Beberapa tahun terakhir, perhatian publik tersita oleh kehadiran Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Bukan saja sebab rangkaian kekerasan, atau penghancuran situs-situs bersejarah Islam, satu hal lagi yang tak boleh ditinggalkan adalah politisasi atas hadis yang mereka lakukan.

Najih Arromadloni, Sekjen Ikatan Alumni Syam Indonesia, mengambil langkah yang tepat, dengan membidik rujukan teologis ISIS. Pemahaman atas hadis yang menjadi justifikasi dalam aksi-aksi ISIS, dikaji secara mendalam. Penelusuran Najih, dimulai dari hadis tentang khilafah, hadis tentang jihad, hijrah, iman, hingga hadis tentang al-malahim.

Sebagai catatan, hadis-hadis tersebut dijadikan propaganda guna merealisasikan apa yang dicita-citakan ISIS. Sebagai seorang akademisi di bidang ilmu tafsir dan hadis, Najih berhasil mengajak pembaca untuk menyelami khazanah keilmuan dalam bidang hadis, sebelum dihadapkan pada pemahaman hadis ala ISIS.

Paparan lengkap tentang posisi hadis dalam Islam dan perkembangan hadis dari masa ke masa (termasuk kritik matan), menjadikan pembaca mempunyai “kacamata” untuk turut melihat fakta tatkala hadis berada di tangan ISIS. Dalam sejarah Islam, para sahabat mempunyai kebiasaan untuk meminta klarifikasi kepada nabi atas suatu permasalahan. Inilah yang dikemudian hari dikenal sebagai kritik matan (hal. 41).

Pasca mengkat-nya Nabi Muhammad, sahabat melakukan upaya pemahaman atas hadis, melalui konfirmasi dengan al-Qur’an, dengan hadis yang lebih sahih, dan terahir menggunakan rasio (hal. 47). Belum lagi ijtihad para ulama seperti aturan periwayatan, kualifikasi perawi, yang kelak dikenal sebagai disiplin ilmu Musthalah Hadis. Ada langkah hati-hati untuk memperoleh pemahaman atas hadis.

Rangkaian penjelasan Najih tentang hadis, paradoks dengan pemahaman hadis ala ISIS. ISIS memahami hadis secara serampangan, dan asal “mengambil” hadis untuk melegitimasi kepentingan. Hadis tentang jihad, misalnya. ISIS menarasikan kewajiban jihad melalui hadis riwayat Muslim, “seseorang yang mati tanpa pernah berjihad dan tidak pernah berniat untuk berjihad sama sekali, maka dia mati dalam cabang kemunafikan”.

Masalahnya adalah, jihad ala ISIS berkutat pada bunuh-membunuh. Selain itu, kategorisasi Islam dalam pandangan ISIS adalah yang menerima ajaran dan bergabung dengan kelompoknya saja. Hal ini memberikan implikasi, bahwa yang bukan kelompoknya dapat menjadi objek dari jihad.

Telaah Najih atas pemahaman jihad ala ISIS ini, membawa pembaca kepada sabda Nabi Muhammad yang melarang membunuh seseorang, meski mengucap syahadat dalam keadaan terpaksa (hal. 144). Tak hanya itu, keseriusan Najih mengkaji pemahaman ISIS atas jihad ini, terlihat dari paparan lengkap tentang fakta tuntunan jihad.

Seperti etika, umpamanya. Tuntunan yang sama sekali tidak dijumpai dalam pemahaman ISIS atas jihad. Keseriusan ini juga didapati pada telaah atas pemahaman hadis yang lain. Dalam karyanya ini, Najih tak luput untuk memaparkan siapa sebenarnya ISIS.

Melalui bagian dengan judul Sejarah dan Landasan Ideologi ISIS, pembaca akan menemui bagaimana sejarah kelahiran ISIS, tokoh-tokoh yang berada di balik ISIS, begitu pula ideologi apa yang dianutnya. Buku “Bid’ah Ideologi ISIS; Catatan Penistaan ISIS Terhadap Hadis” berhasil memaparkan adanya cacat ideologis dalam ISIS. Politisasi atas hadis yang dilakukan merupakan suatu hal yang nista.

ISIS bukan saja melakukan kesembronoan dalam beragama, namun juga menciderai nilai-nilai kemanusiaan dan kasih sayang. Meminjam ungkapan latin, lex agenda lex aselli, bahwa setiap zaman memiliki juru bicaranya sendiri-sendiri, menyiratkan pesan akan kenyataan kontestasi ide, paradigma dan argumentasi. Kesemuanya saling bersaing agar ‘ditahbiskan’ menjadi pemenang dari pertarungan zaman.

Buku ini adalah upaya untuk turut berkontestasi, meng-counter kesembronoan pemahaman hadis yang dilakukan oleh ISIS. Fakta penistaan hadis oleh ISIS, menjadi satu dari sekian contoh kepentingan yang dipoles dengan teks agama. Narasi agama acapkali menjebak dan mengaburkan kepentingan yang sesungguhnya. Wal hasil, buku ini patut dimiliki siapa saja. Bukan hanya seorang yang concern pada kajian keagamaan, tetapi juga kajian-kajian lainnya.

Buku: Bid'ah Ideologi ISIS, Catatan Penistaan ISIS Terhadap Hadis | Penulis: M. Najih Arromadloni | Penerbit: Daulat Press | Cetakan: Pertama, Maret 2017 | Halaman: 202 | ISBN: 9786021813157