Aku membuka kenangan masa kecilku ketika memenuhi undangan bedah buku ke Desa Sambaliwali, Kecamatan Luyo, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. 

Perjalanan ke desa Sambaliwali aku tempuh dengan menggunakan motor. Adikku, Ammoz, memboncengku melewati Desa Puccadi, Kecamatan Mapili, Kabupaten Polewali Mandar, di mana, di Desa Puccadi, aku pernah bersekolah.

Aku bersekolah di sana sejak masuk kelas satu sampai kelas tiga SD. Itu karena ibuku terangkat menjadi guru agama Islam di sana. Namun, di kelas tiga SD, aku dan ibuku pindah ke Makassar, Sulawesi Selatan.

Dulu, tidak hampir setiap hari aku pergi ke desa Puccadi. Puccadi yang berjarak sekitar kurang lebih 10-an KM dari desa Lapeo, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, tempat aku dan ibuku bermukim.

Ketika aku kembali melihat sekolahku, aku melihat diriku yang kecil, aku yang cantik, mungil, dan pendiam. Walau begitu, aku bukan anak kecil yang suka menangis. Karena ibuku sering sekali "menitip diriku" pada orang lain.

Ketika dari pasar Mappili, di mana kami biasa berhenti naik mobil angkot, pete-pete, ibuku akan mencari bendi atau mobil yang akan masuk ke dalam desa Puccadi. 

Namun, kendaraan saat itu jarang, kecuali hari pasar. Itu pun harus saling menunggu muatan penuh. Kalaupun penuh, ibuku akan menitip diriku pada kusir bendi atau penumpang agar menurunkan aku di SD yang kutempati belajar.

Bukan hanya bendi, motor juga begitu. Ketika ada pengendara motor yang melewati sekolahku, ibuku kadang juga menitip diriku. Ibuku kadang ikut, kadang tidak, sesuai dengan situasi dan kondisi si pemilik motor, apakah ia sedang membonceng atau tidak (ada atau tidak ada gandengan).

Kini, walau jalanan masuk ke Puccadi sudah banyak dibangun dan beberapa diperbaiki, namun masih rusak lagi. Jalanan itu penuh dengan kendaraan, baik beroda dua, tiga, dan empat. Tidak seperti dulu yang ramai ya, hanya ketika hari pasar itu. 

Melihat Kuda, Naik ke Rumah Panggung di dalam Kebun

Sub judul di atas bukan arti mimpi ya, yang membuatku takjub ketika sudah berbelok kiri masuk ke kecamatan Luyo. Kami berpapasan dengan dua bapak yang masing-masing mengendarai kudanya. 

Sesuatu yang agak langka dilakukan di era modern ini. Atau mungkin bagi aku yang telah lama di kota Makassar, atau Jogja. Masyarakat di sini masih mempertahankan kearifan lokalnya. 

Ah, sayang sekali, aku lupa mengambil gambarnya karena hape sedang dalam tas. Lagi pula tadi aku terlalu fokus pada sekolahku yang dulu. Aku juga terlalu asyik menikmati pemandangan selama di perjalanan.

Aku melihat rumah panggung, rumah tradisional khas Mandar, jembatan dan sungai, perkebunan penduduk, sampai anjing-anjing penjaga rumah dan kebun yang berkeliaran bebas di jalan raya.

Kemudian di sana, aku menemui banyak parrawana towaine suatu komunitas seni tradisional perempuan yang bisa saja hilang dengan generasi tiktok kini. Untungnya, mereka telah melakukan kaderisasi pada beberapa perempuan. 

Ketua mereka tinggal di suatu rumah khas Mandar di dalam lokasi kebun. Rumah yang sederhana namun bersahaja, dengan konsep minimalis yang kusukai, kami duduk melantai. Tanpa meja dan kursi di ruang tamu yang membuat ruangan terlihat penuh.

Namun sesak oleh orang-orang yang mungkin ingin mendengarkan cerita dari kisah tokoh agama, wali di Mandar, Sulawesi Barat yang ingin kubedah.

Dan membuat indra pendengar telinga mereka menikmati alunan rebana juga lagu dari parrawana towaine. Sesuatu yang amat jarang sekali aku dengarkan lagi, bertahun-tahun lamanya sejak aku kecil. 

Di sana, kami juga dijamu dengan makan besar. Selain mendapatkan makanan siap saji, mie kuah. Kami juga mendapatkan makanan lokal seperti ketupat, buras, to'ja. To'ja merupakan makanan berbahan ubi kayu yang dimasak kemudian di sentuhan akhir diberi parutan kelapa. Hmmm... enak dan lembut sekali.

Kemudian, ketika menginap di rumah Cac'culu, salah seorang penggiat Lantera, tepat di kamarnya yang kutempati tidur, Aku melihat sesuatu yang unik, yaitu tempat alat salat yang terbuat dari kayu. Jika di kota-kota besar, bentuknya seperti tempat menaruh koran yang dipajang di kantor- kantor. 

Gula Merah bahan Cendol

Pagi-pagi sekitar jam tujuh, Fajrin keponakanku mengajak kami beramai-ramai sarapan pagi. Sarapan pagi di Panggadeang, tempat nongkrong seperti kedai kopi. 

Namun, Panggadeang agak berbeda, karena menunya makanan khas Mandar, seperti gogos (ketan bakar), tumbu' (semacam buras). Lalu, ada sambal gorengnya dan minuman khas Indonesia, yaitu kopi dan teh yang merupakan bonus gratis dari penjualnya.

Aku pernah mengalami hal seperti ini bertahun-tahun yang lalu, makan di suatu Panggadeang sewaktu duduk di bangku SD dulu, Puccadi. Menunya sama namun dulu ada minuman yang segar dan manis. Semacam dawet ayu khas Banjarnegara, namun kami menyebutnya cendol.

Dahulu, jika di Panggadeang, aku suka sekali memesan cendol. Tepungnya yang lembut, gula merahnya yang manis, dan santannya yang gurih rasanya enak sekali. Walau tidak memakai es, rasanya tetap adem karena ditaruh pada wadah tanah liat yang dingin.

Mandi di Sungai dan Mendapat Oleh-oleh Gula Merah

Setelah makan di Panggadeang, kami kembali beramai-ramai menuju sungai. Sungai itu bernama Suppuang Bau yang terletak di desa Jati, Limboro, Tinambung. Di sana kami bercanda, bermain air, berenang, dan berfoto-foto.

Aku yang membawa kue dan kerupuk, oleh Fajrin, disarankan untuk membuang satu kerupuk tadi untuk alam dan penghuninya di sungai.

Tiba-tiba, ada empat orang anak SD menghampiri kami. Mereka awalnya malu-malu, namun ketika disuruh berenang, mereka dengan lincah salto dengan berbagai gaya di depan air terjun yang dalam.

Sesuatu yang sudah lama tidak kulakukan. Padahal, dulu waktu kecil, aku dan keluargaku sering sekali pergi mandi dan mencuci pakaian di sungai ketika musim kemarau.

Pulangnya, di rumah Cacculu, kami banyak berdiskusi dengan teman-teman tentang Imam Lapeo, juga tentang tokoh-tokoh leluhur di Sambaliwali yang memiliki banyak kisah dan manuskrip lontar kekayaan khas Mandar.

Di sini, ada banyak kawan-kawan yang keren yang datang di Sambaliwali. Seperti; Muja, seorang bapak guru muda yang membuat gebrakan di sekolahnya. Mega, mahasiswi S2 yang concern di bidang perempuan. Barak, mahasiswa Majene yang berprestasi sekaligus aktif di organisasi. Dan lain sebagainya yang belum bisa kusebutkan satu per satu.

Juga teman-teman dari Sambaliwali itu sendiri. Mereka masih muda, namun punya pemikiran yang progresif. Mereka suka membaca untuk memperkuat literasi, sekaligus "sadar lingkungan" dengan membuat berbagai gebrakan. 

Misalnya, membuat produk kecantikan penggosok badan yang alami. Sekaligus menggaungkan untuk kembali ke pangan lokal dengan mengolah makanan tradisional dari sumber alam yang organik.

Kearifan Lokal

Aku membuka kenangan masa laluku di  Sambaliwali. Aku yang telah lama kehilangan sentuhan lokal, kearifan lokal. Kuakui, aku tak bisa memungkiri realitas hidup hari ini yang sangat modern dan telah banyak bergeser sekaligus terlampaui generasi saat ini.

Namun, Sambaliwali membawaku pada kenangan masa laluku, dan bagaimana menjadi "manusia" yang beridentitas Mandar. 

Parasalama.