Tahun 2014 lalu, serial Cosmos-nya Carl Sagan diproduksi ulang oleh 20th Century Fox. Kali ini yang menjadi naratornya adalah Neil deGrasse Tyson, dan judul serialnya berubah dari Cosmos: A Personal Voyage menjadi Cosmos: A Spacetime Odyssey.

Premis acaranya masih sama: eksplorasi teori-teori ilmiah tentang alam semesta beserta seluruh isinya. Tujuannya masih sama pula: mengajak penonton menyadari bahwa mereka merupakan bagian dari misteri alam semesta dan bahwa satu-satunya metode yang paling tepat untuk menjawab misteri tersebut adalah metode yang telah disediakan oleh sains.

Bagi anda yang belum tahu, serial Cosmos bikinan Carl Sagan ini merupakan serial televisi bertema sains pertama yang sukses besar. Serial ini diganjar penghargaan Emmy dan Peabody, telah disiarkan di lebih dari 60 negara di dunia, dan konon telah ditonton oleh sekitar 500 juta orang.

Namun kesuksesan sesungguhnya dari serial Cosmos bukan terletak pada kesuksesan komersialnya. Lebih penting lagi: serial ini membuat puluhan ribu anak-anak Amerika yang menontonnya menjadi lebih tertarik pada sains. Bahkan banyak di antara mereka yang berniat meneruskan karir mereka sebagai saintis. Salah satu dari puluhan ribu anak tersebut, ya, Neil deGrasse Tyson sendiri.

“Puluhan ribu anak berniat meneruskan karir sebagai saintis”. Sungguh tidak mengherankan jika Amerika Serikat (bersama beberapa negara maju lainnya) saat ini sudah bisa mengirim rover ke planet Mars, mendesain ponsel pintar, dan para ilmuwannya paling banyak memenangkan penghargaan Nobel.

Saya pribadi selalu merasa bahwa negara-negara yang progress ilmu pengetahuannya paling tinggi biasanya menjadi negara yang makmur dan sejahtera. Tentu saja, pernyataan ini perlu diteliti lebih jauh (karena bisa jadi perkembangan ilmu pengetahuan negara-negara tersebut tinggi karena mereka merupakan negara yang makmur secara ekonomi, bukan sebaliknya). Tapi kalau kita lihat secara sepintas indikator kemajuan iptek suatu negara, maka jangan heran kalau negara yang ipteknya maju, biasanya maju pula di dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya.

Nah, bagaimana negara tercinta kita, Indonesia?

Sudah bukan rahasia lagi kalau masyarakat Indonesia bukanlah masyarakat yang terlampau saintifik. Penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2012 menunjukkan bahwa kemampuan murid-murid SMP Indonesia di dalam bidang sains dan matematika berada di urutan kedua paling bawah dari 65 negara yang dites.

Sebetulnya tidak perlu tes atau survey yang terlalu njelimet. Kita bisa lakukan survey kecil-kecilan: tanya setiap siswa yang berniat melanjutkan studi ke perguruan tinggi “apa sih motif kamu melanjutkan studi ke universitas?” Saya jamin nggak bakalan ada di antara mereka yang menjawab: “soalnya saya ingin mencari jawaban final tentang alam semesta: dari mana kita berasal, kenapa alam semesta tercipta, dan apa makna eksistensi kita di dunia”. Kalaupun ada yang menjawab seperti itu, dia pasti sudah dianggap aneh oleh teman-temannya sesama mahasiswa baru.

Pertanyaannya kemudian: kenapa minat siswa-siswa kita terhadap persoalan-persoalan saintifik begitu rendah, sedangkan minat siswa-siswa di AS terhadap sains begitu tinggi? Kenapa ada masyarakat yang kultur saintifiknya mapan, sedangkan di sisi lain ada kelompok masyarakat yang disuruh baca National Geographic saja ogah-ogahan?

Hipotesa saya sederhana: tinggi-rendahnya kultur saintifik suatu masyarakat ditentukan oleh seberapa besar tingkat keterpaparan mereka terhadap persoalan-persoalan saintifik. Puluhan ribu anak yang saya sebut di atas menjadi tertartik pada sains karena serial Cosmos berhasil memaparkan persoalan-persoalan sains kepada mereka dengan cara yang populer dan menarik. Jadi, kata kunci untuk membangun masyarakat dengan kultur saintifik yang kuat itu sederhana: tingkat keterpaparan terhadap persoalan saintifik.

Sekarang pertanyaannya: bagaimana cara meningkatkan keterpaparan masyarakat terhadap persoalan-persoalan saintifik? Jawabannya: saya tidak tahu. Tapi saya sangat percaya bahwa pada dasarnya manusia merupakan makhluk yang ingin mencari jawaban. Sejak dilahirkan ke dunia, setiap individu pasti punya rasa ketertarikan terhadap realitas yang ia hadapi sehari-hari. Jadi, secara naluriah, manusia pada dasarnya sudah terpapar dengan persoalan-persoalan saintifik dan sudah secara naluriah pula tertarik dengan persoalan-persoalan tersebut.

Yang saya tahu pasti adalah penyebab mengapa ada sebagian kelompok masyarakat yang minat sains-nya begitu rendah: di dalam tubuh masyarakat tersebut terdapat sebuah institusi kebudayaan yang merepresi tingkat keterpaparan masyarakat terhadap sains. Institusi kebudayaan tersebut bernama agama.

Agama, baik sebagai institusi maupun sebagai way of life, membuat orang-orang menjadi apatis terhadap persoalan-persoalan sains dan membuat tujuan hidup mereka menjadi lebih dangkal. Misalnya: “hidup kaya raya lalu mati masuk surga”.

Tidak percaya? Bandingkan dua situasi berikut: seorang anak yang tidak pernah diajarkan dogma-dogma agama sepanjang hidupnya tentu akan lebih penasaran dan terpesona dengan realitas di sekelilingnya: bintang-bintang di angkasa, kematian sanak saudara, atau sekedar eksistensi dirinya sendiri. Rasa penasaran dan keterpesonaan ini tentu akan berkurang jika sedari kecil seorang anak telah disuapi jawaban-jawaban fiktif seperti: langit terdiri dari tujuh lapis, di mana di lapis terakhir terdapat tempat tinggal tuhan dan para malaikat, setelah mati orang-orang akan pergi ke surga/neraka, atau bahwa seluruh alam semesta tercipta berkat sebaris kalimat “kun fayya kun”.

Manusia pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk merasa takut dengan segala hal yang tidak bisa ia ketahui. Agama, sebagaimana mitologi, berupaya memberikan solusi berupa jawaban-jawaban yang artifisial dan reassuring.

Masih kurang yakin kalau agama membuat kita menjadi lebih bodoh dan dangkal? Coba baca paper ini: http://bit.ly/2dMBGwP. Setidaknya sudah ada 63 penelitian ilmiah selama puluhan tahun terakhir yang mengkoroborasikan hipotesa saya yang gegabah ini.

Jadi, sebagai kesimpulan: masyarakat dengan kultur saintifik yang mapan dibangun dengan cara meningkatkan keterpaparan masyarakat terhadap persoalan-persoalan sains. Langkah awalnya adalah sekularisasi: jauhkan para pelajar dan anak-anak dari jawaban-jawaban religius yang bersifat fiktif, dogmatis, dan tidak bertanggung jawab.