Ilmu pengetahuan alam disebut sebagai ilmu yang bersifat tentatif dan merupakan ilmu yang mengkaji alam semesta beserta isinya. Sifat ketentatifannya tak lepas dari rasa ingin tahu dari manusia itu sendiri untuk mengembangkan pemahaman atau pengetahuan yang telah mereka ketahui melalui panca indranya.

Pengetahuan atau pemahaman melalui panca indra terkait alam semesta ini kemudian menimbulkan pertanyaan serta dugaan-dugaan sementara yang selanjutnya dicari kebenarannya melalui pengamatan dan dengan metode-metode ilmiah lainnya sehingga didapatkan suatu jawaban yang dapat diterima oleh akal manusia.

Sejalan dengan rasa ingin tahu manusia yang tidak ada puasnya tak jarang bidang keilmuan terus mengalami perubahan-perubahan seiring munculnya teori yang baru, tak jarang teori yang dikemukakan mendapat penolakan dari ilmuwan lainnya.

Namun yang harus diterima adalah teori-teori yang sudah ada dapat begitu saja terbantahkan dengan kemunculan teori baru yang muncul, salah satunya adalah teori-teori mengenai terbentuknya alam semesta.

Beberapa teori tersebut adalah:

Steady State Theory Steady State Theory, teori ini mengatakan bahwa alam semesta sudah ada sejak dan akan tetap seperti ini, dengan kata lain bahwa alam semesta tidak mengalami perubahan tanpa awal dan akhir.

Kemudian muncullah teori Big-Bang (dentuman besar), teori ini pertama kali ditemukan oleh Abbe Lemaind seorang kosmolog pada tahun 1920-an, ia menyatakan bahwa alam semesta ini bermula dari gumpalan super-atom raksasa yang kemudian meledak kira-kira 15 milyar tahun yang lalu.

Sebagai akibat dari dentuman yang besar materi-materi tersebut kemudian menyebar luas dalam bentuk debu dan awan hidrogen. Diperkirakan saat ledakan berlangsung suhu di angkasa sangatlah panas.

Debu dan awan hidrogen berkondensasi membentuk bintang-bintang dan tentunya dalam ukuran yang berbeda-beda beberapa ratus tahun kemudian seiring menurunnya suhu di angkasa, yang mana bintang-bintang tersebut membentuk suatu kelompok yang kemudian kita sebut dengan galaksi. 

Kemunculan kedua teori yang memiliki sudut pandang yang berbeda ini memang tidak sepenuhnya dapat langsung diterima atau dipun ditolak oleh para ilmuwan lainnya, mengingat penjelasan dari kedua teori ini memang dapat diterima oleh akal manusia.

Pada tahun 1929 Hubble melalui pengamatannya ia menemukan bahwa dimanapun kita melihat galaksi-galaksi yang jauh selalu bergerak menjauhi kita.  Penemuan alam semesta yang mengembang adalah salah satu revolusi intelektual terbesar. Menurutnya setelah dentuman besar pada waktu tertentu setelah berumur ratusan galaksi-galaksi yang terbentuk tersebut mengembang.

Sejalan dengan itu Friedman yang datang sebelum Hubble ia juga menyatakan bahwa jarak antara galaksi mesti nol pada waktu lalu sekitar sepuluh atau dua puluh miliar yang lalu, kemudian dengan adanya dentuman yang besar kerapatan alam semesta dan kelengkungan ruang waktu tak terhingga.

Dengan menganut teori relativitas umum maka Friedman memprediksi bahwa ada titik di alam semesta, yang mana titik itu disebut singularitas yang mana menurut teori sains ruang dan waktu nyaris mulus dan datar sehingga semuanya hancur karena suatu ledakan.

Sebelum teori alam semesta berkembang,  Isaac Newton seorang ilmuwan terkenal pada zamannya telah lebih dahulu menyampaikan mengenai asal muasal alam semesta dengan mengajukan argumen bahwa hukum gravitasi universal juga mempengaruhi pergerakan benda-benda langit di alam semesta yang mengakibatkan benda-benda langit tarik menarik satu sama lain.

Menurut Newton bintang-bintang baru dapat bertabrakan di suatu titik apabila ada bintang dalam jumlah tertentu diruang yang terbatas, dan alam semesta memiliki bintang tak terhingga dan menyebar di angkasa yang luas sehinnga tidak mungkin bertabrakan.

Pada abad tahun 1959 Stephen Hawking yang merupakan seorang mahasiswa Universitas Oxford menggagas ilmu fisika terutama yang mengenai tentang kosmologi. Melalui pemahamannya Hawking kurang setuju dengan argumen Newton terkait ketakterhinggaan dalam alam semesta yang tak terbatas.

Menurut logika Hawking seharusnya bintang-bintang tersebut tetap saling bertabrakan karena tiap titik ada bintang dengan jumlah yang tak terhingga sehingga mustahil apabila tidak bertabrakan.

Bagaimana pergerakan alam semesta apabila menganut teori Big Bang pada awal permulaan abad ke-20an oleh ilmuwan bahwa alam semesta dapat dijelaskan dari teori relativitas umum yang dikemukakan oleh Einstein dan teori mekanika kuantum.

Teori relativitas umum yang datang sebagai revolusi dari teori gravitasi yang mana dalam teori ini dapat menjawab ketidak benaran teori mekanika newton, yang mana Einstein mengatakan bahwa medan gravitasi diwakili oleh garis melengkung. 

Gelombang gravitasi juga menjadi sebuah rekam jejak dalam dinamika ruang dan waktu di alam semesta sehingga teori bahwa ruang bersifat mutlak yang disampaikan Newton adalah salah.

Para ilmuwan menggatakan  teori relativitas ini dapat menjelaskan mengenai struktur skala besar dari alam semesta yang dapat diamati.Di satu sisi teori mekanika kuantum menjelaskan peristiwa di skala luar yang kecil misalnya satu per sejuta-juta inci. Namun didapatkan hasil bahwa kedua teori ini tidaklah sinkron satu sama lain.

Berawal dari pemahamannya mengenai Teori Big-Bang yang berdasarkan pada dua teori yaitu teori relativitas umum dan mekanika kuantum ini Stephen Hawking memaparkan bahwa dentuman besar ini merupakan kebalikan dari lubang hitam.

Ia menyatakan bahwa alam semesta berada di ruang dan waktu yang mana pada suatu waktu semakin padat pada akhirnya meledak dan materi sisa-sisa ledakan menyebar dengan luas.

Dalam bukunya A Brief History of time Stephen Hawking mengemukakan model alam semesta.Berpacu  dengan teori relativitas klasik yang mana menurut dari teori tersebut dikatakan bahwa alam semesta berasa dari singularitas ledakan besar. 

Singularitas itu sendiri adalah satu titik dalam ruang dan waktu yang mana kelengkuangan dari ruang dan waktu ini menjadi tak terhingga.Walaupun ia setuju mengenai singularitas akan tetapi nampaknya Stephen hawking memiliki pendapat lain.

 Ia menyampaikan bahwa waktu berupa titik dengan kerapatan dan kelengkungan waktu tak terhingga sebagai akibatnya hukum-hukum sains tidak dapat mempengaruhi singularitas yang seperti itu.

Masalah singularitas tersebut mulai dipecahkan dengan teori mekanika kuantum dan gravitasi. Stephen Hawking menjelaskan bahwa teori mekanika kuantum dan gravitasi dapat berlaku pada singularitas.

Melalui singularitas inilah nantinya daapat menunjukkan bahwa medan gravitasi harus mempunyai kekuatan yang sangat besar sehingga efek kuantum tidak lagi dapat tidak anggap lagi.

Daftar Pustaka

  1. Hawking Stephen. 2013. A Brief History Of Time. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama 
  2. Teori Kejadian Alam Semesta
  3. Hawking, Big Bang, dan Alquran