Bagi para penggiat sejarah Indonesia era kontemporer, ataupun para penggiat dunia militer dan penerbangan di Indonesia, tentu banyak yang sudah tahu akan tulisan-tulisan sejarah di berbagai buku dan situs internet yang mengangkat topik tentang kedigdayaan militer Indonesia pada era Demokrasi Terpimpinnya Presiden Soekarno.

Bagaimana pesawat-pesawat dan kapal perang yang didatangkan dari Uni Soviet berhasil membuat Belanda bertekuk lutut di Irian Barat. Juga bagaimana Angkatan Udara Indonesia pernah menjadi yang terkuat di belahan bumi selatan.

Bicara tentang kedigdayaan Indonesia pada tahun 1960an, tak dapat lepas dari konflik dan mesin perang. Ada Tiga mesin perang "Primadona" yang hampir selalu muncul dalam setiap pembahasan di seputar kehebatan dan kedigdayaan militer Indonesia dalam menghadapi Belanda dan Inggris dalam operasi Trikora dan Dwikora.

Yang pertama, adalah pesawat pembom jarak jauh Tupolev Tu-16 "Badger". Yang kedua, adalah pesawat tempur sergap Mikoyan-Gurevich MiG-21 "Fishbed". Dan yang ketiga, adalah kapal perang penjelajah ringan (Light Cruiser) RI Irian.

Seolah menjadi sebuah pakem untuk selalu menyertakan salah satu di antara ketiga primadona di atas dalam mengangkat topik mengenai sejarah konflik Trikora, konflik Dwikora, atau sekedar menulis onani sejarah dengan mengelu-elukan kedigdayaan masa lampau.

Jika diperhatikan lebih seksama, pesawat tempur MiG-21 "Fishbed" termasuk paling sering muncul dalam artikel-artikel yang lebih bisa dikatakan sebagai "onani" sejarah. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa MiG-21, di samping pesawat pembom Tu-16 adalah kartu truf Indonesia dalam jalannya konflik dalam operasi Trikora maupun Dwikora.

Seringkali dijumpai tulisan-tulisan yang membahas MiG-21 seolah adalah "super-plane" pada masanya, hingga pesawat buatan Amerika Serikat tidak mampu menandingi. Kemampuan MiG-21 untuk terbang hingga dua kali kecepatan suara, juga menjadi hal yang dihebat-hebatkan.

Para penulis artikel semacam ini selalu melupakan fakta, melihat pada konteks perang dingin, pihak Barat tidak mampu mengukur kemampuan pesawat buatan Uni Soviet kecuali jika berhasil mendapatkan barang aslinya.

MiG-21 bukan pengecualian, karena pada tahun 1960an pihak Barat belum bisa mengukur kemampuan MiG-21 yang sebenarnya. Hingga pada tahun 1966 ketika Munir Redfa, seorang pilot Irak membelot ke Israel membawa pesawat tempurnya yaitu MiG-21, barulah pihak Barat dapat melihat dan mengukur langsung pesawat yang menjadi "momok" di Irian Barat ini.

Satu hal lagi, para penulis lupa bahwa di era MiG-21 baru hadir, Amerika Serikat juga memiliki pesawat tempur yang sepadan, yaitu Lockheed F-104 Starfighter. Sehingga segala klaim yang menyatakan bahwa pada tahun 1960an Amerika Serikat tidak memiliki pesawat yang mampu menandingi MiG-21 tidaklah benar.

Berkenalan dengan MiG-21

Mikoyan-Gurevich MiG-21 Fishbed adalah pesawat tempur penyergap supersonik yang didesain dan diproduksi di Uni Soviet mulai pada tahun 1956. MiG-21 didesain sejak awal sebagai pesawat penyergap yang mengandalkan kecepatan tinggi untuk menembak jatuh pesawat lawan dengan kanon dan rudal.

Tidak seperti pendahulunya seperti MiG-17 dan MiG-19 yang masih mengandalkan manuver diatas kecepatan dalam bertempur, MiG-21 adalah kebalikannya, mengandalkan kecepatan diatas manuver.

Sekitar 10.000 unit pesawat ini telah diproduksi di berbagai negara dalam ratusan varian dan sub-varian sejak 1959 dan masih memperkuat angkatan udara berbagai negara di dunia terutama di Benua Afrika.

Kiprah MiG-21 di Indonesia tak dapat lepas dari operasi Trikora yang didengungkan oleh Presiden Soekarno dengan tujuan merebut Irian Barat dari Belanda. Pada tahun 1962, 20 unit MiG-21 varian F subvarian F-13 (MiG-21F-13) dan MiG-21 varian U (MiG-21U) dibeli dari Uni Soviet untuk persiapan menghadapi konflik terbuka di Irian Barat.

Setelah Trikora berhasil diselesaikan tanpa konflik terbuka, MiG-21 kembali berperan di konflik Dwikora. Berpangkalan di Medan dan Palembang, MiG-21 terbang dalam misi mendampingi pesawat pembom Tupolev Tu-16 Badger TNI-AU selagi menghalau pesawat Inggris yang mencoba untuk menyergap/intercept

Kemampuan Terbang Supersonik Bukanlah Segalanya

Seringkali orang-orang sekedar mengetahui lewat tulisan yang glorifikasi militer Indonesia di era 60an, bahwa MiG-21 yang dimiliki TNI-AU pada saat itu menjadi momok yang disegani bagi Belanda karena memiliki kemampuan terbang supersonik, hingga dua kali kecepatan suara.

Hal ini tidak sepenuhnya benar, juga tidak sepenuhnya salah. Pihak Belanda ketika Operasi Trikora menurunkan jet tempur Hawker Hunter buatan Inggris, yang memang tidak mampu terbang menembus kecepatan suara. MiG-21 TNI-AU jelas unggul dalam segi kecepatan terbang, akan tetapi hanya sampai di situ saja.

Penyebab MiG-21 hanya unggul dari segi kecepatan dibanding Hawker Hunter adalah, MiG-21 tidak didesain untuk duel udara jarak dekat dengan pesawat tempur lawan.

Pesawat ini sejak awal didesain sebagai penyergap atau Interceptor, yang notabene menurut doktrin pertahanan udara Uni Soviet,  menyerang pesawat musuh bukan dengan menghadapi dalam duel udara jarak dekat, akan tetapi menyergap dalam kecepatan tinggi sambil meluncurkan rudal ke arah pesawat lawan dan langsung kabur kembali ke pangkalan.

Hal krusial yang seringkali terlupakan adalah, untuk mencapai kecepatan dua kali kecepatan suara, MiG-21 harus terbang dalam kondisi clean atau tidak membawa muatan sama sekali ditambah dengan afterburner mesin dinyalakan. Durasi terbang yang diperoleh dari kondisi terbang seperti yang disebutkan adalah sekitar 20 menit.

Sebagai perbandingan, durasi terbang MiG-21 tanpa menyalakan afterburner dan menggunakan prosedur dan rute terbang lurus tanpa berbelok untuk menghemat bahan bakar, adalah sekitar 1 jam 40 menit. Durasi terbang MiG-21 tanpa menyalakan afterburner dan tanpa membawa bahan bakar tambahan adalah sekitar 50 menit. 

Berhadapan dengan Hawker Hunter

Sementara itu, ketika Trikora maupun Dwikora, Belanda dan Inggris menurunkan jet tempur Hawker Hunter yang memiliki kemampuan terbang Transonik atau nyaris mencapai kecepatan suara.

Walaupun tidak mampu terbang Supersonik seperti MiG-21, Hawker Hunter sanggup terbang jauh lebih lama dan jauh dibanding MiG-21 selagi membawa muatan persenjataan dan bahan bakar jauh lebih banyak dibandingkan MiG-21.

Artinya, dalam skenario terburuk apabila konflik terbuka pecah antara Indonesia dan Belanda, Hawker Hunter sanggup terbang patroli bersenjata penuh di wilayah udara Irian Barat jauh lebih lama dibandingkan MiG-21 TNI-AU.

Semisal ada pilot yang sampai terpancing untuk melakukan pertempuran jarak dekat dengan Hawker Hunter, maka dia akan menjadi makanan empuk Hawker Hunter yang didesain untuk bermanuver lincah di kecepatan subsonik sementara MiG-21 tidak.

Skenario perang udara yang paling memungkinkan apabila konflik terbuka pecah di Trikora adalah, para pilot MiG-21 TNI-AU bertempur mengikuti doktrin pertahanan udara Uni Soviet, yaitu terbang dengan kecepatan tinggi, meluncurkan rudal ke pesawat lawan, dan kabur kembali ke pangkalan.

Mengingat luasnya wilayah Irian Barat pada saat itu dan letak antara pangkalan TNI-AU di Biak dan pangkalan Belanda di Hollandia (Jayapura), para pilot TNI-AU tidak bisa bertempur berlama-lama apalagi terlibat dalam pertempuran udara jarak dekat dengan jet Belanda yang akan menguras habis bahan bakar yang memang tidak banyak.

Justru pesawat-pesawat subsonik dan transonik seperti MiG-17 Fresco dan MiG-19 Farmer yang lebih berguna untuk misi-misi patroli jarak menengah hingga jauh dibanding MiG-21 yang memang sejak awal didapuk menjadi pesawat penyergap (interceptor) jarak dekat.

Menepis anggapan lama

Sebagian besar orang-orang yang masih awam akan sejarah sudah tentu saja tahu dan percaya akan cerita keperkasaan MiG-21 ketika masih terbang memperkuat TNI-AU. 

Memang tidak sepenuhnya salah apabila melihat konteks bahwa pada tahun 1960an pihak Barat masih tidak mampu mengukur secara seksama kemampuan MiG-21, namun Barat lebih mengambil posisi waspada, tidak sampai takut menciut seperti yang sering digembor-gemborkan di banyak tulisan.

Anggapan bahwa tidak ada pesawat buatan Barat yang dapat menandingi MiG-21 di tahun 1960an juga tidaklah sepenuhnya benar, karena Amerika Serikat memiliki Lockheed F-104 Starfighter, dan Inggris memiliki English Electric Lightning. 

Singkatnya, pihak Barat tidak sampai ketakutan terkencing-kencing, melainkan mengambil sikap waspada selagi mencoba meraba-raba kemampuan MiG-21 yang sebenarnya. 

Pada akhirnya, dengan segala keterbatasan baik dari teknis, situasi, dsb. Para Pilot MiG TNI-AU, tak terkecuali MiG-21 TNI-AU sudah berusaha semampu mereka dalam melaksanakan panggilan tugas dalam melindungi Republik Indonesia.

Pesawat-pesawat MiG yang walaupun tidak sehebat dan secanggih yang selama ini digembar-gemborkan, tetap mampu berkontribusi besar dalam menjaga kedaulatan Republik dalam konflik-konflik internasional seperti Trikora dan Dwikora. Pesawat MiG adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah Indonesia, terutama sejarah TNI Angkatan Udara.