Sejujurnya, Judul ini kami adopsi dari "pengalaman" teman-teman kami yang hobi menyakiti Mantan dengan cara mencintainya, memang hal ini butuh pemikiran lebih, bahkan pendalaman yang holistis sebab hanya orang-orang tertentu saja yang mampu melakukannya.

 Tentu Wajar, jika Kita Membenci Myanmar, sebab Mereka Terlalu Otoriter dalam menangani Kasus itu, kan kasihan. Bro..! Entnis Rohingya tidak bisa hidup layaknya Masyarakat umumnya, hak-hak mereka sebagai warga negara dibatasi, bahkan ketika memilih pilihan freedom alias berusaha memerdekakan diri, mereka di babat habis, di jajah di Negeri sendiri itulah Gambaran mereka. ndak kayak kita ini, ise bisa mulet, ngudut, rabi, nyebar hoax, ngeritik pemerintah hingga menghina  penguasa. Gitu kok ngaku dijajah di negeri sendiri.

   Kembali ke topik awal. Mungkin sebagaian dari kita akan berpikir, bagaimana mungkin kita membenci dengan cara mencintai, bukan kah hal itu adalah kemungkinan yang tidak mungkin, sama halnya dengan ratusan bahkan ribuan Jomblo Indonesia yang berharap menggantikan Hamish Daud selaku Suami Sah Pujaan kita, tentu itu hal yang tidak mungkin mblo.

      bisakah kita positif sedikit, sebab sudah terlalu lama kita berpikiran negatif. bukan berpikir positif tentang Hamish atau berpikir negatif tentang malam pertama Raisa, tapi berpikir postif tentang metode membenci dengan mencintai.

 Begini, Mencintai sebagai metode untuk membenci sebenarnya sudah jauh-jauh hari dipatenkan oleh para Playboy generasi Milenia (90-an), mereka mencintai kembali mantannya dengan dalih untuk balas dendam dengan memberikan sakit hati yang lebih, bahkan menurut salah satu sumber yang saya percayai, mereka melangsungkan motif percintaan modus ini ketika akan di berlangsungkan ujian sekolah, yang akhirnya nanti ketika H-1 ujian sekolah, Para pelaku ini akan memutuskan Kontrak cinta mereka secara sepihak. Sadeeess !!! (kata iklan Mie instan).

    Mengenai  Perkara Myanmar, tentu hal ini merupakan masalah yang pelik, sebab Masalah ini terjadi di Ranah tanah Tetangga yang secara sah berdaulat. dan sebagai tetangga kita tidak bisa semena-mena Mengintervensi masalah Rumah Tetangga Orang lain, sebab Bahaya Tau..!

 Inget, Ya mblo, begitu banyak Keluarga yang porak-poranda disebabkan oleh Keluarga lain, alias campur tangan orang ke 3, makanya wahai jama'ah Jomblo yang dimuliakan oleh dirinya sendiri, jauhilah mengusik Hubungan Orang lain, jadilah Jomblo yang Bijak dan terhormat dengan tidak mengharap Cinta dari Kekasih Temannya.

 Ada beberapa hal yang harus kita pahami mengenai problem Myanmar ini, selain ini urusan rumah tangga orang, ini juga bukan urusan perang agama, meskipun ada beberapa Oknum si kepala bundar menyatakan tendensinya terhadap Agama tertentu, hal ini bisa kita pahami sebagai "Metode memanaskan suasana".

 Layaknya permainan bola antar Dua kubu kesebelasan. untuk memompa Semangat pemainnya, si pelatih berteriak kepada Strikernya "ker," (panggilan untuk Striker) Itu lo Penjaga gawang lawan, seng ngerusak hubungan Percintaanmu". Dengan begitu ia akan lebih semangat, meskipun ia juga lupa kalau dia sendiri adalah Jomblo berkarat.

    selain itu, Persoalan Myanmar khususnya Etnis Rohingya adalah persoalan Turun temurun, Korban dari Jajah Menjajah era Kerajaan yang pernah menduduki wilayah itu, dan ketika masa Modern (yang kata orang Medan "jaman Modren") mereka tersisihkan, bahkan dianggap sebagai Orang Asing di Negeri sendiri, katanya sih dianggap Bangsa Bengal.

"Mereka itu Bangsa bengal, Banglades" kata Orang Myanmar.

tapi Kata banglades "Ora kui duduk Wong kene, soale uripe nok Kono, piye toh".

    Hingga akhirnya, Karena tidak dianggap layaknya Jomblo Adek-Kakak Zone,  yang kata si jomblo dia pacaran dengan adek kelasnya, padahal kata adek kelasnya ia di anggap sebagai ayah sendiri, tentu ia akan berontak.

 Sebagian dari mereka ingin "memerdekakan" Kelompok mereka sendiri, sebut saja mereka Pemberontak Arakan (Arsa) yang memberontak di Naypyidaw, "wong ora di akui sana sini, hak sebagai Warga juga tidak didapat, tentu pilihan terbaik adalah bebas, membuat negara sendiri" begitu mungkin pikir mereka.

    dan Karena Daerah Rokhine adalah daerahnya Myanmar berdasarkan Sertifikat tanah lurah setempat, akhirnya Myanmar Menolak Tahluk. "Lo lo, cah iki kok arep ucul, ngelamak !,  begitu kira-kira kata Myanmar dengan nada tinggi. Dan jadilah Negara Api menyerang ke ladang Gandum (katanya sih ladang minyak juga).

 Hingga sekarang Terjadilah Insiden yang tidak bisa ditoleril sebagai manusia, meskipun banyak gambar-gambar hoax yang begitu sadis menggambarkan, tapi saya yakin kejadian ini juga begitu sadis, dan parahnya lagi kejadian ini jadi konsumsi publik mengalahkan insiden Jatuhnya Raisa ke Pelukan Hamish Daud, ah sudah lah.

 Dan sebagai tetangga, tentu Dilema yang menghampiri, selain mereka saudara dalam se agama, mereka juga Saudara dalam Manusia, Kita mengharapkan agar Mereka Janganlah dibumi Hanguskan, Jangan disiksa, Jangan dibakar rumahnya, sebab mereka masih saudara.

 Kita tidak bisa intervensi dengan mengirim orang untuk ikut bermusuhan dengan mereka, sebab jika kita kirim orang, misalnya Kelompok itu loh, yang ngotot mau berangkat itu, ah, Sudah lah.

      Tentu kita dianggap ikut andil Mendukung gerakan Bughot bagi Myanmar (gerakan yang ingin keluar dari Negara yang sah Myanmar) dan itu mengganggu kedaulatan Negara tetangga.

 dan jika kita biarkan saja, kita anggap Urusan negara lain, tentu tidak etis, sebab dunia seakan tutup mulut, ASEAN tidak bergeming. bagimana Mungkin kita biarkan, wong kita saudara se agama dan Manusia, dan harapan mereka ya hanya kita. dilemah toh.

       Ya sudah, Kita hanya bisa berharap ke Pemerintah untuk paling enggak "Ngandani" pemerintah Myanmar untuk ojok gawe koyok kae, gag ilok. Kui ngono ise dulur, mosok tego toh".

     Lah, ya ketika ngandani itu juga, kita ya paling enggak gowo gawan, amplop, jajan lan berkat. Ya dengan harapan mereka bisa luluh dan sungkan. Inilah metode membenci dengan cara mencintai. Hingga akhirnya nanti ya sedikit demi sedikit diseneni "Mar, Koe iki kok gadur tenan, Mosok cah dewe koe tandangi, ndak isin karo tonggo dewe a", sedikit ditekan, lagian Mereka sudah Sungkan. Begitu kira-kira.

   Bukan malah dengan ikut mungsui orang-orang yang kebetulan beragama sama dengan Agama Mayoritas di Myanmar. Dan membencinya di Negara Sendiri lagi.

    Perkenaan hal itu, saya memiliki logika begini, anggap saja, Tetangga lagi ribut dengan anaknya, ia tidak mengakui jika Bapaknya adalah Bapaknya, sebab bapaknya Jahat, suka mecut dan Keriting rambutnya. ia berontak dan ingin membuat keluarga sendiri, meskipun  ia sadari jika itu sulit sebab ia jomblo.

       eh kita malah Memusuhi anak kita sendiri karena Anak kita kebetulan Rambutnya Kriting, katanya dasar Kriting merusak Keluarga, Umat, Memecah belah Negara, Kriting itu artinya aku wahyudi, Kriting iku Rambut yang tidak Garis lurus, dengan dalih berbelasungkawa terhadap anak tetangga, kan jadi aneh.

  Padahal masalahnya ndak sesimpel itu, jadi mari kita ganti pola pikir kita dengan mikir pola, dimana kita tau pola yang ada sebelum kita pikir, makanya mikir.

     Dan Mengenai Ormas yang ingin Mengepung Candi Borobudur. Saya kasih tau dulu ya, jika candi yang anda Tuju itu berada di Magelang, bukan di Jogjakarta.  Kasihanlah cah Magelang, Tempat sekeren itu identiknya malah Ngayogya, ora Magelang.

   sebenarnya saya sependapat dengan gerakan ini. dengan harapan kepada panitia Wisata Religi Borobudur, ya mohon tetep konsisten, anggap saja mereka wisatawan, kalau masuk ya harus beli karcis 35 ribu per orang dan jangan lupa dipasangkan Jarit atau sewek, biar kelihatan adem ayem dan Nusantara banget. soalnya biar adil sama wisatawan lainnya.

     selain itu, Katanya lagi ormas ini, mengadakan Open recruitments jihadis yang siap berangkat ke Myanmar, kalau ndak salah di Pasuruan. dan saya sebagai warga Pasuruan sependapat, jika ada Yang Ingin Pergi kesana ya monggo, saya tentu mendukung.

   Dan saya dengar-dengar juga, Sarat utamanya adalah siap mati dan jika siap mati tentu pastinya siap untuk tidak kembali. ini kudu dan wajib kalian ta'ati dong. Malahan Saya juga sangat setuju jika semua anggota Ormas ini berangkat, tentunya ya ndak usah kembali, tapi jujur dalam hati saya mencintai kelompok kalian, dan inilah bentuk cinta saya.

#LombaEsaiKonflik