Isu nyata globalisasi di segala bidang kehidupan manusia sudah pasti menjadi hulu mengalirnya latarbelakang ditulisnya pengalaman ini. Seakan isu abadi yang ikut mewahanakan arus suksesi kemajuan Iptek. Akses tanpa batas untuk berbagai kepentingan, baik download maupun upload. Isu Adu Domba, Proxy War dan Terorisme telah menjadi menu tampilan keseharian di berbagai media cetak dan media elektronik dan semakin mempertajam ketidakjelasan siapa teman dan siapa kawan. 

Di sisi lain gencarnya program perang melawan Narkoba secara signifikan pula belum dibarengi dengan menurunnya angka pengguna, penyalahgunaan walaupun pelaksanaan eksekusi mati telah direalisasikan. Kemudian, Undang-undang penolakan terhadap Traficking, Lgbt, Budaya Barat dan Pedofilia menjadi sesuatu yang belum mampu menakut-nakuti dan membuat jera para pelakunya, bahkan angka kasus kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur terus melambung.

Tantangan inilah yang harus menjadi momentum bagi kita (guru dan siswanya) dalam memperbaiki dan menentukan nasib zaman melalui generasi penerus bangsa untuk menjadi generasi yang Notonegoro. Tugas pokok guru dalam pembelajaran baik di dalam maupun luar sekolah adalah menanamkan nilai-nilai luhur dan karakter agar tujuan Pendidikan seumur hidup (Life Long Education) dapat dirasakan secara nyata. 

Pada kesempatan ini sudilah kiranya kami, lewat beberapa pemikiran dan tindakan, akhirnya muncullah sebuah inisiatif berbagi pengalaman mengajar, pengalaman mendidik pelajar dan tantangan pelestarian pengalaman itu sendiri sehingga mampu memecahkan berbagai permasalahan yang tersebut di atas.

Mari kita simak bersama-sama.

Pembahasan

Menganalisa semua tantangan dan hambatan yang ada di halaman sebelumnya yang sangat erat kaitannya dengan merosotnya nilai-nilai luhur Pendidikandalam kehidupan nyata sehari-hari yang diakibatkan telah lunturnya nilai-nilai karakter bangsa seperti gotong-royong, bekerja sama, toleransi, menyayangi sesama manusia dan lain-lain yang sebenarnya telah lama mengalir dalam darah manusia Indonesia sejak zaman megalitikum sampai zaman keemasan Mojopahit.

Sekarang kalau kita mau jujur, bahwa nilai-nilai luhur tadi kini kembali tersurat pada beberapa SKL dan KD di semua mata pelajaran termasuk pembelajaran Bahasa dan Sastra Inggris. Hubungan nilai-nilai karakter bangsa tersebut dengan yang termaktub dalam Kurikulum 13 melalui konten KI, KD semua mata pelajarannya ternyata bersinergi dengan nilai-nilai karakter bangsa yang telah termaktub dalam setiap level termasuk SMA/SMK. 

Perhatikan saja isi muatan kurikulum mata pelajaran Bahasa dan Sastra Inggris pada ranah KI dan KD 1 sampai 4 sebagai kompetensi religius, sosial, pengetahuan dan ketrampilan dapat dibreakdown menjadi bebeapa karakter seperti mensyukuri, semangatsantunpedulijujur, disiplin, percaya diri, bertanggung jawab, kerjasama, dan cinta damai

Semua nilai-nilai luhur tersebut harus diaktualisasikan secara integrasi dalam melaksanakan komunikasi fungsional seperti dialog dan monolog baik lesan maupun tulisan.

Kata-kata yang tercetak tebal di atas adalah beberapa kata kunci-kata kunci yang tak lain adalah nilai-nilai luhur sebagai karakter manusia Indonesia yang jika hanya diaktualisasikan hanya melalui latihan baris-berbaris, perkemahan blok, yelling, permainan kode dan sandi pramuka atau kegiatan karakter building dengan intensitas kegiatan PBB yang tinggi, pastilah tidaklah cukup.

Karena terkadang hal itu belum mampu menjamin keberlangsungan dan kelestarian abadi dari aktualisasi nilai-nilai karakter itu sendiri. Sebab lain dari kurangnya peran guru dan tenaga pendidik bidang/mapel agama dan budi pekerti tidak berbuat banyak untuk menjamin pengamalan nilai dan karaker tadi.

Sebagai contoh ilustrasi kecil, bahkan dalam keadaan awam pun seorang manusia miskin, lapar mungkin lebih bisa belajar untuk berbuat baik, bersedekah kepada orang lain karena masih memiliki keimanan langsung kepada Allah dan hati, walaupun tanpa formalitas pembelajaran, PBB dan kedisiplinan. 

Tetapi apakah kita yakin tanpa kekayaan metodologi dan simulasi yang dilakukan guru bersama siswa, tergeraknya keimanan dan rasa kemanusiaan mampu berjalan di setiap langkah para terdidik di kehidupan ini?

Untuk menanamkan  pemahaman dan aktualisasi nilai-nilai tersebut perlu dukungan dan peran serta dari semua elemen mulai dari guru bidang studi Agama, Guru Seni dan Budaya, yang langsung memasukkan muatan pembinaan karakter tadi ke situasi di lapangan setelah melakukan beberapa refleksi awal dan refleksi akhir. Refleksi akhir adalah berupa sistem tergeraknya hati, keimanan dan urat-urat nadi dan syaraf motorik positif yang selalu berfikir, berkata, dan bertindak positif tanpa mengurangi kekayaan metodologi pembelajaran guru kepada siswa.

Walau demikian, beberapa permasalahan yang ada dalam merefleksikan pembelajaran ini, penulis menformulasikannya ke dalam dua macam permasalahan, yaitu:

  1. Apakah kegiatan refleksi lagu When The Children Cry pada pembelajaran mapel peminatan Bahasa dan Sastra Inggris betul-betul mampu  membangun Karakter Sadar siswa kelas XII-IPS untuk peduli kepada sesama terutama kepada anak yatim piatu?
  2. Dalam bentuk kegiatan apa kiranya sebagai tindak lanjut keterjaminan tergeraknya keimanan dan rasa kemanusiaan kepada Anak Yatim Piatu dapat direalisasikan secara periodik dan lestari?

Setelah dilakukan dua kali (4 X 45 menit) tatap muka, ternyata ada satu atau dua aktifitas yang mengalami hambatan. Hambatan-hambatan itu adalah bahwa walau tidak sedikit siswa yang menangis dan haru karena tampilan visual video lagu when the children cry, namun karena durasi menangisnya yang lama membuat langkah kegiatan pembelajaran selanjutnya menjadi sedikit terhambat.

Penyelesaian Masalah; Langkah-langkah 

Terdapat tiga macam modalitas belajar yang digunakan oleh seseorang dalam proses pembelajaran, yaitu pemrosesan informasi, dan komunikasi (DePorter, dkk, 2000) sehingga supaya hambatan-hambatan yang tersebut di atas dapat diminimalisir maka refleksi lagu when the children cry harus mengakomodir beberapa kondisi sebagai berikut, yaitu :

Rancangan atau setting tempat dan waktu.

Dipilihlah siswa dan siswi di kelas XII-IPS 1 di SMAN 2 Kota Mojokerto sebagai subyek pemrosesan kegiatan refleksi lagu dikarenakan KBM Semester genap tahun pelajaran 2017/2018 yang telah dimulai sejak minggu ke dua bulan Januari 2018 dan dipilihlah tanggal 21 sampai 26 Maret 2018 pada jam-jam KBM selama pengayaan materi pada KD terakhir di semester 2 dan pemantapan materi sampai sore hari jam 14.30. 

Hal itu dilakukan karena dianggap menjadi waktu yang efisien menjelang persiapan Ujian Nasional tanggal 4 April 2018 disamping menjadi momen awal yang penting untuk memotivasi dan menyiapkan mental siswa untuk berjuang mencapai kelulusan. Jumlah siswa laki-laki dan perempuan kelas XI-IPS 1 adalah sebanyak 30.

Dengan rancangan waktu inilah penulis merasa yakin bahwa hasil dari refleksi lagu when the children cry setidaknya memberikan arah kebijakan positif bagi siswa serta nantinya dapat diketahui seberapa jauh jiwa sosial dan rasa kepedulian terhadap sesama.   

Kondisi 31 siswa-siswi di kelas XI- IPS 1  ini sangat beragam dengan latar belakang sosial-ekonomi siswa yang mayoritas orang tuanya memiliki tingkat kesejahteraan yang bervariasi. Motivasi belajar yang variatif pula yang menyebabkan proses, cara dan hasil refleksi nanti akan tetap diharapkan mampu mempengaruhi perilaku individu secara positif.

Ketepatan Pemilihan KD 3 dan KD 4 dalam merancang RPP

Untuk menjawab tantangan zaman seperti bagaimana rasa keimana dan kemanusiaan dapat berjalan penuh khidmat, maka refleksi melalui lagu ini memposisikan kompetensi dasar (KD) tertentu seperti pada KD 3.16 dan 4.20 sebagai bahan analisa yaitu sebagaimana berikut:

  1. KD 3.16: Menganalisis fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan dari lagu, sesuai dengan konteks penggunaannya.
  2. KD 4.20 : Menangkap makna lirik lagu

Pemilihan jenis file audio (lagu) dan video (film pendek)

Pemilihan lagu when the children cry menjadi bahan ajar yang mudah di download dari internet. Alasan dipilihnya lagu ini karena profil-profil kontennya memiliki spesifikasi sebagai berikut:

  1. Konten lirik lagu yang mengundang haru dan sedih

Little child dry your crying eyes
How can I explain the fear you feel inside
Cause you were born into this evil world
Where man is killing man and no one knows just why
What have we become just look what we have done
All that we destroyed you must build again
CHORUS
When the children cry let them know we tried
Cause when the children sing then the new world begins
Little child you must show the way
To a better day for all the young
Cause you were born for all the world to see
That we all can live with love and peace

*****

No more presidents and all the wars will end
One united world under God

BACK TO CHORUS
******

What have we become just look what we have done
All that we destroyed you must build again
No more presidents and all the wars will end
One united world under God

BACK TO CHORUS

When the children cry let them know we tried
When the children fight let them know it ain't right
When the children pray let them know the way
Cause when the children sing then the new world begins

http://lirik.kapanlagi.com//artis/white_lion/when_the_children_cry

Setelah di download secara gratis, maka perlu adanya pemaknaan dasar yang bisa di donwnload atau didiskusikan dulu pada proses pembelajaran sehingga lebih mengena sebelum kemudian siswa mampu menangkap makna dari isi atau kandungan lagu tersebut sebagaimana tampilan download arti lirik lagu pada gambar 1.3. 

File video anak terlantar atau sejenisnya yang bisa di download di www.youtube.com yang tampilannya bisa dilihat pada gambar 1.2 yang difungsikan sebagai wahana dan bahan ajar visualisasi.

Tahap Pengamatan dan Penilaian. 

  1. Tahap terakhir adalah melakukan pengamatan. Tahap pengamatan ini dibagi menjadi dua:
  2. Pengamatan proses refleksi terhadap lagu seperti permintaan untuk diputarkan lagi, permintaan kopi file, menangis lagi dan lain-lain akan selalu dinantikan dalam tahap refleksi. Melalui proses refleksi ini diharapkan setelah berakhirnya proses pembelajaran, siswa mampu mengaktualisasikan nilai-nilai luhur atau nilai karakter seperti cinta sesama, kasih sayang, peduli, tolong-menolong, Karakter Sadar bersedekah dan lain-lain yang tentu saja terhadap pembelajaran nyata dalam kehidupan bermasyarakat.
  3. Hasil refleksi atau tindak lanjut berupa:
  4. Penjadwalan turun jalan untuk memberi santunan kepada anak-anak gelandangan di daerah terdekat
  5. Gerakan sedekah ke panti asuhan / Panti anak yatim piatu terdekat.
  6. Pada poin c ini, tidak diperlukan lagi instrumen penilaian akan tetapi cukup dengan dokumentasi. Contoh penjadwalan aksi turun jalan bersedekah dan  gerakan menyantuni anak yatim piatu dapat dicermati di tabel 1.1 pada halaman daftar tabel.

Hasil Yang Dicapai

  1. Hasil pengamatan tahap a dan b akan mencakup nilai berupa angka atau deskripsi. Setelah melihat hasilnya ternyata dari 30 siswa terdapat 24 siswa yang memperhatikan dengan ekspresi sedih, 5 siswa yang memperhatikan tetapi tanpa ekspresi dan hanya ada 1 siswa yang kurang memperhatikan karena faktor ngantuk dan tidak siap. Dapat disimpulkan bahwa prosentase jumlah siswa yang mampu menunjukkan sikap peduli dan memperhatikan dengan ekspresih sedih, bahkan meneteskan air mata dan menangis sendu adalah sebesar 85,38 % (persen). Lembar pengamatan tahap a dan b dapat dilihat pada tabel 1.1 di halaman lampiran.
  2. Kemudian pada tahap c, akan terdokumentasikan secara normatif dan dapat dijadikan rujukan bagi gerakan sedekah desa (sebagaimana pada gambar 1.10 di halaman daftar gambar), atau gerakan sedekah kota bahkan menjadi inspirasi terciptanya HARI SEDEKAH NASIONAL.

KESIMPULAN DAN HARAPAN

Melihat beberapa temuan dalam proses pengamatan dan penilaian, ternyata bisa disimpulkan bahwa melalui refleksi lagu when the children cry dalam mengaktualisasikan nilai-nilai yang terdapat dalam Pendidikankepramukaan telah mampu membawa perubahan luar biasa pada sikap normatif dan menciptakan tingkah laku positif berupa Karakter Sadar bersedekah dan tentu saja pada perbaikan pencapaian hasil belajar berupa nilai kognitif, psikomotor dan terutama afektif.

Oleh karena itu, penulis benar-benar yakin bahwa masih banyak waktu untuk menerapkan serta menanamkan nilai-nilai luhur dan nilai karakter bangsa dengan muatan Pendidikankepramukaan pada era kurikulum 2013 ini. Metodologi refleksi lagu seperti ini dirasakan telah mampu mengakomodir beberapa kepentingan positif di dunia Pendidikandan bahkan hasil pengamatan akhir berupa Karakter Sadar bersedekah di daerah penulis harapannya mampu di inovasi dan di aktualisasikan ke daerah lainnya pada mata pelajaran apapun di jenjang atau level Pendidikanapapun.

Walaupun demikian, beberapa temuan yang masih perlu perbaikan dan membutuhkan mekanisme strategis dan lebih reflektif lagi yaitu dimungkinkannya pemerintah untuk mewujudkan metode refleksi lagu yang menginspirasi terciptanya Karakter Sadar bersedekah menjadi FUTURIOUS MENTAL REVOLUTION dengan skala yang lebih luas lagi yaitu manjadi inspirasi terciptanya HARI SEDEKAH NASIONAL untuk menghapus kemiskinan demi generasi emas INDONESIA di masa-masa yang akan datang.

Sekian terima kasih.


Daftar Pustaka