Pulau Bintan adalah pulau terbesar di Kepulauan Riau diantara 5 pulau besar lainnya yakni Pulau Batam, Pulau Karimun, Pulau Anambas, Pulau Lingga, dan Pulau Natuna, dimana wilayah ini memiliki 2 daerah administratif yakni Kota Tanjungpinang sebagai ibukota Kepulauan Riau dan Kabupaten Bintan. 

Sejarawan Sartono Kartodirjo menuliskan bahwa dalam tinjauan sejarah melayu, Bintan dahulu kala dijuluki dengan sebutan ''Segatang Lada". Hal tersebut menggambarkan betapa banyaknya pulau kecil yang tersebar mengelilingi pulau ini.

Bintan dalam Awal Perjalanan Sejarah

Telah tercatat dalam sejarah jauh sebelum Kerajaan Melayu seperti Singapura, Melaka, Johor, Riau dan Siak Indrapura berdiri, di Pulau Bintan pernah muncul kerajaan yang disebut dengan Bentan. 

Kata Pulau Bentan sendiri diambil dari kata Gunung Berintan yang lambat laun berubah menjadi Gunung Bentan dan hingga kini dikenal dengan kata Bintan. Kerajaan Bintan pada awalnya berkaitan erat dengan konteks sejarah Kerajaan Malaka, dimana pada kurun waktu 1396-1511, Bintan merupakan wilayah yang berada dibawah naungan kerajaan tersebut.

Wilayah perairaran Malaka yang strategis bagi perdagangan dan pelayaran kemudian menarik bangsa Eropa untuk menguasai wilayah ini, sehingga pada tahun 1511 orang-orang Portugis dibawah pimpinan Alfonso de Alburquerque kemudian menyerang Malaka yang pada saat itu dipimpin oleh Sultan Ahmad. 

Pusat ibukota Malaka kemudian berhasil dikuasai oleh Portugis, sehingga Sultan Ahmad melarikan diri dan memindahkan pusat pemerintahan kerajaan Malaka ke Pulau Bintan. 

Namun pasca berpindahnya pusat pemerintahan ini, intrik yang terjadi di dalam tubuh kerajaan sendiri justru menyebabkan terbunuhnya Sultan Ahmad. Setelah meninggal, Sultan Ahmad kemudian dimakamkan di Bukit Batu dan digantikan oleh Sultan Mahmud. 

Pada tahun 1526, Portugis kembali melakukan serangan dengan mengirimkan armada lautnya ke Pulau Bintan. Pasukan Portugis saat itu dipimpinan oleh Pedro Maskarenhaas, mendatangkan angkatan perang dari Goa (India) menggempur habis-habisan Pulau Bintan. Sultan Mahmud dan Laksamana Hang Nadim mengatur pertahanan yang kokoh di daerah Kopak dan Kota Kara. 

Portugis kemudian mengerahkan seluruh pasukan dan persenjataannya untuk menggempur Kota Kara. Dalam pertempuran ini pasukan Sultan Mahmud berguguran dan Hang Nadim terluka, akhirnya Bintan pun berhasil ditaklukkan Portugis.

Kontestasi Masyarakat Melayu dengan Orang-Orang Eropa

Persaingan dalam memperebutkan wilayah disekitar Bintan dikalangan orang-orang Eropa menimbulkan banyaknya intrik yang terjadi pada kerajaan-kerajaan Melayu. Inggris dan Belanda yang pada saat itu adalah pesaing dagang dari Portugis, berusaha mengusirnya dari Semenanjung Malaka. 

Pada tanggal 14 Januari 1641, Belanda yang didukung Johor dan Aceh berhasil merebut Malaka dari tangan Portugis. Selepas kemenangan itu pada tahun 1677 keturunan-keturunan dari Sultan Mahmud Malaka kemudian membentuk persekutuan kerajaan Melayu yang berdaulat, yaitu kerajaan Johor-Pahang-Riau-Lingga yang berpusat di Daik. 

Awal persekutuan ini dipimpin oleh Sultan Ibrahim Syah (1677-1685), yang membuka hulu sungai Carang, dimana kemudian jalur ini digunakan sebagai jalur keluar masuknya komoditi Lada dan Timah dari Bintan. Kekuasaan lalu digantikan oleh anaknya yaitu Sultan Mahmud Syah (1685-1699). 

Pergantian ini menimbulkan konflik didalam tubuh persekutuan kerajaan tersebut. Tepat di usia yang ke 24 tahun, Sultan Mahmud Syah dibunuh oleh hulubalangnya yang bernama Megat Sri Rama (Laksmana Bentan). Kekuasaan kemudian digantikan oleh Bendahara Tun Abdul Jalil yang kemudian memindahkan kembali pusat pemerintahannya ke Johor. 

Intrik politik terus terjadi di lingkup internal kerajaan, hingga pada tahun 1718, Raja Kecil dari Siak, menentang pemerintahan Sultan Johor yang dipimpin oleh Tun Abdul Jalil. Dia menyatakan diri sebagai keturunan dari Sultan Mahmud Syah dan berusaha menggulingkan kekuasaan Sultan. 

Upaya merebut kekuasaan ini mendapat dukungan dari beberapa Zuriat Melayu (pembesar/bangsawan), diantaranya Melayu Minangkabau, dan Suku Laut. Raja kecil melancarkan serangan ke Johor dan berhasil membunuh Tun Abdul Jalil. 

Terbunuhnya Tun Abdul Jalil menyebabkan dendam di hati anaknya yaitu Raja Sulaiman. Ia kemudian meminta bantuan kepada Opu Bugis Lima Bersaudara yakni Daeng Parani, Daeng Marewah, Daeng Chelak, Daeng Menambung, dan Daeng Kemasi untuk menyerang Raja Kecil. 

Perangpun terjadi antara Pasukan Raja Sulaiman melawan pasukan Raja Kecil di Bintan dan Siak. Raja Kecil berhasil dikalahkan dan Raja Sulaiman diangkat dan dinobatkan sebagai Sultan Johor. Dia kemudian memindahkan pusat Kerajaan Johor kembali ke Bintan. 

Peristiwa tersebut menjadi periode Sejarah baru karena untuk pertama kalinya terbentuk suatu jawatan bergelar Yang Dipertuan Muda atau Yamtuan Muda. Gelar ini diberikan sebagai ungkapan terima kasih kepada Opu Bugis Lima yang telah membantu mengalahkan Raja Kecil. Orang-orang Bugis kemudian diikutsertakan dalam menjalankan pemerintahan, dari sinilah terjadi akulturasi budaya Melayu dengan Bugis dalam sejarah Melayu Bintan.

Perjuangan Raja Ali Haji Filsabillilah dalam Mempertahankan Kedaulatan Melayu

Setelah hegemoni Portugis benar-benar disingkirkan dari semenanjung Malaka, Belanda dan Inggris yang tadinya bekerjasama, akhirnya justru terlibat persaingan dalam hal penguasaan jalur perdagangan di wilayah ini. Puncak perseteruan terjadi ketika Belanda secara sepihak menawan kapal Betsy kepunyaan Inggris. 

Kapal Betsy yang pada saat itu dinahkodai oleh Kapten Robert Geddes membawa 1,154 peti candu. Residen Belanda di Riau, Gerrid Pangal mendapati kapal tersebut sedang berlabuh di Pulau Bayan, sehingga melaporkannya kepada Gubenur Melaka, Pieter Geradus de Bruijn (1777-1788). Bruijn kemudian memerintahkan untuk menawan dan merampas isi dari kapal tersebut karena Inggris dianggap telah melanggar kesepakatan. 

Penawanan kapal Betsy oleh Belanda ini ternyata tidak melibatkan Yamtuan Muda Raja Haji sebagai otoritas lokal yang ditunjuk oleh kesultanan Johor. Atas kejadian ini Raja Haji kemudian mendatangi pihak Belanda untuk merundingkan perkara tersebut. 

Perundingan yang dilakukan mengalami kegagalan dan Belanda tersinggung atas sikap Raja Haji yang dianggap memihak kepada Inggris. Atas ketersinggungan ini Belanda kemudian melakukan penyerangan ke Pulau Penyengat pada 6 Januari 1784. 

Namun Belanda gagal dan Raja Haji berhasil memukul mundur pasukan Belanda. Pada 13 Februari 1784, Raja Haji yang mendapat bantuan dari kerabatnya yaitu Sultan Selangor untuk menyerang balik Belanda di Malaka. Saling serang antara kedua pihak terjadi diperairan Bintan hingga Malaka. 

Lancang Kuning sebagai kapal kebanggaan masyarakat Melayu mampu berdiri gagah menghadapi terjangan meriam dari kapal-kapal Belanda. Puncak perseteruan ini berakhir ketika Raja Haji wafat di medan laga pada tanggal 18 Juni 1784 sehingga sebagai penghormatan untuk perjuangan beliau, masyarakat Melayu memberikannya gelar Filsabillilah. 

Perlawanan dan keberanian yang dilakukan oleh Raja Haji terhadap orang Eropa kemudian memicu perlawanan sultan-sultan dan Zuriat (bangsawan) Melayu lainnya seperti Siak, Selangor, Perak, dan Pahang. Untuk menghindari kerugian dan jatuhnya banyak korban, Inggris dan Belanda kemudian mengadakan kesepakatan pada tahun 1824. 

Kesepakatan tersebut dikenal dengan nama Traktat London, yang berisi tentang pembagian kawasan koloni sesuai dengan pengaruhnya masing-masing. Dalam penentuan wilayah disepakati bahwa seluruh kawasan di bawah wilayah Singapura merupakan pengaruh Belanda dan wilayah yang terletak di atas Singapura berada di bawah pengaruh Inggris. 

Pembagian wilayah ini menyebabkan Kerajaan Johor terpecah hingga saat ini. Johor sendiri kemudian menjadi koloni Inggris yang saat ini menjadi salah satu bagian dari negara Malaysia dan Bintan menjadi koloni Belanda yang kemudian menjadi bagian dari Republik Indonesia.

Dari kisah sejarah ini, dapat disimpulkan bahwa Melayu Bintan adalah masyarakat yang teguh dalam pendiriannya. Mereka tidak mau dianggap rendah oleh bangsa lain. Sikap inilah yang harus ditiru oleh generasi penerus bangsa dimana Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sejajar dengan bangsa lain. Kita harus menunjukkan bahwa kita mampu menjadi bangsa yang unggul dan berprestasi.

Daftar Pustaka

Aeksalo, Raja Matridi, 2014. Sejarah Kerajaan Bintan dan Sejarah Kerajaan Riau. Tanjungpinang: STISIPOL Raja Ali Haji Press.

Buyong, Adil, 1971. Sejarah Johor. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Syahri, Aswandi, 2006. Kerajaan Johor-Riau-Lingga-Pahang. Provinsi Kepulauan Riau: Dinas Pariwisata Seni dan Budaya.

Zakaria Abdullah, 2009, Johor dan Kepulauan Riau: Berlainan Negara tapi Bersaudara. Kuala Lumpur: Fakultas Sastra dan Sains Sosial Universtas Malaya.