Kemarin, saya membaca keluhan masyarakat terkait belajar daring siswa di salah satu grup Whatsapp. Sebagian dari mereka menyampaikan bahwa anak-anak mulai jenuh dengan adanya belajar daring. Apalagi anak-anak di tingkat sekolah dasar.

“Lebih banyak tugas daripada belajar”. Itulah salah satu ungkapan orang tua murid. Apalagi setelah pemerintah menetapkan penerapan pembatasan kegiatan masyarakat atau PPKM di Jawa Bali. Akibat keputusan tersebut, mau tidak mau pembelajaran daring tetap dilakukan.

Salah satu kawan saya mengatakan bahwa harusnya semester ini memulai pembelajaran tatap muka, apalagi kemendikbud dan beberapa kementrian lainnya sudah mengeluarkan surat keputusan bersama untuk pembelajaran tatap muka.

“Eh, tunggu dulu, coba baca kembali SKB itu dong”. Sanggah saya. Tentu saya tidak setuju atas ungkapan kawan saya yang menyebutkan bahwa kemendikbud dan beberapa kementrian lain melegalkan pembelajaran tatap muka di mulai pada semester ini.

Akhirnya, teman saya yang lain mencoba menjelaskan bahwa SKB 4 Menteri menjelaskan bahwa untuk membuka pembelajaran tatap muka harus mematuhi beberapa kriteria. Diantaranya adalah jika kasus positif sudah menurun dan juga ketersediaan fasilitas kesehatan.

Saya pun mengamini penjelasan kawan saya tersebut dan sepakat terhadap keputusan kemendikbud dan kementrian lainnya. Bahwa syarat pemerintah daerah untuk membuka pembelajaran tatap muka harus mengutamakan keselamatan siswa daripada keinginan semata atau bahkan hanya karena alasan bosan.

***

Tentu, saya memiliki alasan mengapa mendukung kebijakan kemendikbud untuk tidak membuka sekolah dan melaksanakan pembelajaran tatap muka serta melanjutkan pembelajaran daring di semua lembaga pendidikan.

Alasan saya yang pertama adalah kondisi saat ini kasus positif yang semakin meningkat. Belum ada yang menjamin jika sekolah di buka, seluruh warga sekolah bisa aman dari Covid-19. Apalagi jika kesiapan hanya sebatas ketersediaan protokol kesehatan.

Tidak ada yang bisa menjamin keselamatan siswa dan warga sekolah, apalagi untuk sekolah dasar yang sulit menghindari kerumunan siswa jika sudah saling bertemu. Belum lagi dalam perjalanan menuju sekolah atau rumah. Saya sangat yakin belum ada jaminan atas keamanan dan kesehatan siswa jika sekolah di buka. Namun saya bersyukur karena adanya kebijakan PPKM sehingga pemda wajib menunda sekolah tatap muka.

Selanjutnya, dengan adanya Covid-19 dan kebijakan kemendikbud terkait pembelajaran daring, masyarakat dipaksa untuk melek teknologi di tengah arus perubahan teknologi yang sangat deras. Dan ini tentu salah satu keuntungan yang luar biasa.

Lihat saja, banyak guru, orang tua, anak-anak muda dipaksa terbiasa menggunakan aplikasi sejenis Zoom, Google Meeting dan aplikasi lainnya agar pembelajaran tetap berlangsung baik di sekolah ataupun di kampus.

Awalnya, memang masyarakat termasuk saya sendiri pun kaget, namun perlahan kita sudah terbiasa melakukan pembelajaran daring. baik dilakukan melalui Whatsapp grup, zoom meeting, Google Meeting, Google Classroom dan masih banyak lainnya.

Melihat kondisi ini, saya kira ke depan kita bisa melaksanakan pembelajaran campuran (Blended Learning). Perpaduan antara pembelajaran tatap muka dan pembelajaran daring untuk kemajuan pendidikan di Indonesia serta mengikuti arus global yang sangat deras.

***

Namun, masih ada pekerjaan rumah yang harus dilakukan oleh Pemerintah baik kemendikbud ataupun kementrian lainnya jika memang ingin melaksanakan  perpaduan antara pembelajaran tatap muka atau pembelajaran daring.

Pertama, pemerintah harus memastikan jaringan internet di seluruh Indonesia sudah tersedia dengan baik. Karena mau tidak mau pembelajaran daring membutuhkan jaringan internet yang stabil.

Karena dalam perbincangan grup WA di atas juga menyebutkan jaringan jelek dan mahal juga menjadi kendala pembelajaran daring, sehingga jika kemendikbud ingin melaksanakan blended learning harus memastikan bahwa semua kawasan Indonesia harus sudah terkoneksi internet dengan jaringan yang stabil.

Berikutnya, PR yang harus dibenahi adalah penyiapan sumber daya manusia. Melihat keluhan-keluhan siswa yang mengatakan “belajar daring hanya tugas saja tidak ada penjelasan” ini membuktikan bahwa memang SDM kita belum siap dalam melaksanakan pembelajaran daring.

Namun, ini bisa diatasi dengan pelatihan-pelatihan untuk seluruh tenaga pengajar agar bisa memberikan materi secara daring dan bukan tugas saja. Selanjutnya juga orang tua diberikan pelatihan agar bisa mendampingi anak-anaknya dalam pembelajaran daring apalagi tidak semua tenaga pengajar dan orang tua melek teknologi dan pembelajaran daring ini.

Memang, butuh waktu yang sangat panjang untuk mengalihkan kebiasaan pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran campuran antara tatap muka dan juga daring. Dan cukup sulit tentunya mengubah kebiasaan masyarakat yang sudah lama tercipta.

Saya kira, dengan adanya Covid-19 ini kita harus bersyukur karena kita bisa mengejar ketertinggalan dunia pendidikan dalam menggunakan teknologi di dunia internasional. Dan kita bisa memanfaatkan kondisi ini untuk membiasakan masyarakat dalam menggunakan teknologi di dunia pendidikan.

Sudah saatnya, semua pihak berinvestasi untuk kemajuan pendidikan di Indonesia, dengan adanya covid, daripada pusing untuk mengeluarkan dana mempersiapkan sekolah tatap muka. Lebih baik dananya dipergunakan untuk berinvestasi menyiapkan SDM dalam peralihan dari pembelajaran tatap muka yang konvensional menuju perpaduan pembelajaran tatap muka dan daring.

Karena mau tidak mau, cepat atau lambat, teknologi akan berpengaruh besar dalam dunia pendidikan ke depan. Makanya sudah saatnya kita mulai peralihan dengan mempersiapkan SDM yang kompeten untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Cara memulainya adalah kita harus mulai terbiasa dengan pembelajaran daring saat ini.

Fathin Robbani Sukmana, Penulis