan manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang tak perlu dibiasakan dengan belajar, seperti tindakan naluri, refleks, beberapa tindakanakibat proses fisiologi, atau kelakuan apabila ia sedang membabi buta.

Bahkan tindakan manusia merupakan kemampuan naluri yang terbawa oleh makhluk manusia dalam gen bersamanya (seperti makan, minum, atau berjalan), juga dirombak olehnya menjadi tindakan yang berkebudayaan. Supaya hubungan antara manusia didalam suatu masyarakat terlaksana sebagaimana diharapkan, maka dirumuskan norma-norma masyarakat.

Mula-mula norma tersebut terbentuk secara tidak sengaja, namun lama-kelamaan norma-norma tersebut dibuat secara sadar. Misalnya, dahulu di dalam jual-beli, seorang perantara tidak harus diberi bagian dari keuntungan, lama-kelamaan perantara perantara mendapatkan bagiannya, di mana sekaligus ditetapkan siapa yang menanggung itu, yaitu pembeli atau penjual.

Kota perbatasan terbesar yang ada di Indonesia dengan negara tetangga, Malaysia, Singapura, dan Vietnam ialah Kota Batam, yang terletak di Privinsi Kepulauan Riau, sejak zaman dahulu telah berlangsung arus migrasi, asimilasi, dan perpaduan budaya.

Tak heran, Kota Batam kini dihuni setidaknya 17 suku bangsa, antara lain Melayu Riau, Melayu Sumatera (di luar Riau), Melayu Kalimantan, Minangkabau, Jawa, Bugis, Batak, Sunda, Aceh, Bali, Madura, Nias, Flores, Dayak, Papua, Betawi, Ambon, dan Cina.

Keanekaragaman suku ini membawa kekayaan khazanah budaya melayu yang ada dikota batam, terutama bahasanya. Namun, bahasa yang digunakan sehari-hari oleh penduduk kota Batam adalah bahasa Indonesia. Prinsip Bhinneka Tunggal Ika yang diterapkan masyarakat melayu Batam menyebabkan terbentuknya tradisi yang majemuk.

Dengan keterbukaannya, kebudayaan Melayu Kepri dapat mengakomodasi perbedaan yang terdapat dalam unsur-unsurnya dan secara bersama-sama hidup dalam kehidupan yang penuh dengan keterbukaan.

Ciri-ciri kebudayaan Melayu Kepri yang bersifat terbuka dan mempunyai kemampuan mengakomodasi perbedaan tersebut muncul sebagai hasil dari pengalaman sejarah kebudayaan melayu yang selama berabad-abad telah berhubungan dengan kebudayaan asing (non-Melayu).

Oleh karena itu, kebudayaan melayu di Batam mempunyai kemampuan mengambil alih unsur-unsur kebudayaan non-melayu dan menjadikannya sebagai bagian dari kebudayaan Melayu Batam.

Tidak mengherankan bila ada unsur-unsur atau simbol-simbol yang dianggap sebagai simbol melayu, namun setelah ditelusuri secara mendalam ternyata adalah simbol-simbol yang berasal dari kebudayaan non-melayu. Contohnya musik melayu ghazal yang berasal dari Semenanjung Arab.

Berbagai macam cara mempertahankan Budaya Melayu yang dapat dilakukan semua golongan ialah :

1. Memperkenalkan Tepuk Tepung Tawar

Upacara tepuk tepung tawar dilaksanakan oleh orang-orang tua adat, pemuka adat, orang yang dituakan dan menurut tingkat social masyarakat yang akan ditepuk tawari.

Hitungan yang akan menepuk tepung tawar itu berjumlah ganjil, yaitu 3, 5, 9. Yang paling tinggiuntuk sultan sebanyak Sembilan orang penepuk tepung tawarnya, kaum bangsawan, pembesar kerajaan sebanyak tujuh penepuk tepung tawarnya, Datuk-datuk, orang besar dan tuan-tuan, encik-encik sebanyak lima penepuk tepung tawarnya sedangkan orang biasa hanya tiga penepuk tepung  tawarnya, hal berikut berlaku dalam adat istiadat tempo dulu.

2. Memperkenalkan Tokoh Penting Melayu Batam (Temenggung Tun Abdul Jamal)

Temenggung Tun Abdul jamal memiliki hubungkait dengan kota Batam, Sehingga namanya diabadikan sebagai nama stadion olahraga terbesar di Kota Batam.

Bernama asli Abdul Jamal, Temenggung Tun Abdul Jamal adalah putera Tun Abbas Datuk Bendahara Sri Maharaja Johor Ibni Sultan Abdul Jalil Riayat Syah, Bekas Bendahara Johor yang menaiki tahta Johor menggantikan Sultan Mahmud Syah II pada tahun 1699.

3. Menjaga Peninggalan Budaya Melayu

Dalam melestarikan kebudayaan melayu seharusnya urusan kebudayaan tidak bisa dipandang secara general. Meski ada surat edaran dari Menteri Pendidikan menganjurkan kedua dinas tersebut dilebur, beda halnya dengan Jogjakarta, Bali dan Aceh yang memiliki kekuatan kebudayaan. Memang tidak seluruh wilayah di Kepri harus mendirikan sendiri dinas kebudayaan. Ada daerah tertentu seperti halnya Batam.

4. Memperkenalkan Hasil-hasil Budaya Melayu

Anak-anak Batam yang memahami budaya melayu sejatinya harus memperkenalkan budaya melayu kepada pendatang dan juga anak-anak yang belum mengenali atau tidak memahami budaya melayu secara keseluruhan, budaya melayu harus menjadi budaya wajib bagi Penduduk Kota Batam.

Arus globalisasi yang berjalan dengan cepat menjadi ancaman bagi eksistensi berbagai budaya lokal yang ada di Indonesia, salah satunya Budaya Melayu. Penggerusan nilai-nilai budaya melayu merupakan resiko posisi Kota Batam sebagai bagian dari proses pembangunan.

Globalisasi adalah keniscayaan yang tidak dapat dicegah, tetapi efeknya yang mampu mematikan budaya melayu tidak boleh dibiarkan begitu saja.

Budaya melayu perlu memperkuat daya tahannya dalam menghadapi globalisasi budaya asing.

Ketidakberdayaan dalam menghadapinya sama saja dengan membiarkan pelenyapan atas sumber identitas melayu yang diawali dengan krisis identitas melayu. Memang, globalisasi harus disikapi dengan bijaksana sebagai hasil positif dari modenisasi yang mendorong masyarakat pada kemajuan.

Namun, para pelaku budaya melayu tidak boleh lengah dan terlena karena era keterbukaan dan kebebasan itu juga menimbulkan pengaruh negatif yang akan merusak budaya melayu. Menolak globalisasi bukanlah pilihan tepat, karena itu berarti menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, yang dibutuhkan adalah strategi untuk meningkatkan daya tahan budaya melayu dalam menghadapinya.

Berikut ini adalah Rekomendasi yang bisa dijalankan.

1. Meningkatkan Identitas Melayu

Upaya meningkatkan identitas melayu, termasuk di dalamnya penghargaan pada nilai budaya dan bahasa melayu, nilai-nilai solidaritas sosial, kekeluargaan dan rasa cinta tanah air dirasakan semakin memudar.

Budaya meleyu yang lebih sesuai dengan karakter bangsa semakin sulit ditemukan, sementara itu budaya global lebih mudah merasuk. Selama ini yang terjaring oleh masyarakat hanyalah gaya hidup yang mengarah pada westernisasi, bukan pola hidup modern.

Karena itu, identitas masyarakat melayu harus dibangun secara kokoh dan diinternalisasikan secara mendalam. Caranya, dengan menanamkan nilai-nilai budsys melayu sejak dini kepada generasi muda. Pendidikan memegang peran penting di sini sehingga pengajaran budaya perlu dimasukkan dalam kurikulum pendidikan yang ada dilingkup kota batam dan diajarkan sejak sekolah dasar.

Harus dipahami, nilai-nilai budaya melayu bukanlah nilai usang yang ketinggalan zaman sehingga ditinggalkan, tetapi dapat bersinergi dengan nilai-nilai universal dan nilai-nilai modern yang dibawa globalisasi.

2. Memahami Filsafat Melayu

Bentuk tindak lanjut pembangunan jati diri bangsa melalui revitalisasi budaya melayu, pemahaman atas falsafah budaya melayu harus dilakukan. Langkah ini harus dijalankan sesegera mungkin ke semua golongan dan semua usia berkelanjutan dengan menggunakan bahasa-bahasa melayu dlam keseharian di Kota Batam.

Langkah penting untuk melakukannya adalah dengan meningkatkan kualitas pendidik dan pemangku budaya melayu secara berkelanjutan. Pendidik yang berkompeten dan pemangku budaya yang menjiwai nilai-nilai budaya melayu adalah aset penting dalam proses pemahaman falsafah melayu.

Pemangku budaya melayu tentunya juga harus mengembangkan kesenian melayu. Penggalakan pentas-pentas budaya di berbagai wilayah mutlak dilakukan. Penjadwalan rutin kajian budaya dan sarasehan falsafah budaya melayu juga tidak boleh dilupakan.

3. Peraturan Daerah Khusus Budaya Melayu

Budaya melayu harus dilindungi oleh hukum yang mengikat semua elemen masyarakat. Pada dasarnya, budaya adalah sebuah karya. Di dalamnya ada ide, tradisi, nilai-nilai kultural, dan perilaku yang memperkaya aset kebangsaan.

Tidak adanya perlindungan hukum dikhawatirkan membuat budaya melayu mudah tercerabut dari akarnya karena dianggap telah ketinggalan zaman. Karena itu, peraturan daerah (perda) harus diterbitkan. Peraturan itu mengatur tentang pelestarian budaya melayu yang harus dilakukan oleh semua pihak.

Kebudayaan akan tetap lestari jika ada kepedulian tinggi dari masyarakat. Selama ini kepedulian itu belum tampak secara nyata, padahal ancaman sudah kelihatan dengan jelas.

Berkaitan dengan itu, para pengambil keputusan memegang peran sangat penting. Eksekutif (Pemerintah Kota Batam) dan legislative (DPR-D Kota Batam) harus bekerja sama dalam merumuskan sebuah perda yang menjamin kelestarian budaya Melayu. Dalam perda, perlu diatur hak paten bagi karya-karya budaya leluhur agar tidak diklaim oleh negara lain.

Selain itu, masalah pendanaan juga harus diperhatikan karena untuk merawat sebuah budaya tentu membutuhkan anggaran meskipun bukan yang terpenting. Anggaran itulah yang nantinya dimanfaatkan untuk bisa memberi fasilitas secara berkelanjutan bagi program-program pelestarian budaya Melayu. Dalam hal ini, pemerintah Kota Batam memegang peran paling besar

Kesimpulannya Globalisasi adalah sebuah kondisi tak terelakkan yang harus disikapi secara strategis oleh semua negara, termasuk Indonesia. Prosesnya yang menyebar ke segala arah menembus batas wilayah negara bangsa mendorong terciptanya lalu lintas budaya melayu yang kemudian bermetamorfosis menjadi budaya yang dianut masyarakat global.

Akibatnya, budaya melayu menghadapi ancaman serius dari budaya asing yang mampu secara cepat masuk ke dinamika kehidupan masyarakat melayu melalui media komunikasi dan informasi. Kedua, sebagai negara berkembang, Indonesia menghadapi persoalan terkait kemampuan budaya melayudalam menahan penetrasi budaya asing.

Kelemahan penguasaan teknologi komunikasi dan informasi serta pasar yang luas menjadikan Indonesia sebagai target potensial bagi budaya negaranegara maju. Problematika yang muncul adalah melunturnya warisan budaya yang telah puluhan tahun ditradisikan oleh leluhur.

Tradisi budaya asli tergeser oleh tradisi budaya baru yang dipromosikan negara-negara maju. Ketiga, menyikapi prolematika itu, dibutuhkan strategi yang tepat agar budaya lokal tidak semakin tergerus oleh budaya asing dan secara perlahan berpotensi melenyapkan.

Strategi yang bisa dijalankan adalah pembangunan jati diri bangsa untuk memperkokoh identitas kebangsaan, pemahaman falsafah budaya melayu kepada seluruh kalangan masyarakat kota Batam, penerbitan peraturan daerah yang melindungi budaya melayu, dan memanfaatkan teknologi informasi untuk mengenalkan budaya melayu ke masyarakat dunia.