Kalian yang berpacaran, silakan ke sebelah kiri. Yang sudah menikah, duduk di sebelah kanan. Kalian para jomblo, silakan keluar!

Belum cukup seminggu tampil di bioskop, film Dilan 1991 kembali ramai diserbu oleh para penggemarnya. Tak tanggung-tanggung, 720.000 tiket telah habis terjual di hari pertama tayang. 

Sama seperti sebelumnya, film Dilan 1991 kembali tampil dengan misi yang sinonim, yaitu memporak-porandakan psikologis para jomblo.

Keberhasilan Iqbal dalam memerankan Dilan membuat kaum wanita “senyum-senyum sendiri” di tempat duduknya. Membuat setiap kata yang diucapkan para pria menjadi lebih puitis. Film ini sangat pas untuk generasi muda, yang sangat mendambakan kisah cinta penuh gombalan dalam hidupnya.

Akan tetapi, di tengah-tengah keberhasilan Dilan menyebarkan ajaran romantismenya, ternyata tidak semua pihak menyambut baik penayangan film ini. Pemutaran film Dilan 1991 mendapatkan penolakan keras dari sekelompok mahasiswa yang mengatasnamakan diri sebagai Komando Mahasiswa Merah Putih (Kompi) Sulawesi Selatan.

Mereka menggelar aksi penolakan film Dilan di depan kantor Dinas Pendidikan Kota Makassar. Mereka mengatakan bahwa aksi tersebut merupakan prakondisi saja; jika film Dilan tetap ditayangkan, mereka mengancam untuk mengepung seluruh mall dan memboikot seluruh bioskop di Kota Makassar.

Ada dua motif kenapa Dilan ditolak di Makassar. Pertama, karena Dilan dianggap berpotensi meningkatkan kekerasan di dunia pendidikan. Kedua, film ini dianggap bertentangan dengan budaya orang Bugis yang sangat santun.

Memang, pada hari pertama tayang, aksi mahasiswa ini belum terlalu masif karena hanya sebatas menyampaikan aspirasi. Baru di hari kedua, dengan motif perjuangan yang sama, mereka mulai masuk ke mall-mall untuk memboikot bioskop-bioskop yang menayangkan film Dilan. Katanya, demo ini akan terus berlanjut sampai Dilan tidak tayang lagi.

Banyak yang berpendapat bahwa mereka itu hanya orang-orang jomblo yang tidak kuat melihat kisah romantisme Dilan dan Milea. Ada juga warganet yang mengatakan, masih banyak hal yang lebih urgen untuk diselesaikan; kalau mau demo, jangan di mall, langsung di komisi penyiaran saja.

Saya juga sempat berpikir, kenapa film ini mesti ditolak? Toh, dengan menonton film Dilan, masyarakat akan tahu bahwa dunia pendidikan kita memang sedang "tidak baik-baik saja". Orang-orang justru makin penasaran dan mungkin saja akan lebih banyak lagi yang menonton. 

Maksud saya, apa salahnya jika sebuah film diceritakan sesuai dengan fakta di lapangan? Kenapa harus ditolak, apalagi sampai ricuh?

Ingat bahwa ada hak orang lain yang tidak bisa kita batasi. Lagi pula, kita semua sudah tahu, pendidikan kita dari dulu sampai sekarang juga seperti ini. Tidak perlu ditutup-tutupi.

Kita tak perlu berlindung di balik argumen "penolakan" untuk menutupi kemunafikan kita semua. Karena, kenyataannya, kita semua sampai sekarang belum mampu mengentaskan kekerasan di dunia pendidikan. Sudah berapa tahun Hardiknas diperingati, tapi tak kunjung menawarkan solusi.

Kelirunya adalah kenapa harus ada aksi-aksi yang momentuman seperti ini? Apakah harus menunggu film Dilan ini tayang baru bisa bersuara? Apakah mereka sudah lupa bahwa selama ini kita besar dan tumbuh di lingkungan pendidikan yang seperti ini? Anehnya, kenapa baru sekarang kita marah-marah?

Tak perlu ditutup-tutupi. Tahun lalu, ratusan pelajar Kota Makassar terlibat tawuran hanya karena perebutan perempuan. Orangtua siswa yang tega memukul seorang guru karena tidak rela anaknya dihukum. Belum lagi, beberapa siswa SMP melakukan tindakan immoral dengan mengeroyok gurunya.

Data KPAI menyebutkan, sebanyak 84 persen siswa pernah mengalami kekerasan di sekolah, 45 persen siswa laki-laki menyebutkan bahwa guru atau petugas sekolah merupakan pelaku kekerasan, dan 40 persen siswa usia 13-15 tahun melaporkan pernah mengalami kekerasan fisik oleh teman sebayanya.

Sementara itu, 75 persen siswa mengaku pernah melakukan kekerasan di sekolah, 22 persen siswa perempuan menyebutkan bahwa guru atau petugas sekolah merupakan pelaku kekerasan, dan 50 persen anak melaporkan mengalami perundungan (bullying) di sekolah.

Artinya, sudah dari dulu ada yang bermasalah dengan sistem pendidikan kita. Ironis saja ketika kita merasa suci dan takut terpengaruh oleh hal-hal yang memang sudah lama terjadi.

Sungguh ironis. Dilan yang masih duduk di bangku SMA itu dikritik habisan-habisan oleh seniornya para mahasiswa. Mungkin maksudnya, anak bau kencur seperti kau, tak pantas bicara cinta-cinta, mending ko ikut gerakan indonesia tanpa pacaran saja.

Terkait persoalan budaya yang santun, kalau kawan-kawan mahasiswa adil sejak dalam pikiran, mau tidak memboikot semua film yang tidak mengandung unsur kesantunan di dalamnya? Jangan hanya film Dilan saja. Tentu semuanya. 

Saya pikir penonton sudah cerdas dalam memaknai sebuah film, memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Toh, kalau ingin mengkritik, buatlah juga film yang anti terhadap kekerasan. Jadi film dilawan oleh film. 

Kan, sudah banyak film yang mengangkat pendidikan sebagai tema utamanya? Dan tentu setiap karya seni termasuk film itu sendiri memiliki pesan yang ingin disampaikan kepada penontonnya.

Jadi, daripada kita sibuk mengkritik film Dilan, mending kita sama-sama mencari solusi bagaimana menegasikan angka kekerasan di dunia pendidikan dan mengembalikan fungsi pendidikan yang memanusiakan manusia.

Mengembalikan marwah pendidikan dengan mengkaji kembali undang-undang pendidikan kita; mengedukasi seluruh generasi agar kasus-kasus kekerasan pada dunia pendidikan tidak terulang kembali; serta menanamkan budaya santun di setiap kelompok belajar, baik SD, SMP, SMA, bahkan Perguruan Tinggi.

Saya pikir, mahasiswa bukanlah gerakan massa, tapi gerakan intelektual. Apa yang kawan-kawan lakukan memang baik, tapi tidak tepat sasaran. Cobalah sekali-sekali mengkritik sesuatu yang lebih riil. Kalaupun ingin demo, kenapa tidak dari dulu sebelum “Takiya Genji” menjadi panutan kita semua?

Dilan itu hanya tokoh fiktif yang ingin menjelaskan kepada kita bahwa seperti itulah dunia pendidikan kita. Toh, yang ditangkap oleh penonton adalah romantismenya. Jadi, stop mengkambing-hitamkan Dilan. Kasihan Milea. Berat. Biar kami saja.