Saya sempat menyimak pemaparan seorang peneliti muda tentang dinamika ketimpangan ekonomi di Indonesia. Ia berkesimpulan bahwa sepanjang sejarah manusia, perang dan pandemi menjadi faktor utama mengecilnya kesenjangan ekonomi secara progresif.

Tentu saja penyempitan seperti ini diiringi dampak negatif lainnya yang kentara: Depresi perekonomian dan korban jiwa yang mengakibatkan berkurangnya tenaga kerja yang tersedia. Milanovic (2016) menyebut dua faktor tersebut sebagai faktor yang mematikan.

Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia pada awal tahun 2020 memberikan dampak negatif terhadap ekonomi dunia, termasuk Indonesia. Akan tetapi, selalu ada hikmah dari kesulitan yang diakibatkan oleh Pandemi ini.

Menurunnya ketimpangan ekonomi adalah salah satunya jika kita merujuk pada temuan historis para ahli ketimpangan. Jumlah korban meninggal akibat wabah hitam di abad ke-14 dan Flu Spanyol pada tahun 1918 turut menaikkan harga upah pekerja karena berkurangnya jumlah tenaga kerja yang tersedia. 

Dari temuan historis yang ada, perlu rasanya untuk membayangkan bagaimana dampak pandemi Covid-19 terhadap ketimpangan di Indonesia.

Bagaimana Pandemi Covid-19 memengaruhi masyarakat Indonesia?

Bagi pekerja yang upahnya tidak dibayar secara rutin, pandemi memberikan dampak negatif yang cukup telak terhadap pendapatan mereka. Penjaja makanan keliling dan pengusaha rumah makan akan menghadapi sepinya permintaan dibandingkan masa sebelum pandemi. Pengusaha rumah makan yang berlokasi di pusat perkantoran akat sangat terpukul karena sebagian besar pekerja kantoran dipekerjakan dari rumah.

Tidak hanya penjual makanan, pengemudi online yang mengantarkan makanan turut menghadapi kondisi ini. Selain sepinya permintaan mengantarkan makanan, mereka juga turut menghadapi lesunya permintaan jasa transportasi. Di wilayah perkotaan, pekerja kantoran adalah kontributor utama permintaan makanan dan jasa transportasi.

Di lain sisi, pemilik modal juga mengalami kerugian dengan jumlah yang tidak sedikit. Menurunnya permintaan diiringi dengan keharusan untuk membayar upah para pekerja yang tersedia akan terus menggerus modal yang mereka miliki di perusahaan tersebut. 

Purchasing Managers’ Index Indonesia, suatu indeks yang menggambarkan kondisi produksi sektor manufaktur, mengalami penurunan dari 51.9 di bulan Februari 2020 menjadi 45.3 di bulan berikutnya.

Kerugian yang mereka alami turut datang dari tren negatif yang ditunjukkan pasar keuangan. Tidak dipungkiri sebagian kekayaan yang dimiliki penduduk terkaya di Indonesia berbentuk aset finansial.

Indeks Harga Saham yang cenderung fluktuatif memberikan sinyal tidak pasti mengenai keputusan yang harus mereka ambil. Pergerakan nilai tukar rupiah yang cenderung terus mengalami depresiasi terhadap dollar turut memperparah nilai portofolio yang mereka miliki saat ini.

Jika para pemilik modal memiliki kewajiban dalam wujud nilai tukar asing, kondisi nilai tukar rupiah saat ini akan sangat membebani. Pada saat ini, perilaku forward looking tentu bukanlah pilihan yang tepat mengingat ketidakpastian yang menyelimuti perekonomian nasional.

Siapa yang paling terdampak dan bagaimana ketimpangan ekonomi di Indonesia selanjutnya?         

Secara umum, pandemi ini menghantam dua kalangan di masyarakat, yaitu pekerja lepas dan pengusaha UMKM dan para pemilik modal di satu sisi. Buruh kerah biru di sektor swasta juga terpengaruh dari ancaman pemecatan.

Untuk melihat pihak yang terkena dampak terparah, perlu dilihat kontribusi mereka terhadap beberapa dimensi pengukuran kesejahteraan. Saya akan memperlihatkan tiga dimensi yang cukup relevan, yaitu kekayaan rumah tangga dan jenis pekerjaan kepala rumah tangga. 

Kekayaan adalah nilai total dari pendapatan (upah ataupun modal) dan kepimilikan aset. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Leigh & van der Eng (2010), kelompok persentil tertinggi memiliki 29 persen total kekayaan di Indonesia. 

Hasil studi Piketty & Goldhammer (2014) menemukan bahwa persentase pendapatan kelompok persentil tertinggi adalah 12 persen pendapatan nasional. Mengelaborasikan dua hasil studi tersebut dapat disimpulkan bahwa sumber kekayaan terbesar kelompok 1 persen rumah tangga terkaya di Indonesia adalah kepemilikan modal, baik berupa aset finansial ataupun real estate.

Merujuk kembali studi yang dilakukan oleh Leigh & van der Eng (2010), 65 persen kekayaan nasional dimiliki oleh kelompok 10 persen rumah tangga terkaya di Indonesia. Angka tersebut menunjukkan bahwa penghuni kelompok ini rata – rata memiliki jumlah kekayaan 6.5 kali daripada jumlah kekayaan rata – rata yang dimiliki seluruh penduduk Indonesia. 

Meskipun mayoritas sumber kekayaan penduduk terkaya di Indonesia berupa kepemilikan modal, guncangan sektor keuangan yang saat ini melanda Indonesia tidak serta merta memberikan dampak besar terhadap kekayaan yang mereka miliki. Berdasarkan laporan World Bank (2019), mayoritas kepala rumah tangga di kelas pendapatan atas berprofesi sebagai pekerja.

Dengan kata lain, kelompok penduduk terkaya Indonesia dihuni oleh pekerja berpenghasilan tinggi yang turut mengakumulasi modal. Dapat dikatakan mereka adalah pekerja dengan predikat supermanagers yang jumlahnya di kelompok desil terkaya semakin meningkat (Piketty & Goldhammer, 2014).

Penduduk kelas menengah dan pekerja yang memiliki pendapatan rutin tidak akan terkena dampak yang besar dari eksistensi pandemi ini. Namun, jumlah mereka tidaklah banyak.

Menurut data Survey Angkatan Kerja Nasional Agustus 2019, hanya 28 persen pekerja yang mengaku memiliki penghasilan rutin bulanan. Hilangnya potensi penghasilan yang dialami pekerja lepas dan pengusaha UMKM tentu akan menghasilkan dampak negatif kumulatif yang besar terhadap keseluruhan pendapatan nasional daripada yang dirasakan penduduk kelas atas.

Kontribusi penduduk kelas menengah kebawah terhadap pendapatan nasional akan mengecil dan akan memperkecil kue perekonomian nasional karena jumlah penduduk di kelompok ini adalah yang terbesar dibanding kelompok lainnya. Penduduk kelompok terkaya akan merasakan berkurangnya kue yang mereka miliki, namun tidak sebanyak penduduk kelas menengah ke bawah.

Hal ini menjadikan kontribusi relatif penduduk kelas menengah ke atas dan kelompok terkaya meningkat, meskipun kue perekonomian mengecil. Secara kesimpulan, ketimpangan akan meningkat bukan karena perbesaran kue ekonomi Indonesia, melainkan karena nilai perekonomian Indonesia yang akan cenderung berkurang.

Tentu saya tidak akan membayangkan ketimpangan menurun karena jumlah tenaga kerja di Indonesia tidak akan berkurang drastis. Pandemi ini akan secepatnya berhenti dan tidak akan membunuh penduduk Indonesia sebanyak mungkin.

Referensi                                 

  • Leigh, A., & van der Eng, P. (2010). Top Incomes in Indonesia, 1920 - 2004. In A. B. Atkinson & T. Piketty (Eds.), Top Income: A Global Perspective (pp. 171–219). Oxford University Press. https://doi.org/10.1007/s13398-014-0173-7.2
  • Milanovic, B. (2016). Global inequality: a new approach for the age of globalization. Harvard University Press. https://doi.org/10.1007/s11127-016-0390-z
  • Piketty, T., & Goldhammer, A. (2014). Capital in the Twenty-First Century. Harvard University Press.
  • World Bank. (2019). Aspiring Indonesia—Expanding the Middle Class. In Aspiring Indonesia—Expanding the Middle Class. https://doi.org/10.1596/33237