Alhamdulillah, kita masih dipertemukan Allah SWT di bulan Ramadhan 1442 H. Sama seperti tahun lalu,  Ramadhan tahun ini masih terasa berbeda bila dibandingkan dengan sebelumnya karena masih berada di tengah kondisi pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung satu tahun lebih lamanya. Dalam menjalankan ibadah selama bulan Ramadhan berbagai aturan protokol kesehatan yang wajib kita patuhi bersama untuk mencegah penyebaran virus tersebut.

Sebagai bentuk rasa syukur kita, walau dalam keterbatasan seorang muslim tentunya bisa memaksimalkan ibadah dalam mengisi amalan-amalan di bulan Ramadhan, mulai dari berpuasa, sholat, berinfaq, berdzikir sampai mengisi waktu yang ada dengan menimbah ilmu memburu warisan Rasulullah di bulan Ramadhan saat Pandemi Covid-19.

Warisan Rasulullah ini sudah banyak ditinggalkan umatnya, tidak hanya generasi sekarang bahkan pada generasi awal setelah Rasulullah meninggal dunia pun  juga ada yang meninggalnya dan sibuk mengejar dunia. Sebagaimana dikisahkan dalam Kifayatul Atqiya’ wa Minhajul Ashfiya – karangan Shekh Abu Bakr as-Sayyid al-Bakri ibn as-Sayyid Muhammad Syatha ad-Dimyathi .

***

Suatu hari, sahabat nabi Abu Hurairah RA  melewati sebuah pasar di mana masyarakat pada saat itu sudah mulai mengabaikan sunnah nabi dan tenggelam dalam cinta duniawi (hubbud dunia), beliau menyaksikan mereka duduk-duduk diam menganggur tanpa ibadah yang dapat mereka lakukan sambilan.

Abu Hurairah RA sangat cemas akan hal ini, kemudian beliau berseru "Wahai penduduk pasar, mengapa kalian duduk di sini? Harta peninggalan Rasulullah SAW sedang dibagikan-bagikan di masjid,". Mendengar seruan itu, mereka pun bangkit dan sebagian meninggalkan aktivitas jual-belinya. Mereka dengan semangat bergegas ke masjid.

Sampai di masjid mereka melihat ke semua ruangan masjid. Tetapi mereka hanya menemukan sekelompok orang yang sedang shalat sunnah, sebagian orang lainnya membaca Al-Qur’an. sedangkan sekelompok orang sedang melakukan kajian halal dan haram (fiqih). Mereka kecewa karena tidak mendapati apa yang mereka harapkan dan bayangkan. Mereka kemudian pergi meninggalkan masjid.

Kemudian mereka kembali menemui Abu Hurairah RA untuk mengajukan komplain. "Di mana harta peninggalan Nabi Muhammad SAW?" protes mereka kepada Abu Hurairah RA. "Memang apa yang kalian lihat di masjid?" tanya balik sahabat Abu Hurairah RA. Mereka kemudian menceritakan bahwa mereka menyaksikan jamaah masjid melakukan shalat sunnah, tadarus Al-Qur’an, dan melakukan kajian hukum Islam (fiqih) di masjid

"Apa yang kalian saksikan adalah harta peninggalan Nabi Muhammad SAW karena para nabi tidak meninggalkan uang dinar dan dirham. Mereka hanya mewariskan ilmu (yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat). Siapa saja mengambilnya, maka ia menerima harta peninggalan yang begitu banyak dari para nabi," kata Abu Hurairah RA. *

***

Sahabat Abu Hurairah RA mengerti benar sabda Rasulullah SAW bahwa ulama adalah ahli waris para nabi karena para nabi tidak meninggalkan warisan  berupa harta dinar dan dirham. Mereka hanya meninggalkan ilmu. Inilah yang menjadi harta warisan mereka.

Maka sudah selayaknya kita tetap menjaga warisan Rasulullah terutama di bulan Ramadhan karena banyak waktu luang yang  kita manfaatkan untuk menimba ilmu seperti mendengarkan ceramah di masjid, di televisi atau membaca buku-buku keislaman. Apalagi saat era digital ini sungguh banyak ilmu yang kita dapatkan melalui media sosial atau media online.

Bagi orang tua sudah seharusnya membekali ilmu kepada anak-anaknya terutama ilmu agama di samping ilmu dunia yang sudah mereka dapatkan di dunia pendidikan formal. Keseimbangan antara ilmu agama dan ilmu dunia akan menuntun mereka untuk meraih apa yang mereka cita-citakan dalam meraih ridho Allah

Menginvestasikan ilmu kepada mereka akan lebih menentramkan bila dibanding dengan memberikan harta yang melimpah yang akan menjerumuskan mereka ke dalam kebinasaan.

***

Berikut sepuluh perbedaan antara ilmu dan harta menurut Sayyidina Ali RA dalam Kitab al-Mawaidh al-‘Usfuriyah,

Pertama, ilmu adalah warisan para nabi dan rasul, sedangkan harta adalah warisan Qarun, Fir’aun, Namrud dan lain-lainnya;

Kedua, ilmu akan menjaga diri kita, sementara harta malah sebaliknya, malahan kita yang harus menjaganya;

Ketiga, orang yang memiliki banyak harta akan memiliki banyak musuh. Sedangkan orang yang kaya ilmu akan banyak orang yang menyayangi serta menghormatinya;

Keempat, harta jika sering kita gunakan akan semakin berkurang. Berbeda dengan ilmu, semakin sering digunakan, maka akan semakin bertambah;

Kelima, pemilik harta biasanya akan ada seseorang yang menyebutnya pelit, sedangkan pemilik ilmu akan dihargai dan disegani;

Keenam, pemilik harta akan selalu menjaganya dari kejahatan, baik maling, rampok maupun yang lain. Sedangkan ilmu tak perlu susah payah menjaganya, karena ia lah yang akan menjaga kita;

Ketujuh, pemilik ilmu akan diberi syafa’at oleh Allah SWT di hari kiamat kelak, sementara pemilik harta, setiap harta yang digunakan akan dihisab oleh Allah kelak di yaumul hisab;

Kedelapan, harta pada saatnya akan habis, sedangkan ilmu malah sebaliknya, ilmu akan abadi;

Kesembilan, seseorang yang banyak harta akan dijunjung tinggi hanya karena hartanya. Sedangkan orang yang berilmu akan dijunjung tinggi karena ilmu dan intelektualnya;

Kesepuluh, harta sering kali membuat kita tidak tenang, bahkan dengan kata lain harta dapat mengeraskan hati kita. Tetapi, ilmu sebaliknya, dia akan menyinari hati hingga hati kita menjadi terang dan tenteram.

Demikian keutamaan ilmu sebagai warisan dari Rasulullah SAW yang harus kita raih, khususnya dalam mengisi hari demi hari di bulan Ramadhan.

Penulis, Guru SMK Telkom Medan & Dosen Politeknik Ganesha Medan