Proses pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah serentak di seluruh Indonesia  gelombang II telah usai. Saat ini 101 daerah yang menyelenggarakan pemilihan Kepala Daerah dan Wakil kepala daerah sedang jeda menanti hasil real count versi KPU. Walau hasil survei yang dilakukan sejumlah lembaga survei terkemuka di tanah air telah menentukan perolehan suara masing-masing pasangan calon, namun semuanya harus menunggu Keputusan KPU.

Situasi di 100 daerah yang melakukan pemilu serentak agak berbeda dengan DKI Jakarta. Saat ini tensi politik DKI Jakarta kembali tinggi, sinema koalisi partai politik kembali digulirkan songsong pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah putaran kedua.

Seiring dengan gonjang-ganjing pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah DKI Jakarta putaran kedua,  sejumlah mantan relawan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)-Sylviana Murni yang tergabung dalam Komite Masyarakat Nasional Indonesia (KMNI) telah mendeklarasikan dukungan kepada pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno pada Kamis, 16/2-2017.

Secara matematik, jumlah pendukung Anies-Sandi bertambah dan nasib keberuntungan sepertinya sedang berpihak kepada kubu Anies-Sandi, karena para loyalis Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)-Sylvi Murni telah menyatakan sikap bergabung tanpa syarat. Apakah ini pratanda pasangan Anies-Sandi akan menang pada pemilu putaran kedua nanti? Hemat saya, hanya rakyat DKI Jakartalah yang bisa menentukan siapa yang akan menjadi jawara dalam pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta pada putaran kedua.

Semua tak-tik dan strategi telah dikeluarkan untuk menggaet sejumlah partai pengusung tambahan demi mendongkrak perolehan suara pada putaran kedua nanti. Secara diam-diam Partai pengusung Anies-Sandi telah bertandang ke pimpinan partai pendukung AHY-Sylvi yakni DPW PPP, PKB dan PAN DKI Jakarta. Hal yang sama juga dilakukan oleh pengurus DPP Partai Gerindra dan PKS, sekalipun belum ada kata sepakat untuk menentukan arah koalisi.

Sepertinya tak mau ketinggalan, partai koalisi pendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot juga merapat ke  PPP, PKB, dan PAN dengan tujuan yang sama yaitu membangun koalisi. Apakah sosok Ahok-Djarot mendapat simpati dari PPP, PKB dan PAN?

Membaca peta politik yang sedang bergulir saat ini pasangan Ahok-Djarot dan Anies Sandy berlomba-lomba mendekati PPP, PKB dan PAN, karena menurut prediksi sejumlah pihak bahwa massa pendukung tiga partai tersebut sangat menentukan siapa jawara dalam pilkada DKI Jakarta pada putaran kedua nanti.

Pertanyaanya, “kemanakah arah koalisi yang akan dibidik oleh PPP, PKB dan PAN? Apakah pasangan Ahok-Djarot atau Anies-Sandi?” Kedua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta sedang menunggu keputusan final dari PPP, PKB dan PAN. Bagaimana dengan Demokrat dan PKS? Apakah sudah memastikan diri merapat ke Anies-Sandi, atau Demokrat dan PKS akan berada di luar ring pada pilkada putaran kedua nanti? Semuanya belum jelas.

Partai politik pendukung Agus-Sylvi laksana gadis pingitan yang sedang menunggu lelaki yang hendak melamar. Merapatnya Ahok-Djarot dan Anies-Sandi ke DPW PPP, PKB dan PAN turut mendongkrak posisi tawar ketiga partai sebagai penentu kemenangan dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah DKI Jakarta pada putaran kedua.

Di tengan kebanjiran pinangan untuk berkoalisi, partai-partai pendukung AHY-Sylvi yang kandas pada putaran pertama dalam bursa pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah bingung menentuhan arah koalisi. Apakah merapat ke Ahok-Djarot atau Anies-Sandi, hanya mekanisme partailah yang bisa menentukan semuanya itu.

Di saat partai politik sedang membidik arah koalisi, muncul isu primordialisme, dimana suku, ras dan agama menjadi satu bahan pergunjingan sekaligus pertimbangan dalam menentukan arah koalisi. Jika isu ini benar adanya, maka demokrasi kita sedang berada di titik dekadensi.

Partai-partai politik yang membawa embel-embel suku, ras dan agama dalam menentukan arah koalisi sungguh mencederai kehidupan berdemokrasi di Indonesia. Inilah ironi politik kita di Indonesia, kita lebih suka membangun koalisi berlandaskan pada semangat primordialisme ketimbang semangat nasionalisme yang dapat membawa keuntungan bagi rakyat.

Koalisi yang membawa keuntungan bagi rakyat hendaknya tidak mempertimbangkan faktor-faktor primordial. Menjadi tidak rational dan sangat emosional ketika para partai politik menentukan arah koalisi berdasarkan pertimbangan suku, ras dan agama. Koalisi macam ini sesungguhnya tidak mencerdaskan rakyat tetapi pembodohan.

Mengingat begitu kuatnya koalisi elite-elite partai yang mengarah ke semangat primordialisme, diharapkan rakyat selaku pemegang kedaulatan tertinggi dalam demokrasi, hendaknya bersikap kritis dan lebih dewasa dalam menentukan pilihan. Vox Populi Vox Dei adalah spirit bagi rakyat dalam menentukan pemimpin yang baik, bijak, bersih, berkualitas dan berani.

Dengan demikian membangun koalisi dengan rakyat atau konstituen jauh lebih efektif dari pada membangun koalisi dengan partai-partai politik yang penuh dengan intrik-intrik politik. Membangun koalisi dengan partai-partai politik bukan tidak penting, tetapi menjadi tidak penting ketika partai-partai politik dalam membangun koalisi mengusung semangat primordialisme.

Selamat menentukan arah koalisi secara bijak dan bertanggung jawab, demi DKI Jakarta yang lebih baik.